Berita

Foto udara sejumlah bangunan hancur diterjang banjir bandang di kawasan Gunung Nago, Padang, Sumatera Barat. (Antara Foto)

Publika

Lain Zulhas Lain Cak Imin: Menasehati Pemerintah Padahal Dia Juga Pemerintah

KAMIS, 04 DESEMBER 2025 | 06:43 WIB

BERBAGAI tingkah laku pejabat kita menyikapi bencana di Sumatera Bagian Utara, baru-baru ini. Ada yang belum apa-apa, sudah enteng saja mengatakan bencana ini hanya mencekam di media sosial alias medsos. Kenyataannya, tidak begitu. Katanya. Ia malu dan langsung minta maaf.

Mungkin ia baru saja mendarat dan sampai di pesisir, sedangkan bencana kali ini tak terjadi di pesisir, melainkan di pedalaman, di bukit dan sekitarnya. Bencana ini mengubur desa, kampung, nagari, rata seperti sebelumnya tak ada kehidupan. Kehidupan yang sudah dikubur dalam liang lahat.

Masih untung Kepala BNPB itu malu dan minta maaf. Ada pejabat yang belum bersuara sampai sekarang. Mungkin ia tak tahu mesti ngomong apa. Tapi pidato lamanya tentang sebuah negara maju yang mengeksploitasi alamnya beredar luas. Hebat betul pidato itu, tapi kini mungkin hanya tinggal penyesalan.


Siapa lagi kalau bukan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Ia belum terdengar lantang bersuara, tapi pasti tahu persis apa yang sebenarnya sedang terjadi terhadap bencana di Sumatera Bagian Utara itu. Orang bilang inilah bencana ulah tangan manusia yang berupa tanda tangan manusia bernama penjahat, eh pejabat.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni berjanji akan mengevaluasi secara total tata kelola hutan usai bencana di Sumatera Bagian Utara, yang mengerikan itu. Untung ia tak ikut-ikutan mazhab, kayu-kayu gelondongan yang diseret banjir itu kayu-kayu lapuk yang sudah rebah seperti pejabat di bawahnya.

Menko Pangan Zulkifli Hasan lain lagi. Ia tak berkata-kata, tapi memilih langsung terjun ke lokasi bencana memberi bantuan. Fotonya memanggul sekarung beras yang ringan viral seviral-viralnya. Ia disamakan dengan Khalifah Umar bin Khatab. Umar bin Khatab yang berkaca mata, tapi foto ijazahnya mungkin tidak.

Saya kasihan bukan dengan penyamaannya itu, tapi kasihan dengan karung beras yang dipanggulnya. Terlalu ringan. Tak sedikitpun terlihat membuat pundaknya terbebani. Ia tetap tegap berjalan. Artinya, betapa ringannya karung beras itu. Mestinya tak usah dipanggul segala, cukup dijinjing saja pakai jari.

Dan orang lupa bahwa Zulkifli Hasan itu adalah mantan Menteri Kehutanan. Ia mungkin lebih banyak tahu hutan dibandingkan Menteri yang sekarang. Mungkin karena itu ia memilih tak bersuara, tapi cukup memanggul karung beras saja. Dan ia berhasil meraih poin melebihi berton-ton karung beras.

Lain lagi dengan Menko Pemberdayaan Masyakarat Muhaimin Iskandar alias Cak Imin. Ia meminta Menteri Kehutanan, Menteri ESDM, dan Menteri Lingkungan Hidup untuk melakukan evaluasi total kebijakan pemerintah terkait banjir bandang dan longsor di Sumatera Bagian Utara itu. Padahal ia juga Pemerintah.

Itulah kelebihan Cak Imin sejak dulu. Licin seperti belut disiram oli. Ia bisa jadi Menko, padahal kalah Pilpres. Ia bisa menasehati Pemerintah, padahal ia juga bagian dari Pemerintah itu. Tak akan ada orang seperti itu, kecuali Cak Imin. Selamanya.

Mungkin karena ia Menko Pemberdayaan Masyarakat dan Pemberdayaan Masyarakat rusak karena bencana ini. Masyarakat mana lagi yang mau diberdayakan, kalau semua sudah tak berdaya akibat bencana? Cak Imin mengajak semua pembuat kebijakan untuk tobatan nashuha. Tobat yang sebenar-benarnya tobat.

Bagi Cak Imin, kiamat bukan sudah dekat, melainkan kiamat sudah terjadi akibat kelalaian kita sendiri.

Tapi Cak Imin lupa, kiamat ini hanya mengenai orang-orang kecil saja. Orang-orang besar sedang berpesta pora. Kiamat apa pula yang seperti ini, Cak? Kiamat kok berulang setahun sekali hanya untuk orang-orang kecil saja?

Erizal
Direktur ABC Riset & Consulting

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR: Korporasi Penyebab Karhutla Harus Diberi Sanksi Berat

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 16:22

Pantau Karhutla Riau, Menteri Jumhur Diperlihatkan Inovasi Green Policing

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:22

Tanpa Masker, Prabowo Tinjau Langsung Karhutla di Kalbar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:09

Sasar Ribuan Korban Gempa Nagekeo, BHS dan DLU Kirim Bantuan Logistik Hingga Mainan Edukatif

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:57

Karhutla Meluas hingga Permukiman Warga Banjarbaru

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:47

Segel 4 Lahan Konsesi, Menteri LH Bertolak ke Kalimantan Usai Pantau Karhutla Riau

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:29

Efek El Nino dan B50 Bikin Harga CPO Terbang ke Level Tertinggi

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:11

Kabut Asap Karhutla Makin Parah, Kabupaten Kotim Hentikan Sekolah Tatap Muka

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:40

Kalah Gugatan Privasi, Pangeran Harry Wajib Bayar Rp317 Miliar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:24

Aliansi Mahasiswa DIY Soroti Ancaman Perampasan Ruang Hidup di Pracimantoro

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:12

Selengkapnya