Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)

Publika

Transfer Pricing Perdagangan Sawit

SELASA, 13 JANUARI 2026 | 22:44 WIB

DALAM perdagangan sawit global, masalahnya bukan lagi siapa membeli, melainkan di mana laba berhenti. Hampir semua pembeli CPO Indonesia tercatat berada di Singapura. Dan hampir semua perusahaan sawit besar Indonesia, tanpa kecuali – memiliki holding atau trading arm di sana. 

Ini bukan kebetulan. Ini desain. Skemanya transshipment dan transferable LC. Rapi dan legal di permukaan, namun rapuh secara etika fiskal. Apa? Ya transfer pricing. 

CPO dijual dari Indonesia ke afiliasi di Singapura dengan harga rendah (under-invoice). Dari Singapura, barang yang sama – kapal yang sama, tujuan yang sama, dijual kembali ke pembeli akhir dengan harga pasar. Selisih harga tidak pernah “lahir” di Indonesia. 


Ia bermigrasi. Akibatnya Pajak dan bea keluar di Indonesia menyusut. Laba terkonsentrasi di yurisdiksi pajak rendah. Negara produsen hanya menerima residu, sementara biaya lingkungan, sosial, dan infrastruktur tetap ditanggung di dalam negeri.

Argumen klasiknya selalu sama yaitu trading hub efficiency, risk management, price discovery. Semua terdengar masuk akal – sampai kita melihat faktanya, nilai tambah terbesar justru dicatat di luar negeri, padahal sumber daya, tenaga kerja, dan risiko ada di Indonesia. Inilah ironi strukturalnya. Negara penghasil bahan baku menjadi penonton dalam pembentukan harga. 

Negara hub menjadi “pemilik laba” tanpa menanam satu pohon pun. Dan selama transaksi antar-afiliasi dianggap wajar hanya karena arm’s length di atas kertas, under-invoicing akan terus hidup sebagai praktik normal.

Masalah ini bukan soal satu dua perusahaan. Ini arsitektur industri. Selama hak pemasaran (marketing right), hak penjualan (sales right), dan hak penentuan harga dipindahkan ke holding luar negeri, maka basis pajak ikut pindah. Negara boleh memperketat pengawasan, memakai AI, atau memperbanyak audit – namun tanpa menyentuh transfer of rights, hasilnya akan kosmetik.

Nah pertanyaan sesungguhnya sederhana, apakah kita ingin menjadi negara produsen, atau hanya pemasok murah bagi neraca negara lain? Jika jawabannya yang pertama, maka kebijakan harus berani  menilai ulang harga referensi ekspor berbasis destination pricing. Membatasi  pengalihan trading right ke luar negeri. 

Caranya? Larang transshipment dan transferable LC khusus untuk CPO. Dan memperlakukan related-party trading sebagai risiko fiskal strategis, bukan sekadar isu kepatuhan pajak.

Karena dalam ekonomi global hari ini, kecurangan terbesar bukan lagi menyelundupkan barang – melainkan memindahkan angka. Dan angka, ketika dipindahkan dengan rapi, bisa menguras negara tanpa meninggalkan jejak yang mudah ditangkap mata. Sawit bukan sekadar komoditas. Ia adalah cermin. Cermin yang memperlihatkan bagaimana kedaulatan fiskal bisa hilang – bukan karena kurang sumber daya, tetapi karena salah desain alias bego dan otak bandit!

Drs. Ariadi MSi
Akademisi dan Praktisi dari Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU)


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Turbulensi Kepercayaan dalam Teropong Nobel Ekonomi

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 22:16

Jadi Tersangka KPK, Bupati Klaten Didepak PDIP

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:45

Kapolri Rangkul Ulama Jatim untuk Jaga Kamtibmas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:32

Ilham Habibie hingga Chappy Hakim Dianugerahi Golden PIN INACA

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:02

DPR: Kehadiran Kapolri di BEI Sinyal Negara Serius Menegakkan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 20:33

Ketua Gappura Minta DPR Turun Tangan Mediasi PHK dan GHS di Krakatau Steel

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:35

Walhi Soroti Tanggung Jawab Lintas Sektor dalam Penanganan Karhutla

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:28

Kementerian UMKM Pulihkan 908 Usaha Terdampak Bencana di Sumatera

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:51

Komjak Diminta Turun Tangan Teliti JPU di Kasus Febrie

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:30

Surati Presiden Prabowo, YLKI Minta Menteri Bahlil Dicopot

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 17:49

Selengkapnya