Berita

Ilustrasi Endek (Foto: artificial intelligence)

Nusantara

Merayakan Endek Bali

MINGGU, 17 AGUSTUS 2025 | 06:39 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

ADA pepatah lama yang tidak tercatat di prasasti manapun tapi hidup di mulut rakyat: Titah raja bisa jadi agama. Di Bali, ini bukan sekadar metafora, ia menjelma dalam bentuk selembar kain berwarna-warni yang kini merayap ke setiap tubuh, dari ASN sampai anak SD. Namanya Endek. Kitab sucinya? Surat edaran. Hari rayanya? Setiap Selasa.

Jangan heran kalau sekarang Bali seperti sedang menggelar “haji kecil” kain. Semua orang berbondong-bondong menjadi jamaah endek, dengan motif bunga, garis, bahkan motif-motif yang entah filosofinya apa tapi katanya “mengandung makna mendalam”. Kalau ditanya maknanya, banyak yang tersenyum kecut sambil bilang, “Pokoknya ini motif Karangasem, bro.”

Dulu, endek dianggap kain yang agak kudet: mahal, panas, kaku, bahkan “ndeso”. Tapi sejak Gubernur Wayan Koster mengeluarkan titah wajib endek tiap Selasa untuk ASN, pejabat, sampai pelajar, sikap publik berubah drastis. Kini siapa yang tak punya endek, ia bagaikan orang Bali yang tak pernah makan lawar, aneh dan memalukan.


Di sinilah saya perlu mengutip catatan lapangan Wayan Suyadnya, yang suatu hari iseng jalan di Denpasar dan menemukan butik-butik endek bermunculan di mana-mana: Jalan Kemuda, Seroja, Nangka, Antasura, Kenyeri, hingga Padma.

Pemiliknya orang Bali sendiri, menghidupkan kembali perajin udeng dan penjahit lokal yang sempat “tertidur” karena serbuan pakaian instan pabrik. Fenomena ini, kata Wayan, mengubah wajah jalanan Bali, dari yang dulu penuh jaket dan celana jeans, kini jadi pawai kain adat setiap pekan.

Lalu, mari kita bicara soal fakta. Endek bukan kain instan seperti kaos distro. Ia dibuat dengan teknik ikat pakan (weft ikat), motif diikat, benang dicelup berkali-kali, lalu ditenun manual dengan ATBM (alat tenun bukan mesin). Satu lembar bisa makan waktu sebulan. Wajar kalau harga mulai dari Rp 120 ribu per meter, hingga jutaan untuk sutra motif eksklusif. Kalau mau gaya, ongkos jahitnya bisa nyaris separuh harga kainnya.

Masalahnya, di balik euforia ini, ada potensi jebakan. Pertama, inflasi gengsi: kain Rp 500 ribu dijual sejuta hanya demi “branding” butik. Kedua, banjir imitasi: endek “made in pabrik” yang dicetak, bukan ditenun, mulai merembes ke pasar. Ketiga, seragamisasi rasa: ketika semua orang diwajibkan memakai, ekspresi personal bisa hilang, dan endek jadi sekadar “pakaian dinas” alih-alih karya budaya.

Di titik ini, saya tak ingin menjadi pengkhotbah di pojok pasar. Justru saya ingin kebijakan ini bertahan, tapi dengan akal sehat. Kalau pemerintah bisa bikin aturan wajib endek, mestinya bisa juga bikin lembaga kurator mutu.

Setiap butik yang lulus pembinaan mendapat sertifikat resmi, seperti label halal di warung bakso. Dan setiap kain disertai narasi, “Ditenun oleh Bude Keling, benang dari kapas Blahbatuh, motif warisan abad ke-17?, supaya pembeli merasa membeli cerita, bukan sekadar tekstil.

Karena tanpa itu, kita bisa terjebak dalam cinta yang sementara. Hari ini kita bangga, besok kita jengkel karena kain yang kita beli pudar setelah dua kali cuci. Pasar rakus bisa membunuh romansa secepat ia menenunnya.

Dan jangan lupa, Bali bukan satu-satunya pulau yang punya motif di benangnya dan kisah di kainnya. Dari Aceh sampai Papua, tiap daerah punya “endek”-nya sendiri, entah namanya ulos, songket, tapis, sasirangan, atau koteka (yang, mohon maaf, fungsi utamanya agak berbeda).

Indonesia ini bisa “bhinneka” bukan cuma karena kita hafal lirik lagu kebangsaan, tapi karena tiap daerah punya budaya yang bisa dihidupkan seperti Bali menghidupkan endek.

Coba bayangkan kalau tiap provinsi berani mengangkat warisan kainnya sendiri seperti ini, bukan hanya jadi dekorasi di ruang tamu gubernur, tapi menempel di badan warganya. Kita bisa punya parade busana nasional sepanjang tahun, tanpa harus menunggu karnaval 17 Agustusan seperti hari ini.

Akhir kata, fenomena ini adalah paradoks yang layak dicatat: kebijakan yang awalnya dipandang merepotkan, bahkan ditolak, kini menjadi simbol kebanggaan kolektif.

Endek telah naik pangkat: dari kain yang dipakai karena terpaksa, menjadi bahasa identitas yang disampaikan Bali kepada dunia. Bedanya, bahasa ini tidak diucapkan lewat kata, melainkan lewat motif dan warna di punggung para penunggang motor setiap Selasa pagi.

Penulis adalah Wartawan Senior dan Kolumnis




Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Cerita Zulhas, Numpang Helikopter TNI ke Bogor

Kamis, 17 September 2026 | 21:47

Hari Transportasi Nasional, Momentum Wujudkan Kedaulatan Energi Bersama Program B50

Kamis, 17 September 2026 | 21:17

Ulasan Buku: Sumbangan Filsafat dari Indonesia untuk Dunia yang Kehilangan Makna

Kamis, 17 September 2026 | 21:15

KPK Amankan Dokumen dan Bukti Elektronik dari Penggeledahan di Kementerian ATR/BPN

Kamis, 17 September 2026 | 20:53

Bahlil Pastikan BUK Pengganti SKK Migas Langsung di Bawah Presiden

Kamis, 17 September 2026 | 20:41

Haji Isam Borong 10 Miliar Saham Bayan Resources

Kamis, 17 September 2026 | 20:21

Prabowo Pimpin Sidang Dewan Energi Nasional, Dorong Persiapan Produksi E50

Kamis, 17 September 2026 | 20:04

Ekoteologi PTKIN Raih Penghargaan UI GreenMetric 2026

Kamis, 17 September 2026 | 19:44

Ratusan Karyawan PT HD Arjuna Tuntut Kembali Bekerja

Kamis, 17 September 2026 | 19:44

Bahlil Akui Kasus Korupsi Fahd A Rafiq Musibah bagi Golkar

Kamis, 17 September 2026 | 19:38

Selengkapnya