Berita

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Mungkin Mukjizat Vaksin mRNA

MINGGU, 16 NOVEMBER 2025 | 05:34 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

KONON di zaman modern ini, mRNA itu bukan lagi singkatan dari messenger RNA, tetapi musik Remaja Nakal Abal-abal. Setiap kali namanya disebut, langsung bikin geger satu RT. Padahal, vaksin mRNA Covid kerjanya ya biasa saja: mengantar “pesan” genetis sementara agar tubuh kita belajar mengenali si virus.

Itu saja tugasnya. Bukan mengubah kita jadi mutan ala X-Men, apalagi menggelapkan dana bansos. Sekedar mengingatkan, mungkin anda sudah lupa, vaksin mRNA terkenal di era pandemi Covid-19 dengan merek seperti Pfizer-BioNTech (kolaborasi Jerman-Amerika) dan Moderna (Amerika).

Lalu datanglah kabar dari jurnal Nature, seolah ditemukan jamu paling manjur yakni vaksin mRNA kok kelihatannya ikut-ikutan bantu pasien kanker? Ya Tuhan, dunia medis pun dibuat bingung dimana vaksin yang tadinya “pemain cadangan di pandemi”, tiba-tiba dicurigai bisa jadi striker utama di liga kanker stadium lanjut.


Dan tentu saja publik heboh. Ada yang berseru, “Nah, kan! Dari dulu saya bilang vaksin itu kuat!”; sementara lainnya bergumam, “Ini hanya trik baru Big Pharma.” Seakan-akan Pfizer itu pabrik jin, bisa mengabulkan segala permintaan: Covid hilang, kanker minggat, ekonomi pulih, dan cicilan rumah lunas.

Mari tenang sebentar, hirup udara, letakkan dulu teori konspirasi. Apa sebenarnya isi penelitiannya?

Di MD Anderson Cancer Center yang merupakan salah satu rumah sakit kanker paling top di planet ini, diteliti 884 pasien kanker paru stadium 3 dan 4 antara tahun 2015–2022. Dari jumlah itu, 180 orang kebetulan mendapat vaksin mRNA dalam 100 hari sejak mereka memulai imunoterapi; 704 lainnya tidak.

Lalu dihitunglah umur median hidupnya: kelompok divaksin hidup sekitar 37,3 bulan; kelompok tak divaksin sekitar 20,6 bulan. Lonjakan fantastis yakni 75%! Bahkan dokter onkologi yang sudah kenyang melihat mukjizat obat mahal pun langsung menengok ke grafik berkali-kali, memastikan salah ketik atau salah minum kopi.

Temuan itu menimbulkan kecurigaan bahwa apakah jumlah responden cukup? Untuk ukuran studi observasional, 884 orang itu sudah termasuk lumayan mantap. Bukan 20 orang, bukan 50 orang, tetapi ratusan pasien nyata dengan penyakit nyata, menjalani pengobatan nyata.


Namun, tetap saja ini bukan randomised controlled trial. Artinya, hubungan ini masih asosiasi, belum terbukti sebagai kausal. Ibarat melihat seorang suami tiba-tiba jadi romantis setelah istrinya beli baju baru: apa bajunya penyebab, atau suaminya baru menang undian? RCT-lah yang bisa menjawab secara tegas.

Menariknya, efek peningkatan umur ini hanya terjadi pada vaksin mRNA, bukan vaksin non-mRNA. Yang termasuk non-mRNA, antara lain, AstraZeneca (Oxford–UK, berbasis adenovirus), Johnson & Johnson (Amerika, adenovirus juga), Sputnik V (Rusia, adenovirus dua tahap), Sinovac dan Sinopharm (Cina, inactivated virus).

Nah, vaksin-vaksin ini tidak menunjukkan efek tambahan pada survival pasien kanker. Tidak salah apa-apa, hanya memang mekanisme imunologinya berbeda: vaksin mRNA rupanya lebih jago membunyikan “sirine sistem imun” secara luas, sementara yang non-mRNA bekerja dengan pendekatan berbeda yang tidak menimbulkan respons sistemik sebesar itu.

