Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Paling Bahagia di Dunia, Tapi Masih Berjuang Sejahtera

RABU, 14 JANUARI 2026 | 21:22 WIB

DI tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang semakin kompleks, berita tentang Indonesia yang menjadi negara dengan rakyat paling bahagia di dunia menurut penelitian Global Flourishing Study dari Harvard University dan Gallup pada 2026, merupakan sebuah kabar yang menyegarkan. Meskipun dunia sedang menghadapi krisis, perpecahan politik, dan tekanan ekonomi, masyarakat Indonesia tetap berhasil mempertahankan kebahagiaan dalam berbagai aspek kehidupan.

Namun, seperti kata bijak Timur, “Jangan tertipu oleh senyum; bisa jadi itu adalah topeng dari luka yang dalam.” Kebahagiaan yang dirasakan rakyat Indonesia, meski patut disyukuri, tidak boleh membuat kita alpa terhadap kenyataan bahwa banyak dari mereka masih bergulat dalam pusaran ketimpangan dan keterbatasan.

Kebahagiaan yang diukur dalam survei itu bersifat subjektif yang berakar pada rasa syukur, makna hidup, dan relasi sosial. Dalam hal itu, masyarakat Indonesia memang kaya. Budaya gotong royong, kekuatan komunitas, dan spiritualitas yang mengakar menjadikan rakyat Indonesia tangguh dalam deraan hidup. Mereka bisa tertawa dalam derita, bersyukur dalam kekurangan, dan berbagi dalam keterbatasan.


Tetapi, bila melihat baik indikator subjektif maupun objektif tersebut, tampaklah jurang. Ketimpangan sosial-ekonomi adalah luka lama yang tak tertutup. Sebaris-nasib dan sebaris-kondisi ini terlihat sampai saat ini. Di balik gemerlap kota-kota, masih banyak rakyat lainnya yang masih harus merasakan hidup tanpa air bersih, pendidikan bermutu, dan layanan kesehatan memadai. Di desa-desa terpencil, pembangunan belum tersentuh bagi seluruh elemen masyarakat. Di kota-kota besar, kaum muda tetap menunggu “keajaiban” agar tidak terikat pada pekerjaan informal.

Di sinilah letak paradoks kita rakyat bahagia, tetapi belum sejahtera. Kebahagiaan yang bersumber dari kekayaan batin belum sepenuhnya ditopang oleh keadilan struktural. Ini bukan untuk menafikan nilai kebahagiaan itu sendiri, melainkan untuk mengingatkan bahwa kebahagiaan tanpa keadilan bisa menjadi candu yang meninabobokan.

Negara, dalam hal ini, tidak boleh berpuas diri. Kebahagiaan rakyat harus dibaca sebagai amanat, bukan sebagai alibi. Ia adalah panggilan untuk mempercepat langkah dalam mewujudkan keadilan sosial sebagaimana diamanatkan dalam sila kelima Pancasila. Sebab, dalam pandangan para pendiri bangsa, kebahagiaan sejati adalah buah dari kemerdekaan yang memerdekakan membebaskan manusia dari belenggu kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan.
 
Pemerintah harus menata ulang orientasi pembangunan. Bukan sekadar meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi mendorong dan memastikan supaya pertumbuhan itu menjalar sampai ke akar rumput. Bukan hanya infrastruktur fisik, namun juga infrastruktur sosial, kultural. Pendidikan yang berkarakter cerdas, pelayanan kesehatan harus merata tanpa ada pembeda simiskin dan sikaya, serta hukum harus berwatak sebagai pelindung yang berdaulat, bukan menguasai.

Yang tak kalah pentingnya, kita perlu membangun ekosistem kebangsaan yang sehat, demokrasi harus berjalan berdasarkan prosedur dan etika, politik harus bekerja bukan sebagai arena perburuan rente tetapi pengabdian. Media harus bekerja bukan sebagai panggung sensasi tetapi cermin nurani publik dan  masyarakat sipil harus terus menghidupkan semangat kritis, bukan hanya menjadi penonton pasif.

Bangsa Indonesia telah membuktikan potensi diri yang sangat besar dalam hal ketahanan mental. Akan tetapi, kita memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan kekuatan internal tersebut agar tidak hanya menjadi mekanisme koping terhadap kesulitan, melainkan juga menjadi landasan kokoh untuk mewujudkan kemakmuran yang dapat dirasakan secara konkret. Senyum yang terukir di wajah masyarakat seharusnya tidak hanya mencerminkan ketegaran dalam menghadapi cobaan, melainkan juga refleksi dari kualitas hidup yang layak dan penuh kehormatan.

Dalam filsafat Jawa, dikenal ungkapan “urip iku urup” – hidup adalah nyala. Saatnya segenap elemen bangsa untuk terus memelihara semangat tersebut agar tidak tergerus oleh kesenjangan dan perlakuan yang tidak setara. Kebahagiaan memang memiliki nilai penting, namun kesejahteraan merupakan hak fundamental setiap warga negara. Hanya dengan mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan secara bersamaan, kita dapat menciptakan Indonesia yang sepenuhnya berdaulat.

Maka, mari kita rayakan kabar baik ini dengan bijak. Bukan untuk berpuas diri, tetapi sebagai pengingat bahwa tugas kita belum selesai. Bahwa senyum rakyat harus dijaga, bukan hanya dengan doa dan syukur, tetapi dengan kebijakan yang adil, pelayanan yang merata, dan keberpihakan yang nyata.

Tomi Subhan
Aparatur Sipil Negara
 

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

UPDATE

Perpres Pelindungan Ojol Jangan Berhenti di Atas Kertas

Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:29

Awasi Ketat Penggunaan Anggaran Operasi Modifikasi Cuaca

Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:16

Sakelar Cahaya di Dalam Otak

Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:04

Kartu Nikah Digital Bisa Diakses melalui Simkah, Ini Caranya!

Minggu, 11 Oktober 2026 | 05:44

Nusron Wahid Bikin KPK Tidak Berkutik

Minggu, 11 Oktober 2026 | 05:24

Dulu di Depok Banyak Maling dan Begal, Sekarang Aman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 05:08

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Puluhan Korban Investasi Emas Polisikan Direksi PT DGJ

Minggu, 11 Oktober 2026 | 03:33

Tragedi Affan dan Bambang Jangan Terulang

Minggu, 11 Oktober 2026 | 03:14

Selengkapnya