Berita

Ilustrasi kursi kosong KPK. (Foto: RMOL/Jamaludin)

Hukum

KPK Cuma Hebat Publikasi Tapi Tak Punya Nyali Panggil Jokowi

JUMAT, 16 JANUARI 2026 | 11:18 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI), Islah Bahrawi, membandingkan kinerja lembaga antikorupsi Indonesia dengan Malaysia. 

Ia menilai, dalam kurun waktu 15 tahun terakhir, posisi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) justru berbalik arah jika dibandingkan dengan Suruhanjaya Pencegahan Rasuah Malaysia (SPRM).

“15 tahun lalu, Malaysia menjadikan KPK sebagai role model pemberantasan korupsi. Mereka kagum sekali kepada independensi KPK,” ujar Islah lewat akun X miliknya, Jumat, 16 Januari 2026.


Namun menurutnya, kondisi tersebut kini berbanding terbalik. SPRM justru dinilai jauh lebih berani, independen, dan ditakuti dibanding KPK saat ini.

“Sekarang, Suruhanjaya Pencegahan Rasuah Malaysia (SPRM), KPK-nya Malaysia, kehebatan dan keberaniannya jauh melewati kita. Mereka sangat independen dan ditakuti karena bebas dari partikel kepentingan politik,” tegasnya.

Islah mencontohkan langkah konkret SPRM yang dinilai menunjukkan keberanian luar biasa dalam menegakkan hukum tanpa pandang bulu.

“Saat ini mereka telah memenjarakan mantan Perdana Menteri Najib dan berani memenjarakan beberapa jenderal tentara dengan mengurai sindikasi korupsi di tubuh Angkatan Tentera Malaysia (ATM),” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat elite politik Malaysia berada dalam tekanan psikologis yang kuat.

“Semua politisi takut untuk melakukan ‘gerakan tambahan’ karena merasa mata SPRM ada di mana-mana,” ujarnya.

Berbeda dengan SPRM, Islah menilai KPK saat ini telah kehilangan tajinya. Ia menyebut, lembaga antirasuah Indonesia itu lebih sibuk mengelola pencitraan dibanding melakukan penindakan tegas.

“KPK? Semua telah berubah. Mereka hanya hebat mengelola publikasi dan media,” kritiknya.

Islah bahkan menyoroti keberanian KPK dalam menyentuh figur-figur yang memiliki kedekatan dengan kekuasaan.

“Jangankan manggil Jokowi, manggil Bobby Nasution saja nyalinya ciut. Menyentuh Fuad Maktour saja keberaniannya hanya sampai pencekalan,” katanya.

Ia menilai kondisi tersebut sebagai ironi besar dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

“Ironis dan bikin aura pesimis terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia,” pungkas Islah Bahrawi.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Menhan Sjafrie-Dubes Maroko Bahas Penguatan Kerja Sama Pertahanan Indonesia

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:11

Kompensasi Uang Bau TPST Bantar Gebang Molor

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:01

DJP: Sistem Sudah Siap Pungut Pajak Pedagang Online Mulai 1 Juli

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:25

GMNI Dorong Efisiensi APBN Berorientasi Kesejahteraan

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:12

CBA Ancam Laporkan KPK ke Dewas soal Suap Impor Bea Cukai

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:00

Der Panzer Rontok, Bangsa yang Pernah Hampir Punah Justru Melaju

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:34

Erling Haaland Bawa Norwegia Tantang Brasil

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:22

Ini Alasan Upacara Hari Bhayangkara Digelar di Satlat Brimob Polri Cikeas

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:00

Sanksi Partai Tak Bisa Gantikan Proses Hukum Kasus Dokter Icha

Rabu, 01 Juli 2026 | 01:41

Selengkapnya