Berita

Logo Partai Persatuan Pembangunan (PPP). (Foto: Dokumentasi RMOL)

Publika

Mambaca Momentum Perubahan PPP

JUMAT, 26 SEPTEMBER 2025 | 05:06 WIB

PARTAI Persatuan Pembangunan (PPP) berada pada persimpangan sejarah. Esksistensinya dalam perpolitikan nasional sedang diuji. Apakah PPP akan tetap mampu untuk eksis kedepan?

Pemilihan ketua umum dalam Muktamar X yang digelar pada 27-29 September 2025 akan menentukan arah partai berlambang Ka’bah ini. 

Dua nama calon sudah muncul ke permukaan, Agus Suparmanto, mantan Menteri Perdagangan dan Muhammad Mardiono, yang akan mencalonkan diri sebagai ketua umum PPP periode 2025-2030. 


Keduanya memiliki basis pendukungnya masing-masing. Namun, Mardiono memiliki catatan kelam, yakni kegagalan membawa PPP untuk lolos parliamentary threshold (ambang batas parlemen) 4 persen. 

Dengan kegagalan ini, Mardiono memikul beban yang sangat berat untuk menjadi ketua umum. Sebaliknya, Agus Suparmanto muncul sebagai calon alternatif yang memiliki peluang kemenangan. Berdasarkan kapasitas, dukungan dan visi strategis yang ia miliki, peluang Agus Suparmanto untuk memimpin PPP sangat besar.

Agus Suparmanto merupakan orang yang cukup berpengalaman dalam perpolitikan di Indonesia. Ia pernah menjadi Menteri Perdagangan dalam Kabinet Indonesia Maju. 

Pengalaman di struktur eksekutif ini menunjukkan kapasitas yang tidak diragukan untuk menjadi pemimpin PPP. Selama karirnya sebagai menteri, ia berhasil menyusun strategi dalam meningkatkan kinerja perdagangan. Peningkatan ekspor dan penguatan pasar dalam negeri. Ini menunjukkan kemampuan dan pemahaman mendalam akan dinamika ekonomi global.
    
Agus Suparmanto juga merupakan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (IKASI). Pengalaman organisasi pada level nasional ini membuktikan kemampuan menajerial Agus. Pengalaman ini akan sangat berharga dalam memimpin partai politik. 

Agus juga merupakan Direktur Utama PT. Galangan Manggar Biliton (GMB), yang menunjukkan adanya pengalaman Agus dalam manajemen dan tata kelola korporat. 

Dukungan kepada Agus Suparmanto yang mengalir dari para kiai, tokoh-tokoh senior dan kader PPP adalah bagian penting yang bisa dibaca sebagai modal dan terbukanya peluang bagi Agus untuk meraih kemenangan di Muktamar Ancol nanti.

Masa transisi partai dan derasnya isu perubahan sungguh menguntungkan bagi Agus untuk memperlebar peluang dirinya memenangi perebutan ketum PPP.

Setidaknya ada dua teori yang bisa dijadikan analisis terhadap konstalasi Muktamar PPP X ini. Pertama, teori kharisma, tradisi, dan legal-rasional Max Weber. Kedua, teori modal politik dari Pierre Bourdieu. 

Berdasarkan teori Weber, Agus Suparmanto memiliki perpaduan yang unik dari tiga elemen tersebut. Pengalamanya sebagai menteri menunjukkan bahwa Agus memiliki kapasitas legal-rasional yang mumpuni. 

Kemampuan ini akan dapat membawa PPP keluar dari jurang kegelapan dengan arah penerangan yang dimiliki oleh Agus. Kompetensi administratif dan kebijakan publik yang dimiliki oleh seorang pemimpin amat penting bagi PPP dalam kalkulasi perpolitikan ke depan.

Agus juga merupakan sosok yang cukup punya kharisma di mata para politisi. Kedekatannya dengan kiai, ulama dan tokoh-tokoh Islam tradisional merupakan bukti kuat adanya koneksi spiritual dan kultural sebagai calon pempimpin partai Islam. Kedekatan Agus dengan tokoh-tokoh tersebut menjadi legitimasi tradisional pada komunitas santri yang merupakan basis elektoral PPP.

Jika merujuk pada teori Pierre Bourdieu, Agus memiliki kombinasi modal yang lengkap. Pertama, pengalamannya sebagai direktur sebuah korporasi menunjukkan bahwa ia memiliki modal kemampuan dalam mengelola sumber daya. 

