Berita

Mohamad Fazrial Ihfron. (Foto: Dokumentasi Penulis)

Suara Mahasiswa

Mengurai Benang Kusut Negeri

OLEH: MOHAMAD FAZRIAL IHFRON*
KAMIS, 04 SEPTEMBER 2025 | 01:43 WIB

AGUSTUS 2025 lalu sejarah kembali mencatat luka. Api kerusuhan membara di jalanan, asap memenuhi udara, dan suara rakyat yang seharusnya didengar justru dibungkam dengan stigma. Ada oknum yang menyalakan percikan, ada tangan-tangan gelap yang menebar kekacauan, namun label hina justru dilekatkan kepada sipil dan mahasiswa. Mereka dituding sebagai biang kerusuhan, seolah-olah suara kritis adalah dosa, padahal nyatanya mereka hanyalah saksi sekaligus korban dari rekayasa yang ingin memecah belah bangsa.

Kita harus melawan narasi menyesatkan ini. Rakyat bukan musuh negara, mahasiswa bukan perusuh jalanan. Mereka turun ke jalan karena cinta pada negeri, karena ingin menyelamatkan cita-cita kemerdekaan yang kian diselewengkan. Menuding rakyat sebagai aktor kerusuhan adalah pengkhianatan terhadap demokrasi, dan membungkam mahasiswa dengan stigma adalah penistaan terhadap sejarah bangsa yang lahir dari api perlawanan generasi muda.

Inilah saatnya kita menegaskan kembali bahwa kebenaran tidak bisa dipadamkan dengan propaganda. Tidak ada keadilan dalam demokrasi jika rakyat diperlakukan sebagai musuh, sementara dalang sejati kerusuhan dibiarkan bersembunyi di balik bayang-bayang kekuasaan. Negara yang menuding rakyatnya sendiri adalah negara yang sedang kehilangan akal sehatnya.


Namun bangsa ini belum mati. Dari luka Agustus lahirlah kesadaran baru, bahwa kita harus bersatu untuk mengurai benang kusut yang mencekik negeri ini. Politik harus kembali menjadi ruang pengabdian, bukan persekongkolan elit. Hukum harus tajam ke atas, bukan hanya tajam ke bawah. Aparat harus berdiri di sisi rakyat, bukan menjadi alat represi yang mudah diarahkan. Generasi muda harus berani mengambil peran, menyalakan api perubahan, dan menolak tunduk pada stigma yang menyesatkan.

Benang kusut negeri tidak akan terurai jika kita hanya menunggu belas kasih dari penguasa. Ia hanya bisa diurai dengan kesadaran kolektif, dengan keberanian untuk berkata tidak pada kebohongan, dan dengan tekad untuk melawan rekayasa yang merampas martabat bangsa.

Agustus adalah luka, tetapi juga peringatan. Jangan biarkan luka itu sekadar menjadi noda dalam sejarah, jadikan ia bara yang menyala untuk membakar semangat perubahan. Bangsa ini hanya akan menemukan jalan pulang ketika rakyat bersatu, ketika mahasiswa berdiri tegak, dan ketika kebenaran tidak lagi dibungkam oleh stigma.

Indonesia bukan negeri yang lemah. Ia hanya sedang menunggu keberanian anak-anaknya untuk melawan narasi yang menyesatkan, meruntuhkan kebohongan, dan menyalakan kembali api keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.

*Penulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ)

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Memutus Urat Nadi Korupsi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:54

Festival Layanan AHU Berdampak 2026 Hadirkan Edukasi ke Masyarakat, Ini Lengkapnya

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:24

Gus Yusuf Legawa Sikapi Dinamika Muktamar ke-35 NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:49

Mendesak Para Kiai Sepuh Turun Tangan Meredam Suhu Panas Muktamar NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:33

Jalan Sehat jadi Cara Hanura Kalsel Konsolidasikan Pemilu 2029

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:15

Profil 9 Ulama AHWA Muktamar NU: Sosok Kharismatik Penentu Rais Aam PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:45

TikTok dan Tokped Digugat Class Action Rp1,2 Triliun

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:11

Ini 9 Ulama AHWA Terpilih Muktamar ke-35 NU, Suara Mbah Yai Da Paling Tinggi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:46

Dikawal DPR, Tagihan Rp158 Miliar PT Pos Akhirnya Dibayar Kemensos

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:04

Kiai Rembang Cium 'Hidden Agenda' Penjegalan Caketum PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 19:56

Selengkapnya