Berita

Ilustrasi (Artificial Intelligence)

Bisnis

Analis: Sentimen AI dan Geopolitik Jadi Penggerak Pasar Saham

SABTU, 17 JANUARI 2026 | 13:46 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar keuangan global sepanjang tahun ini diperkirakan akan digerakkan oleh tiga tema utama, yakni perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), memanasnya tensi geopolitik, serta risiko inflasi yang masih membayangi. Hal ini disampaikan Pengamat Pasar Modal Hans Kwee dalam wawancara di salah satu stasiun televisi nasional.

Hans menjelaskan, sentimen positif pasar global di awal tahun terutama datang dari saham-saham berbasis AI. Dampaknya terlihat jelas di Asia, khususnya Korea Selatan dan Taiwan, yang masing-masing mencatat kenaikan indeks sekitar 8 persen dan 4 persen. Kedua negara tersebut dinilai paling diuntungkan dari optimisme terhadap sektor AI.

Namun, pelaku pasar mulai bersikap lebih selektif. Investor kini cenderung memilih perusahaan AI yang sudah mampu menghasilkan keuntungan nyata, bukan sekadar menjanjikan potensi. Selain itu, terjadi rotasi investasi dari saham teknologi ke saham small cap, serta dari saham berkarakter pertumbuhan (growth) ke saham value. Pergeseran ini diperkirakan akan meluas ke pasar global, termasuk Indonesia.


Di sisi lain, risiko geopolitik masih menjadi ancaman serius. Ketegangan Rusia-Ukraina kembali meningkat, disusul gejolak politik di Venezuela dan demonstrasi besar di Iran. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas global dan meningkatkan volatilitas pasar. Meski demikian, Hans menilai tren pasar masih cenderung naik, dengan peluang indeks global bergerak ke level 9.000, meski diiringi fluktuasi yang lebih tajam.

Terkait kondisi domestik, penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah pelemahan Rupiah dan perlambatan ekonomi dinilai bukan sebuah anomali. Menurut Hans, pasar saham Indonesia banyak digerakkan oleh kelompok masyarakat menengah ke atas yang masih memiliki likuiditas kuat. Dari sekitar 20 juta investor pasar modal, mayoritas berasal dari kelompok ini, sementara tekanan ekonomi lebih terasa di lapisan bawah.

"Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga sekitar 150 basis poin, dan ditambah dengan suntikan likuiditas sekitar Rp200 triliun, bunga perbankan ikut turun. Akibatnya, sebagian dana beralih ke pasar modal. Hal ini terlihat dari meningkatnya nilai transaksi di bursa," papar Hans Kwee. 

Selain itu, maraknya aksi korporasi seperti merger, akuisisi, dan ekspansi bisnis oleh grup-grup konglomerasi menjadi daya tarik tersendiri bagi investor.

"Investor melihat adanya potensi profit di sana. Di tengah kondisi ekonomi yang lesu, sebagian masyarakat justru memilih berinvestasi, sehingga mendorong pasar saham naik," lanjutnya.

Minat investor pun banyak tertuju pada saham-saham milik grup usaha besar seperti Prajogo Pangestu, Salim, dan Bakrie. Ditambah lagi, arus dana asing yang sempat keluar kini mulai berbalik masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Data MSCI menunjukkan indeks emerging market melonjak 34 persen sepanjang 2025, melampaui kenaikan S&P 500 yang hanya 17,8 persen.

Dengan kombinasi sentimen global, likuiditas domestik, dan masuknya dana asing, IHSG dinilai memiliki peluang untuk terus menguat dan menembus level 9.000. Namun, investor tetap diminta waspada terhadap meningkatnya risiko dan volatilitas pasar.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Hari Buruh, Wall Street Libur

Selasa, 08 September 2026 | 08:29

Krakatau Steel Rombak Direksi, Segini Pendapatan KRAS Semester I-2026

Selasa, 08 September 2026 | 08:15

Konflik Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dekati 100 Dolar AS

Selasa, 08 September 2026 | 07:57

OJK Wajibkan Free Float 15 Persen, Tegaskan Transparansi Tanpa Kompromi

Selasa, 08 September 2026 | 07:40

Saat Batu Bara Tertekan, UNTR Makin Mesra dengan Emas

Selasa, 08 September 2026 | 07:21

Anak Krakatau Erupsi, Kursi Bos Krakatau Steel Berganti

Selasa, 08 September 2026 | 07:01

Nellava Group dan Emas Now Pilih Jalur Hukum Hadapi Serangan di Ruang Digital

Selasa, 08 September 2026 | 06:50

Pemerintah Dituntut Siapkan Anggaran dan Kesiapsiagaan Logistik terkait Bencana

Selasa, 08 September 2026 | 06:09

Kewajiban Moral Lindungi Rakyat dari Manipulasi Harga dan Mutu Beras

Selasa, 08 September 2026 | 05:44

Empat Pejabat Kejagung Diduga Terima Rp40 Miliar dari Tan Kian, Ini Tanggapan Kapuspenkum

Selasa, 08 September 2026 | 05:27

Selengkapnya