Para ilmuwan pun mulai menduga bahwa jangan-jangan mRNA bukan hanya menyampaikan pesan, tetapi juga menabuh genderang perang, membangunkan pasukan imun yang tadinya tidur siang di pojokan limpa. Tumor yang tadinya “dingin” alias tidak dikenali sistem imun, tiba-tiba mendadak “terang benderang” seperti rumah yang lupa mematikan lampu tahun baru.

Lalu muncullah pertanyaan filosofis, hiperbolik klasik khas kita bangsa republik dramatis yaitu apakah ini berarti vaksin mRNA bisa jadi “vaksin kanker universal”? Tentu belum. Tapi apakah arahnya mengarah ke sana?


Mungkin, ada harapan. Seperti kata Dr Elias Sayour, mungkin kelak bisa dibuat vaksin non-spesifik yang “mengatur ulang” sistem imun supaya lebih peka terhadap sel abnormal. Ibarat resepsionis hotel yang tadinya suka ketiduran, kini jadi sigap mengecek tamu masuk bahkan kalau ada yang bawa niat jahat langsung digiring ke luar sebelum sempat buka koper.

Di sisi lain, mari tetap waras. Studi ini bersifat observasional. Butuh konfirmasi lewat uji klinis acak. Butuh pembuktian tumbuhan demi tumbuhan atau dalam hal ini, sel demi sel. Kalau tidak, kita hanya jatuh cinta pada harapan, bukan pada bukti.

Namun begitulah dalam sains dimana kemajuan kadang lahir bukan dari eksperimen mahal, melainkan accidental discovery. Penemuan penisilin gara-gara jamur. Penemuan microwave gara-gara cokelat meleleh di saku teknisi radar.

Dan kini, kemungkinan penemuan terapi kanker murah-meriah gara-gara vaksin mRNA yang tadinya cuma diberi tugas menangani pandemi.

Apa pun hasil akhirnya, ada satu pelajaran abadi: manusia sering kali mencari mukjizat di laboratorium, padahal keselamatannya muncul dari tempat paling tak terduga. Kadang dari jarum vaksin, kadang dari data penelitian, kadang dari nyali ilmuwan, dan kadang dari keberanian kita meninggalkan prasangka demi merayakan akal sehat dan kemanusiaan.

Pada akhirnya, mungkin kanker bukan hanya musuh biologis, tapi juga ujian kesabaran. Dan jika seuntai mRNA bisa membantu memperpanjang hidup, walau hanya beberapa bulan atau tahun, maka itu kemenangan kecil yang pantas kita rayakan.

Karena, di dunia yang penuh kehilangan, setiap tambahan waktu adalah hadiah; setiap napas adalah pelajaran; dan setiap temuan sains adalah pengingat bahwa harapan kadang datang tanpa undangan.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Langkah Polri Bongkar Kasus Dugaan Korupsi Kejagung Tuai Apresiasi

Kamis, 09 Juli 2026 | 03:59

UPDATE

Jadi Tersangka Tanpa Diperiksa, Pakar: Bertentangan dengan Konstitusi

Sabtu, 18 Juli 2026 | 16:18

BPKH Harus Diperkuat demi Jaga Keberlanjutan Keuangan Haji

Sabtu, 18 Juli 2026 | 16:12

Maroko dan Prancis Perkuat Kemitraan, 11 Perjanjian Baru Disepakati

Sabtu, 18 Juli 2026 | 16:02

Halaqah Pra-Muktamar Bahas Arah Kepemimpinan NU di Abad Kedua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 15:02

Catatan Akhir Pekan Saham MD Entertainment: Terkoreksi, tapi Magnetnya Belum Pudar

Sabtu, 18 Juli 2026 | 15:00

Cara Nonton Final Piala Dunia 2026, Spanyol Vs Argentina

Sabtu, 18 Juli 2026 | 14:49

Nelayan Pulau Panggang Kesulitan BBM

Sabtu, 18 Juli 2026 | 14:45

China dan RI Perkuat Kerja Sama Ekonomi, Airlangga: KEK Batang Jadi Fokus Investasi

Sabtu, 18 Juli 2026 | 14:30

Sektor Teknologi dan Energi Topang Reli Indeks Kompas100 Sepekan

Sabtu, 18 Juli 2026 | 14:14

Enam Titik Penginapan Siap Tampung Ribuan Peserta Muktamar NU

Sabtu, 18 Juli 2026 | 14:01

Selengkapnya