Berita

Ilustrasi KUHAP. (Foto: La Terase via Shutterstock)

Publika

Rekonstruksi Kontrol Yudisial atas Diskresi Penegak Hukum

Membaca Ulang Kewenangan Pengadilan Tinggi dalam Menguji Penghentian Penyidikan dan Penuntutan pada KUHAP Baru
MINGGU, 18 JANUARI 2026 | 09:00 WIB | OLEH: IRJEN POL. DR. UMAR S. FANA, S.H., S.I.K., M.H.*

HUKUM acara pidana sering kali dipersepsikan sebagai kumpulan tata cara yang kaku, teknis, dan administratif. Padahal, di sanalah denyut keadilan bekerja. Ia menjadi alat ukur bagaimana negara menggunakan kekuasaannya, sekaligus batas agar kekuasaan itu tidak melampaui nurani. Dalam pengertian ini, hukum acara pidana adalah cermin etika kekuasaan.
Selama puluhan tahun, KUHAP lama menempatkan praperadilan sebagai mekanisme kontrol atas tindakan aparat penegak hukum, khususnya dalam soal penangkapan, penahanan, penetapan tersangka, hingga penghentian penyidikan dan penuntutan. Namun kontrol itu berhenti di tingkat pertama. Putusan praperadilan bersifat final dan mengikat, seolah kebenaran yuridis hanya boleh lahir sekali, tanpa ruang koreksi.

KUHAP baru datang membawa perubahan penting: putusan terkait penghentian penyidikan dan penuntutan kini dapat diuji kembali di tingkat Pengadilan Tinggi. Ini bukan sekadar perubahan prosedur. Ia menandai pergeseran cara pandang -bahwa keadilan tidak selalu selesai di satu palu hakim.

Menggugat Finalitas: Dari Kepastian ke Keadilan Substantif

Menggugat Finalitas: Dari Kepastian ke Keadilan Substantif

Finalitas putusan praperadilan selama ini dibenarkan atas nama kepastian hukum. Logikanya sederhana: perkara tidak boleh berlarut-larut. Namun dalam praktik, kepastian tanpa ruang koreksi justru berpotensi melahirkan ketidakadilan yang dilembagakan. Hakim praperadilan bekerja dalam waktu singkat, dengan bahan terbatas, dan sering kali dihadapkan pada perkara yang kompleks. Risiko kekeliruan -baik dalam menilai fakta maupun menerapkan hukum- selalu ada. Ketika putusan tersebut bersifat final, maka kesalahan pun menjadi absolut.

Dengan membuka ruang pengujian ke Pengadilan Tinggi, KUHAP baru secara halus menggeser orientasi dari keadilan formal menuju keadilan substantif. Ada pengakuan bahwa kebenaran hukum perlu diuji secara berlapis, terutama ketika menyangkut nasib seseorang dan kepercayaan publik terhadap sistem peradilan.

Pengadilan Tinggi difungsikan sebagai lapisan korektif. Bukan untuk melemahkan hakim tingkat pertama, melainkan untuk memastikan bahwa diskresi penegak hukum -dan penilaiannya oleh hakim- benar-benar berdiri di atas argumentasi hukum yang kokoh.

Diskresi dalam Sorotan: Konsekuensi bagi Praktik Penyidikan

Perubahan ini membawa konsekuensi langsung bagi praktik penyidikan. Penghentian penyidikan tidak lagi bisa diperlakukan sebagai keputusan administratif semata. Ia menjadi kesimpulan hukum yang harus siap diuji, diperdebatkan, dan dipertanggungjawabkan hingga tingkat yang lebih tinggi.

Artinya, penyidik dituntut bekerja lebih rapi sejak awal. Kualitas gelar perkara, kedalaman analisis bukti, serta konsistensi argumentasi hukum menjadi kunci. Pendekatan serba formal dan pragmatis tidak lagi memadai. Penyidikan yang lemah akan terlihat telanjang ketika diuji berlapis di pengadilan.

Di titik ini, diskresi menemukan makna sejatinya. Diskresi bukan kebebasan tanpa batas, melainkan ruang memilih yang dibingkai oleh akal sehat hukum, etika profesi, danakuntabilitas. KUHAP baru memaksa diskresi kembali ke relnya -sebagai alat keadilan, bukan alat kenyamanan.

Implikasi Akademis: Mengajarkan Prosedur sebagai Etika

Perubahan hukum tidak akan bermakna jika tidak diikuti perubahan cara berpikir. Dunia pendidikan hukum -termasuk pendidikan calon penegak hukum-perlu merespons dengan serius.

