Berita

Presiden AS Donald Trump (Foto: Reuters)

Publika

Klaim Donald Trump

MINGGU, 04 JANUARI 2026 | 03:27 WIB

DONALD TRUMP, si Paman Sam, baru saja mengklaim, Nicolas Maduro dan istri ditangkap oleh tentaranya. Kalau ditangkap di negaranya, maklum saja. Ini ditangkap di Venezuala sendiri. Emang gile bener Amerika. 

Malam itu, Caracas tidak tidur. Langitnya berisik, bukan oleh doa atau petasan, melainkan oleh raungan helikopter yang terbang rendah. Seolah langit Venezuela mendadak disewa Marvel Studios untuk syuting film perang. 

Lampu kota berkedip, kaca jendela bergetar, dan ledakan terdengar seperti sound effect mahal yang biasanya hanya muncul di bioskop IMAX. 


Warga merekam dengan ponsel gemetar, netizen dunia menahan napas, dan para analis geopolitik buru-buru mencari kacamata hitam, karena ini jelas bukan kejadian biasa. Ini pembukaan film.

Beberapa jam kemudian, plot twist datang langsung dari Amerika Serikat. 

Donald Trump. Dengan rambut jagungnya, mengumumkan bahwa Amerika telah melakukan serangan besar-besaran dan berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istrinya, lalu menerbangkannya keluar negeri. 

Dunia pun terdiam sejenak, bukan karena kagum, tapi karena mencoba memahami, ini operasi militer atau press release Marvel Phase 7?

Secara data, naskah ini sudah lama ditulis. Sejak 2020, Amerika Serikat menuduh Maduro terlibat jaringan perdagangan narkoba internasional dan memasang hadiah hingga 15 juta dolar AS untuk kepalanya. 

Ketika helikopter muncul di langit Caracas dan Trump mengklaim penangkapan, itu terasa seperti adegan klimaks yang memang direncanakan sejak awal. Tinggal tunggu musik dramatis dan kamera slow motion.

Tentu saja, narkoba hanyalah dialog pembuka. Latar sesungguhnya jauh lebih menggoda, yakni minyak, China, dan konspirasi besar. 

Venezuela punya cadangan minyak terbesar di dunia. China datang membawa koper berisi puluhan miliar dolar pinjaman, dibayar dengan minyak, sebagian di luar dolar. Rusia dan Iran ikut meramaikan. 

Dalam logika Washington, ini bukan kerja sama, ini pemberontakan kosmik. Negara berminyak di Amerika Latin kok berani akrab dengan Beijing? Ini sudah cukup untuk mengubah presiden menjadi penjahat super.

Lalu muncullah adegan udara. Helikopter terbang rendah, pesawat melintas, ledakan mengguncang malam. 

Pemerintah Venezuela menetapkan darurat nasional. Tapi yang menarik, tidak ada bukti visual Maduro ditangkap. Tidak ada foto borgol, tidak ada video pesawat membawa presiden, tidak ada konferensi pers dengan tersangka. 

Tapi tenang saja, dalam film Hollywood, bukti sering muncul belakangan, atau tidak pernah muncul sama sekali.

PBB pun tampil sesuai perannya, figuran bermuka prihatin. Dewan Keamanan diam, hak veto berdiri tegak seperti perisai super hero. 

Hukum internasional kembali menjadi dekorasi, seperti pagar pembatas yang selalu dilompati tokoh utama film laga. Amerika tetap jalan, dunia diminta percaya.

Yang membuat cerita ini makin lucu adalah standar gandanya. Rezim otoriter pro-AS bisa hidup damai, difoto, dipeluk, bahkan dipersenjatai. 

Tapi negara yang terlalu dekat dengan China langsung dicap diktator dan ancaman global. Demokrasi ala Amerika elastis seperti celana olahraga, elastis.

Maka malam Caracas itu bukan sekadar mencekam, tapi epik dalam absurditasnya. Helikopter berputar, ledakan menggema, klaim penangkapan diumumkan, tapi kebenaran tetap tertinggal di ruang editing. 

AS sekali lagi menunjukkan keahliannya, menggabungkan militer, media, dan mitologi dalam satu paket hiburan geopolitik. Apakah Maduro benar-benar ditangkap? Dunia belum tahu. 

Tapi satu hal pasti, filmnya sudah tayang, trailernya sudah viral, dan penontonnya dipaksa percaya, tokoh utama selalu benar, karena dialah yang memegang kamera.

“Begitulah Amerika. Negara yang tidak tunduk, segala cara ia kacaukan. Benar ndak, Bang?”

“Untung bukan negara kita, wak! Negara kitakan bersahabat dengan Amerika, jadi aman.”

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Tim Hukum Febrie Curiga Ada Nama Pejabat Kejagung Dicatut terkait Duit Rp40 Miliar

Rabu, 09 September 2026 | 04:16

Merawat Aceh, Memprioritaskan Kepentingan Rakyat

Rabu, 09 September 2026 | 04:04

Polda Banten-Basarnas Maksimalkan Pencarian Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda

Rabu, 09 September 2026 | 03:32

Bahaya Abu Vulkanik bagi Penerbangan: Ancaman Tak Kasat Mata yang Mematikan

Rabu, 09 September 2026 | 03:22

PDIP Tafsirkan Pidato AHY: Bisa Jadi Pesan untuk Presiden Menuju 2029

Rabu, 09 September 2026 | 03:09

Wow! Hadiah Sayembara Ijazah Gibran Tembus Rp10,25 Miliar

Rabu, 09 September 2026 | 02:52

Sekolah Tatap Muka di Lampung Batal Gegara Anak Krakatau Kembali Erupsi

Rabu, 09 September 2026 | 02:14

Survei Digdaya: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Capai 56,3 Persen

Rabu, 09 September 2026 | 02:01

Pencarian 8 Orang Hilang Kontak di Selat Sunda Terkendala Arus Kencang

Rabu, 09 September 2026 | 01:34

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Selengkapnya