Berita

Makanan olahan/Ist

Publika

Setan Makanan Olahan

SABTU, 26 JULI 2025 | 06:55 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

PERNAHKAH Anda menyantap makanan olahan seperti sosis sambil memandangi langit sore, merasa hidup ini indah dan penuh kemudahan? Makanan tinggal goreng. Tidak ada tulang, tidak ada amis, bahkan tidak ada bentuk hewan aslinya.

Betapa mudah hidup ini, pikir Anda. Daging telah ditumbuk, dibumbui, dipadatkan, diawetkan, dan dijadikan silinder kecil yang praktis dan memikat selera. Rasanya? Gurih. Aromanya? Menggoda. Efeknya? Nah, di situlah letak tragedi dimulai.

Di dunia modern, makanan tak lagi sekadar sumber hidup, tapi justru rute tercepat menuju penyakit kronis. Dan ini bukan sekadar kata nenek bijak atau slogan influencer organik. Ini hasil studi terbaru yang terbit di Nature Medicine, dikupas secara gamblang oleh EatingWell.


Intinya adalah makanan olahan itu seperti utang kartu kredit dimana nikmat di awal, menyiksa di akhir.

Mari bayangkan sejenak, hasil studi menunjukkan, hanya dengan makan dua sampai tiga sosis sarapan setiap hari, risiko Anda terkena diabetes tipe 2 naik 30 persen. Tiga sosis! Itu bahkan belum cukup untuk memuaskan anak SMA yang baru pulang futsal.

Tapi dampak dari makanan olahan itu begitu luar biasa, seperti minum sirup glukosa sambil berjoget di atas pankreas sendiri. Lucunya, kita semua tahu soda itu buruk. Bahkan produsen soda pun tahu, makanya mereka sekarang jualan versi “nol kalori” sambil tetap memamerkan kata “refreshing” dengan penuh percaya diri.

Tapi studi ini menyampaikan kejutan bahwa bahaya soda yang sudah luar biasa itu pun masih kalah mematikan dibandingkan makanan olahan seperti sosis. Ternyata yang selama ini kita kira monster (soda), hanyalah sidekick. Monster utamanya? Ya itu tadi, makanan yang “diproses”.

Saya tidak yakin siapa yang pertama mencetus istilah processed food. Tapi, yang jelas, orang itu punya selera humor yang gelap. Karena pada kenyataannya, kitalah yang justru diproses dimana pankreas diproses sampai lelah, jantung diproses sampai nyeri, usus diproses sampai tumbuh tumor.

Makanan olahan, dari nugget ayam hingga ham kalkun, dari dendeng sapi instan hingga pizza beku yang bisa bertahan dua tahun tanpa kulkas, adalah bukti betapa umat manusia mampu menciptakan sesuatu yang tampak seperti makanan, tapi bekerja seperti racun bertahap. Dan tetap saja, laris manis.

Mengapa orang suka dan mau bayar beli penyakit? Karena praktis. Karena enak. Karena tak ribet. Karena di iklan disebut “disukai anak-anak”. Dan karena kita sudah terlalu lelah untuk mencuci sayur atau mengukus tempe. Lagipula, mana sempat kita mikir kesehatan kalau sedang rebutan flash sale jam dua pagi?

Nah, justru karena itu, studi ini penting untuk dibahas. Penelitian ini diprakarsai oleh tim dari Institute for Health Metrics and Evaluation, dipimpin oleh Dr. Demewoz Haile Woldegebreal bersama rekan-rekannya yaitu Kassandra Harding, Susan McLaughlin, Charlie Ashbaugh, Vanessa Garcia, Nora Gilbertson, dan Michael Brauer. Lalu hasilnya diterbitkan di Nature Medicine pada 30 Juni 2025.

Dengan data dari lebih dari 60 studi besar mencakup jutaan peserta, mereka menggunakan metode Burden of Proof meta-regression yang canggih untuk menghitung hubungan antara konsumsi daging olahan, minuman manis, dan trans fat dengan risiko penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung iskemik, dan kanker kolorektal.

Apa yang membuat penelitian ini layak diberi standing ovation, selain karena keberaniannya menantang sosis, adalah pendekatan ilmiahnya yang jeli dan menyeluruh. Mereka tidak sekadar membaca ulang riset lama, tapi menyusun ulang peta risikonya dengan cara yang bisa diukur secara konkret.