Kedua, kedekatan dengan kiai, ulama, dan tokoh-tokoh Islam tradisional memberikan kredibilitas intelektual yang erat dengan pendidikan dan keilmuan Islam. 

Ketiga, Agus Suparmanto memiliki modal sosial yang terlihat dari jaringan politik yang luas, jaringan bisnis sampai jaringan organisasi masyarakat sipil. 

Keempat, sebagai mantan menteri, Agus memiliki modal simbolik yang akan memberikan dampak prestisius bagi PPP..

Yang tak kalah penting, Agus didukung dengan cukup solid dan dideklarasikan oleh para ulama, senior, dan mayoritas DPW PPP.  Ini faktor yang cukup signifikan dalam konstalasi Muktamar.

Taj Yasin Maimoen Zubair atau Gus Yasin, putra almarhum Mbah Maimoen Zubair, juga debgan tegas memberikan dukungan kepada Agus. 

Jika Agus terpilih, Gus Yasin akan membersamai Agus menjadi sekjen PPP. Keduanya bertekad akan membawa perubahan dan melakukan proses regenerasi lebih serius lagi pada pematangan partai kedepan. 

PPP yang sempat gagal memenuhi ambang batas parlemen membutuhkan strategi pengelolaan yang lebih tepat agar kedepan bisa kembali masuk ke Senayan. Inilah gagasan yang ditawarkan oleh Agus Suparmanto dan Taj Yasin dalam kampanyenya di hadapan calon-calom peserta Muktamirin. 

Harapan kepada Agus Suparmanto, dengan didampingi Taj Yasin untuk memimpin PPP semakin menguat. Harapan akan wajah baru pemimpin partai dengan kapasitas dan kapabilitas yang doyakini tidak meragukan. 

Pengalaman dan track record yang dimiliki oleh Agus Suparmanto dan Taj Yasin memunculkan semangat para kader untuk membawa PPP untuk terus eksis dalam melanjutkan cita-cita dan visi para ulama. Revitalisasi partai punya harapan ketika PPP dipimpin oleh wajah baru. 

Agus diyakini oleh para kader memiliki kemampuan untuk memulihkan keadaan partai yang sempat melemah dan menurun pada pemilu 2024. Agus, didampingi Taj Yasin, juga diyakini akan mampu merealisasikan visi para ulama itu.

Agus adalah satu-satunya sosok yang muncul dan punya kesanggupan untuk melawan Mardiono setelah nama Dudung Abdurrahman, Amran Sulaiman, Anies Baswedan, KH Fanani dan Gus Idror menghilang. Hanya tinggal nama Agus yang menjadi pintu perubaham bagi PPP kedepan. Agus adalah sosok yang dibutuhkan oleh PPP di era transisi saat ini. 

Apakah PPP akan merespons kehadiran Agus ini dengan baik, atau justru terjebak pada kepemimpinan lama yang memberikan pengalaman pahit dan tumbang di bawah ambang batas parlemen? 

Pilihannya kembali pada kader PPP sendiri yang akan menentukan nasib PPP di masa depan.


Ozi Setiadi
Dosen IAIN Kudus

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Kalah di PN Jakpus, Penggugat PPP Subadri-Toni Dihukum Bayar Biaya Perkara

Senin, 03 Agustus 2026 | 22:10

Prabowo Terima Medali Kehormatan dari Angkatan Bersenjata Tailan

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:34

Buru Aset TPPU Febrie Adriansyah, Tim 9 Geledah Kantor Don Ritto hingga Rumah Nurman Herin

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:30

Prabowo dan PM Tailan Bidik Nilai Perdagangan Rp359 Triliun dalam Lima Tahun

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:20

Ini Enam Perkara yang Dihentikan KPK

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:10

Petingginya Diperiksa Kejati DKI, Peran AFPI Disorot

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:52

Indonesia-Tailan Sepakat Kembangkan TRM untuk Perangi Kejahatan Transnasional

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:49

Bawaslu Fokus Tingkatkan SDM Hadapi Tantangan Digital

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:38

Prabowo Kenang Masa Muda Bersama Raja Tailan Saat Sambut PM Anutin

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:30

Prabowo Dukung PPHN Jadi Pedoman Lintas Pemerintahan

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:16

Selengkapnya