Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Harga Minyak Lanjutkan Tren Penurunan

RABU, 10 DESEMBER 2025 | 10:53 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Perkembangan pembicaraan damai Rusia-Ukraina, keputusan The Fed serta melimpahnya pasokan global masih menghantui pasar minyak.

Dikutip dari Reuters, Rabu 10 Desember 2025, harga minyak Brent pada Selasa ditutup turun 55 sen menjadi 61,94 Dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 63 sen menjadi 58,25 Dolar AS per barel. 

Pada hari sebelumnya, kedua harga acuan sempat jatuh lebih dari 1 Dolar AS setelah Irak kembali meningkatkan produksi di ladang minyak West Qurna 2 milik Lukoil, salah satu yang terbesar di dunia.


Harapan perdamaian antara Rusia dan Ukraina kembali muncul setelah Presiden Volodymyr Zelensky berdiskusi dengan para pemimpin AS, Inggris, Prancis, dan Jerman. Jika tercapai, sanksi internasional terhadap perusahaan energi Rusia bisa dicabut, yang otomatis membuka lebih banyak pasokan minyak ke pasar. Namun, sebagian pelaku pasar masih ragu.

“Banyak yang merasa Rusia belum serius soal perjanjian damai dan hanya ‘membeli waktu’,” kata Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates.

Pasokan minyak di laut juga makin menekan harga. Volume kargo minyak yang mengapung meningkat sekitar 2,5 juta barel per hari sejak pertengahan Agustus dan masih terus naik. “Satu-satunya alasan harga Brent belum turun lebih dalam adalah sanksi AS terhadap Rosneft dan Lukoil,” ujar Bjarne Schieldrop, analis komoditas di SEB.

Ke depan, perhatian pasar tertuju pada laporan bulanan Badan Energi Internasional (IEA) yang akan terbit 11 Desember. Laporan sebelumnya memproyeksikan surplus besar pada 2026. Jika perkiraan ini kembali ditegaskan, analis OANDA Kelvin Wong menilai harga WTI bisa turun ke kisaran 56,80-57,50 Dolar AS.

Data persediaan minyak AS juga menjadi sorotan. API melaporkan stok minyak mentah turun 4,78 juta barel minggu lalu, sementara persediaan bensin dan distilat justru meningkat. Angka resmi dari EIA akan dirilis pada Rabu.

Pasar juga menunggu keputusan The Fed. Saat ini investor menilai ada peluang 87 persen bank sentral AS akan memangkas suku bunga sebesar 0,25 persen. Penurunan suku bunga biasanya dapat mendorong permintaan minyak karena biaya pinjaman lebih rendah, meski beberapa analis menilai dampaknya ke harga dalam waktu dekat mungkin terbatas. 

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Investor Diminta Wait and See, Pengamat Prediksi Banyak yang Ditangkap Imbas MSCI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:30

Serangan Houthi Ganggu Ajang Olahraga Saudi, Piala Asia Tetap Sesuai Jadwal

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:14

Putusan MK soal UU Peradilan Militer Momentum Akhiri Impunitas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:06

Komisi III DPR Desak Pelaku Korupsi Dana Bencana Dihukum Maksimal!

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:46

Daftar Negara Masuk Standalone Market MSCI, Ada 12 Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:34

Dihantam Ancaman MSCI, IHSG Terancam Anjlok ke 4.700 Pekan Depan

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:24

Minyak Dunia Tembus 110 Dolar AS

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:07

Profil Hamenang Wajar Ismoyo, Bupati Klaten Tersangka Kasus Suap Audit BPK

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:53

Karhutla Meluas, Legislator Golkar Desak Evaluasi Pencegahan dan Penegakan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:52

BMKG Deteksi Sebaran Asap Karhutla hingga Jakarta dan Papua

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:39

Selengkapnya