Selama ini, pembelajaran sering terjebak pada orientasi hasil: bagaimana perkara naik, bagaimana tersangka ditetapkan, bagaimana berkas dinyatakan lengkap. KUHAP baru mengingatkan bahwa proses sama pentingnya dengan hasil. Bahkan, proseslah yang menentukan apakah hasil itu sah secara moral dan hukum.

Hukum pembuktian harus ditempatkan sebagai jantung pendidikan. Mahasiswa perlu dilatih membangun konstruksi perkara yang tahan uji, bukan hanya secara normatif, tetapi juga secara logis. Mereka harus terbiasa mempertanyakan: mengapa perkara dihentikan? Apa dasar hukumnya? Apakah argumentasinya cukup kuat jika diuji oleh hakim yang tidak terlibat sejak awal?

Di sinilah hukum acara bertemu dengan filsafat hukum. Prosedur bukan lagi sekadar “cara”, melainkan ekspresi nilai keadilan itu sendiri.

Catatan Kritis: Antara Harapan dan Tantangan

Sebagus apa pun desain normatifnya, implementasi selalu menyimpan tantangan. Pertama, soal waktu. Pengujian berlapis berpotensi memperpanjang ketidakpastian status hukum seseorang. Asas peradilan cepat dan sederhana harus tetap dijaga. Karena itu, diperlukan pengaturan teknis yang ketat mengenai batas waktu pemeriksaan di tingkat Pengadilan Tinggi.

Kedua, soal beban perkara. Pengadilan Tinggi akan menerima tambahan jenis perkara baru. Tanpa kesiapan sumber daya dan manajemen perkara yang baik, mekanisme korektif ini justru bisa menjadi hambatan baru.

Namun tantangan teknis tidak seharusnya menjadi alasan untuk mundur. Setiap kemajuan hukum selalu menuntut penyesuaian institusional. Yang terpenting, arah besarnya jelas: tidak ada kewenangan yang kebal uji.

Penutup: Menempatkan Keadilan di Atas Kenyamanan

Pengaturan baru tentang pengujian penghentian penyidikan dan penuntutan hingga ke Pengadilan Tinggi adalah tanda kedewasaan hukum kita. Ia menegaskan bahwa penegakan hukum bukan soal siapa yang paling berwenang, tetapi siapa yang paling bertanggung jawab.

Bagi penegak hukum, ini adalah ajakan untuk bekerja lebih jujur, lebih cermat, dan lebih rendah hati di hadapan hukum. Bagi dunia akademik, ini adalah ruang refleksi bahwa hukum bukan sekadar teks, melainkan praktik nilai.

Kita sedang bergerak dari logika kekuasaan menuju logika pelayanan keadilan. Di jalan ini, tidak ada lagi “kartu sakti”. Yang ada hanyalah argumen, bukti, dan keberanian untuk diuji. Dan justru di situlah martabat penegakan hukum menemukan tempatnya.

*) Penulis adalah Penyidik Utama Tingkat I Bareskrim Polri berpangkat Inspektur Jenderal, Dosen Utama Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK).

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

UPDATE

IPW Desak Transparansi Penegakan Hukum Kasus 1.048 Ton Udang Impor di Jatim

Minggu, 01 November 2026 | 01:50

Langkah Polisi Tangani Kasus Perusakan Warung Mi Babi Sukoharjo Diapresiasi Warga

Minggu, 01 November 2026 | 01:24

Polda Metro Siap Dikritik Buntut Penyelenggaraan Deklarasi Sumpah Pemuda 29 Oktober

Minggu, 01 November 2026 | 00:43

Ramai Logo Muncul di TIME100 Next Gala, Danantara Bantah Bayar Dana Sponsorship

Minggu, 01 November 2026 | 00:16

Pengurus Baru SAPMA PP DKI Jakarta Siap Berkolaborasi dengan Pemprov

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:47

Polisi Tangkap Pelaku Penembakan di Kampung Ambon, Ini Motifnya

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:17

Winda Marfita Pastikan Tak Terlibat Kasus Investasi PT MBS yang Dilaporkan Nur Istianti

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:57

Asrul Haruna Terpilih Sebagai Koorpresnas BEM PTMA Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:43

Rembuk Pemuda Himpun Aspirasi dari 29 Provinsi, Kukuhkan DPP Pertama

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:32

PPP Maluku Tolak Pemberhentian Agus Suparmanto-Taj Yasin

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:44

Selengkapnya