Yang mereka teliti ini bukan lagi soal “mungkin berbahaya”, tapi soal “berapa persen kemungkinan Anda sakit kalau makan satu porsi sosis per hari.” Dan, dengan segala kerendahan hati, hasilnya menggentarkan. Sungguh mengerikan.

Misalnya, hanya dengan minum segelas soda (sekitar 240 ml) setiap hari, risiko Anda terkena diabetes naik 20 persen dan risiko penyakit jantung bertambah 7 persen. Itu baru satu gelas, bukan pesta ulang tahun dengan refill tak terbatas.

Dan jangan lupakan trans fat, makhluk halus yang sering menyamar dalam biskuit kalengan dan donat warung. Mengonsumsi hanya 1 persen dari total kalori harian dari trans fat sudah cukup untuk meningkatkan risiko penyakit jantung sebesar 11 persen. Persentasenya kecil, tapi efeknya? Langsung mengantarkan Anda ke IGD, tanpa antre BPJS.

Mari jujur sebentar. Apakah semua ini benar-benar baru bagi kita? Tidak juga. Kita semua pernah dengar bahwa makanan instan itu buruk. Tapi mendengar bahwa bahkan sedikit saja dari makanan olahan itu bisa memicu penyakit berat, itulah bagian yang menampar. Seperti tahu pasangan Anda selingkuh bukan saat mereka menghilang seminggu, tapi saat mereka mendadak perhatian.

Studi ini memang berbasis observasi, bukan eksperimen laboratorium yang mengurung relawan dan menyuapi mereka nugget selama lima tahun. Tapi tetap, datanya padat dan valid.

Semakin sering Anda makan makanan olahan, semakin besar kemungkinan tubuh Anda menjadi ladang subur bagi penyakit metabolik. Satu piring mungkin tidak membunuh, tapi konsistensi “praktis” adalah tiket pelan-pelan menuju instalasi penyakit dalam.

Yang lebih ironis, kita membesarkan generasi anak-anak dengan sosis dan keju leleh, lalu bingung mengapa mereka enggan makan sayur. Kita menyodorkan mereka minuman manis bergambar hewan lucu, lalu bertanya kenapa berat badan mereka naik tiap semester.

Kita mungkin sempat menyalahkan genetika, padahal yang kita wariskan bukan gen, tapi pola makan impulsif yang penuh bungkus plastik.

Tentu saja, tidak semua makanan olahan harus dibakar di alun-alun. Kita hidup di dunia nyata. Kadang kita memang butuh praktis. Tapi studi ini memberi kita alasan sah untuk mulai berpikir ulang. Tidak semua kenyamanan layak dipertahankan, jika artinya kita menyerahkan tubuh pada logika industri alih-alih logika kehidupan.

Jadi mari kita pelan-pelan: kurangi sosis, tinggalkan soda, kembali lirik dapur, bukan kotak freezer. Masak sesuatu yang bisa disebut makanan sungguhan. Mungkin tak secepat mie instan, tapi bisa memberi umur yang lebih panjang dan pikiran yang lebih waras.

Karena pada akhirnya, kita adalah apa yang kita makan. Dan tak ada satu pun dari kita yang ingin dikenang sebagai “produk gagal dari pabrik nugget.”

Penulis adalah Wartawan Senior

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Asta Cita Tanpa Konsistensi akan Timbul Moral Hazard

Senin, 08 Juni 2026 | 05:48

Pameran ‘Aku Arek Suroboyo’ Ramaikan Peringatan Bulan Bung Karno

Senin, 08 Juni 2026 | 05:24

GP Ansor Jakbar Gelar Diklatsar Tanggapi Sebutan ‘Gotham City’

Senin, 08 Juni 2026 | 04:59

Pernyataan Purbaya dan Djaka Saling Menguatkan dalam Kasus Tiffany & Co

Senin, 08 Juni 2026 | 04:46

Perkuat KDKMP

Senin, 08 Juni 2026 | 04:26

Purbaya Tidak Punya Backup Politik untuk Jalankan Misi Presiden

Senin, 08 Juni 2026 | 03:57

Jangan Kasih Tempat untuk Boti di Negeri Ini!

Senin, 08 Juni 2026 | 03:37

BEI Jabar Gencarkan Literasi Pasar Modal ke Kampus hingga SD

Senin, 08 Juni 2026 | 03:17

Menanti Hasil Uji Fundamental Perekonomian Indonesia

Senin, 08 Juni 2026 | 02:59

IPB University Raih Juara Umum Program Mahasiswa Berdampak Kemendiktisaintek

Senin, 08 Juni 2026 | 02:50

Selengkapnya