Berita

(Foto: Dok MIND ID)

Bisnis

Hilirisasi Mineral Tetap Mampu Jaga Kelestarian Alam Indonesia

SENIN, 25 AGUSTUS 2025 | 17:31 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Pertambangan kerap mengubah ekologi lingkungan di daerah operasionalnya. Namun, dengan praktik yang baik dan pemanfaatan teknologi, industri pertambangan Indonesia mampu memberi manfaat besar bagi perekonomian sekaligus menjaga kelestarian alam.

Dosen Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB, Imam Santoso menegaskan bahwa kemajuan peradaban masa depan Indonesia tidak akan lepas dari kontribusi pertambangan.

“Pertambangan memang melakukan engineering alam, dan itu seperti dua sisi mata uang. Karena itu, kita harus menerapkan praktik terbaik agar manfaat ekonominya bisa dirasakan, sekaligus alamnya tetap terjaga,” kata Iman dalam Sosialisasi MediaMIND di ITB Bandung, Jawa Barat, dikutip Senin 25 Agustus 2025.


Imam menyampaikan bahwa saat ini sektor pertambangan Indonesia sudah banyak menggunakan teknologi seperti real-time monitoring, VR, hingga control room yang mengendalikan alat berat dari jarak jauh. 

Teknologi ini tidak hanya meningkatkan keselamatan pekerja, tetapi juga membuat operasional tambang lebih efisien dan semakin rendah emisi gas rumah kaca (GRK). 

Hal ini salah satunya dilaksanakan oleh Freeport Indonesia di tambang tembaga di Papua. Dengan Minegem Productivity Improvement Project, operasional tambang dijalankan melalui control room yang jaraknya 7 km dari tambang.

Ia menambahkan, tailings pertambangan kini sudah banyak dikembangkan dan diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat serta bernilai tambah ekonomi. 

Ke depan, industri daur ulang barang elektronik, telepon seluler, hingga baterai diprediksi akan menjadi sektor turunan pertambangan yang semakin berkembang.

Dengan begitu, limbah produk yang sarat dengan mineral dan logam dapat diminimalisir, dan sirkular ekonomi yang mendukung kelestarian lingkungan.

Adapun, proyek daur ulang ini juga tengah dikembangkan oleh Grup MIND ID dalam ekosistem baterai EV. 

Grup MIND ID memastikan baterai yang habis masa guna nantinya akan dapat didaur ulang sehingga kebutuhan terhadap mineral tambang dari dalam bumi dapat dikurangi di masa depan.

Selain itu, pertambangan Indonesia juga menghasilkan bahan baku penting untuk pengembangan energi berkelanjutan, seperti panel surya. 

Tren ini akan membuat konsumsi energi terbarukan nasional semakin besar, sekaligus menurunkan ketergantungan Indonesia terhadap batu bara maupun impor bahan bakar fosil.

Dalam hal ini, Grup MIND ID pun telah memiliki produk tin intermediate dengan yang menjadi bahan baku bagi pelapis panel surya. Dengan kapasitas produksi 8.000 ton/tahun, Grup MIND ID mampu menjawab kebutuhan industri energi terbarukan dalam negeri.

Lebih lanjut, Imam percaya bahwa sumber daya manusia Indonesia sudah sangat berkualitas untuk mewujudkan pertambangan berkelanjutan.

Universitas-Universitas di Indonesia khususnya ITB memiliki bidang keilmuan di pertambangan, teknologi industri, hingga lingkungan yang siap menjadi penggerak bagi sektor industri pertambangan masa depan Indonesia. 

“Indonesia tidak pernah kekurangan sumber daya manusia. Kita hanya perlu mengoptimalkan potensi yang kita punya, agar tambang bisa menjadi bagian dari peradaban yang lebih baik, ramah lingkungan, dan memberi manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat,” pungkasnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Bea Cukai Sita 1.435 Bale Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp11,4 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:26

Bea Cukai Gagalkan 30 Kontainer Berisi Beras-Garam hingga Balpres, Nilainya Rp27,3 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:14

Lulus Kuliah, Sarjana SGU Ditantang Adaptif Hadapi Perubahan

Selasa, 22 September 2026 | 12:03

KPK Bakal Dalami Keterlibatan Dua Dirjen ATR/BPN yang Belum Jadi Tersangka

Selasa, 22 September 2026 | 11:55

Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok

Selasa, 22 September 2026 | 11:51

Menlu Sugiono Serukan Langkah Nyata Group Eight Hentikan Krisis Gaza

Selasa, 22 September 2026 | 11:49

Harga Bitcoin Melonjak 6,66 Persen ke 86.614 Dolar AS

Selasa, 22 September 2026 | 11:47

Parpol Nonparlemen Bakal Kesulitan Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Selasa, 22 September 2026 | 11:37

NPCT1 Pastikan Tidak Ada Korban Pasca-Kebakaran Kontainer

Selasa, 22 September 2026 | 11:32

Sjafrie Apresiasi Jepang, dari Kemitraan Pertahanan hingga Bantuan Chinook

Selasa, 22 September 2026 | 11:05

Selengkapnya