Berita

Suripto memberikan pidato saat acara Komite Nasional untuk Rakyat Palestina. (Foto: dokumentasi KNRP)

Publika

Pak Suripto, Intelijen yang Tak Pernah Pensiun dari Cinta Tanah Air

JUMAT, 07 NOVEMBER 2025 | 23:36 WIB | OLEH: GDE SIRIANA YUSUF*

SAYA mengenal Pak Suripto sekitar tahun 1991, ketika masih kuliah semester lima di Bandung. Saat itu, suasana politik nasional masih penuh ketakutan. Di tengah tekanan Orde Baru, kami -para mahasiswa- mencari ruang kecil untuk berpikir lebih bebas. Forum-forum diskusi tumbuh diam-diam di rumah kos, di ruang belajar sempit, kadang di warung kopi yang lampunya remang. Di salah satu forum kecil itulah pertama kali saya bertemu Pak Suripto.

Beliau waktu itu masih aktif di dunia intelijen. Tapi di hadapan kami, ia tak tampak seperti aparat. Ia datang sederhana, tanpa pengawal, tanpa seragam. Hanya membawa mata yang tajam dan suara yang pelan tapi menusuk. Tak pernah menggurui, tapi selalu menantang cara kami berpikir.

Setiap pertemuan dengannya berakhir bukan dengan kesimpulan, tapi dengan pertanyaan. “Terus mau apa?” katanya pelan, setiap kali kami mengeluh tentang situasi negeri. Kadang ia menatap agak lama sebelum menambahkan, “Apakah mahasiswa sudah siap?” Dua kalimat sederhana itu sering kami bawa pulang dalam diam -lebih dalam dari teori politik mana pun.


“Politik itu bukan soal siapa berkuasa,” katanya suatu kali, “tapi siapa yang sanggup menjaga nurani ketika sudah punya kuasa.” Kalimat itu menempel di kepala saya sampai hari ini. Dari beliau saya belajar bahwa kecerdasan politik tanpa moral hanya akan melahirkan kekacauan yang lebih rapi.

Pak Suripto juga menanamkan prinsip yang selalu ia ulang: gerakan mahasiswa yang ideal harus Terstruktur, Terukur, dan Teratur. Ia tak suka aktivisme yang gaduh tapi tak punya arah. “Keberanian itu penting,” ujarnya, “tapi kalau tanpa strategi, hanya jadi energi yang cepat habis.” Dari beliau kami belajar bahwa berpikir jernih adalah bentuk keberanian yang paling tinggi.

Diskusi pribadi terakhir saya dengan beliau, sebelum beliau dirawat di rumah sakit, berputar pada tema state-corporate crime -tentang bagaimana negara bisa menjadi bagian dari kejahatan terorganisir ketika kekuasaan dan korporasi saling menutupi dosa. Suaranya pelan, tapi setiap kalimatnya menembus. “Kalau negara ikut bermain,” katanya, “siapa yang akan menjaga rakyatnya?”

Percakapan itu sederhana, tapi mengguncang. Dari sanalah saya terdorong menulis artikel “Tantangan Terberat Prabowo: State-Corporate Crime.” Kini saya sadar, topik itu bukan sekadar analisis politik, tapi semacam pesan moral terakhir dari seorang guru bangsa -bahwa keberanian intelektual berarti menolak diam di hadapan penyimpangan yang dilegalkan oleh negara.

Awal Oktober lalu, saya sempat menjenguk beliau di RS Fatmawati setelah menjalani operasi. Dua minggu dirawat, tapi semangatnya tetap sama. Suaranya memang pelan, tapi tajam seperti dulu. Ia masih bertanya tentang situasi politik nasional, seolah tubuhnya boleh melemah, tapi rasa ingin tahunya terhadap negeri ini tak pernah padam. Di ruang rumah sakit itu, saya sadar: bagi beliau, berpikir untuk Indonesia adalah bentuk ibadah terakhir yang tak bisa dihentikan bahkan oleh usia.

Pak Suripto sering berkata, tugas intelijen sejati bukan menakuti rakyat, tapi membaca arah sejarah -menjaga bangsa dari kesalahan langkah. Dan cara paling beradab untuk melakukannya adalah mendidik generasi muda agar tak kehilangan nurani ketika berhadapan dengan kekuasaan.

Bagi saya, Pak Suripto bukan sekadar mentor. Ia adalah cermin tentang bagaimana kekuasaan bisa dijalankan tanpa kehilangan kemanusiaan. Dalam dunia yang kian bising oleh ambisi dan kepalsuan, beliau mengingatkan kami bahwa menjaga integritas berpikir adalah bentuk tertinggi dari perjuangan.

Kini, ketika beliau telah berpulang, saya tahu beliau tidak benar-benar pergi. Jejaknya tetap hidup -di setiap pertanyaan yang membuat kami gelisah, di setiap keputusan yang memaksa kami menimbang antara idealisme dan realitas.

Selamat jalan, Pak Suripto. Intelijen sejati tak pernah mati -mereka hanya berpindah tempat, dari ruang operasi ke ruang batin murid-muridnya.

Dan saat saya mengantar kepulanganmu, barangkali cara terbaik mendoakanmu adalah dengan tetap melanjutkan kegelisahanmu.

*Direktur Eksekutif Indonesia Future Studies (INFUS).


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Wall Street Variatif, Nasdaq Naik Ditopang Saham AI

Rabu, 23 September 2026 | 08:21

Kejagung Garap Lima Saksi di Kasus Korupsi MBG, Ada Pegawai SPPG Karawang

Rabu, 23 September 2026 | 08:06

Emas Gagal Bersinar, Tertekan Ekspektasi Suku Bunga Ketat dan Penguatan Dolar AS

Rabu, 23 September 2026 | 07:41

Dolar AS Berfluktuasi Ditopang Ketidakpastian Minyak

Rabu, 23 September 2026 | 07:23

Bursa Eropa Beragam: Dorongan Sektor Teknologi Imbangi Tekanan Sektor Keuangan

Rabu, 23 September 2026 | 07:07

Ruang Amal Indonesia-IFG Life-Kemenko PM Hadirkan Program bagi Ojol Tunarungu

Rabu, 23 September 2026 | 06:40

Sering Kebakaran, Gedung Wajib Miliki Alat Deteksi Dini

Rabu, 23 September 2026 | 06:28

MUI Minta Pelaku Usaha Bersiap Hadapi Wajib Halal 18 Oktober

Rabu, 23 September 2026 | 06:18

Kursi Gibran Goyang

Rabu, 23 September 2026 | 06:03

Dua Jemaah Haji Indonesia Masih Dirawat di RS Arab Saudi

Rabu, 23 September 2026 | 05:45

Selengkapnya