Berita

Letjen TNI Kunto Arief Wibowo/Ist

Publika

Prabowo The Last Emperor Revisi Mutasi Letjen Kunto, TNI di Persimpangan Loyalitas dan Profesionalisme

Oleh: Agusto Sulistio*
MINGGU, 04 MEI 2025 | 09:27 WIB

REVISI mendadak atas mutasi Letjen TNI Kunto Arief Wibowo dari jabatan strategis Pangkogabwilhan I menjadi Staf Khusus KSAD, yang kemudian dibatalkan hanya dalam waktu satu hari, menjadi sorotan tajam. 

Meski dijelaskan sebagai langkah teknis demi kepentingan organisasi, publik tidak bisa menutup mata dari dimensi sosial-politik yang lebih luas terutama di tengah situasi transisi kekuasaan dari Presiden Joko Widodo ke Presiden terpilih Prabowo Subianto.

Dalam dunia politik, persepsi adalah bagian strategis kekuasaan. Ia membentuk opini publik yang dapat memperkuat legitimasi, atau sebaliknya, menimbulkan ketidakpercayaan. Ketika mutasi perwira tinggi sekelas Kunto dilakukan dan kemudian direvisi dalam waktu singkat tanpa penjelasan substansial yang meyakinkan, persepsi publik pun bekerja. 


Apalagi Letjen Kunto adalah putra dari Jenderal (Purn) Try Sutrisno, mantan Wakil Presiden dan mantan Panglima TNI yang saat ini menjadi salah satu purnawirawan yang bersuara lantang terhadap proses politik yang cacat, termasuk mengusulkan agar Gibran Rakabuming Raka mundur dari jabatan Wapres terpilih.

Maka wajar jika publik menaruh curiga, dugaan dari adanya “cawe-cawe” sisa-sisa kekuasaan dalam tubuh TNI.

Namun, muncul pula kabar yang belum terkonfirmasi bahwa batalnya pencopotan Letjen Kunto tak lepas dari sikap Presiden terpilih Prabowo Subianto yang tidak menyetujui keputusan tersebut. 

Jika kabar ini benar, maka hal itu patut dipandang sebagai sesuatu yang wajar dan sah pula secara konstitusi. Sebab dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, Presiden adalah Panglima Tertinggi atas TNI dan Polri, dan segala bentuk keputusan strategis pertahanan tidak bisa dilepaskan dari restu pemimpin tertinggi negara.

Di sisi lain, publik tahu bahwa Prabowo bukanlah orang asing dalam dunia militer. Sebagai mantan Danjen Kopassus dan Panglima Kostrad, Prabowo tentu memahami kompleksitas dinamika internal militer. 

Pengalaman pahit yang ia alami pasca-1998, ketika diberhentikan secara mendadak tanpa alasan yang jelas dan nyaris tanpa pembela, pasti meninggalkan bekas sejarah tersendiri. Dan mungkin, pengalaman itulah yang membentuk cara pandangnya hari ini, lebih bijak, lebih tenang, dan lebih tegas dalam melihat dinamika serupa yang menimpa junior-juniornya.

Jika benar Prabowo ikut mencegah pencopotan Letjen Kunto, itu justru menjadi cermin bahwa ia tidak hanya memimpin dengan kuasa, tetapi juga dengan empati. Bahkan Gus Dur, Presiden keempat RI yang dikenal tegas dan jujur, pernah mengatakan bahwa Prabowo adalah orang yang ikhlas dan penolong. Barangkali dalam peristiwa ini, nilai-nilai itu sedang diperlihatkan.

Dari sisi pertahanan nasional, semua ini menjadi ujian penting bagi TNI apakah ia tetap menjadi alat negara yang netral, profesional dan tak tunduk pada tarik-menarik kepentingan kekuasaan? Ataukah ia akan kembali terseret dalam konflik politik sipil yang bisa menggerus kepercayaan rakyat dan mengingkari demokrasi dan reformasi 1998.

Dalam setiap transisi kekuasaan, rakyat hanya meminta satu hal dari TNI setialah pada rakyat dan konstitusi, bukan pada kepentingan sesaat. Karena di titik itulah kehormatan sejati seorang tentara diukur.

Dalam setiap transisi kekuasaan, rakyat hanya meminta satu hal dari TNI setialah pada rakyat dan konstitusi, bukan pada kepentingan sesaat. Karena di titik itulah kehormatan sejati seorang tentara diukur.

Sikap itu sejatinya telah menjadi jiwa dari doktrin dasar TNI sejak masa revolusi kemerdekaan. Dalam sejarahnya, TNI dibentuk bukan semata sebagai alat negara, tetapi sebagai kekuatan rakyat bersenjata yang berjuang demi kemerdekaan dan kedaulatan bangsa. 

Salah satu nilai dasar yang menjadi semboyan kehormatan TNI adalah “Setia kepada Negara, Pimpinan yang Sah, dan Rakyat”. Motto ini lahir dari nilai historis bahwa tentara bukan alat kekuasaan, melainkan alat negara yang lahir dari rahim rakyat, dan karena itu kesetiaannya harus tetap berpijak pada konstitusi serta aspirasi rakyat.

Kesetiaan tentara kepada pemimpin bukan berarti membabi buta, melainkan kesetiaan yang cerdas berlandaskan hukum, etika, dan komitmen pada demokrasi. Sebab sejarah telah menunjukkan, ketika tentara tunduk pada ambisi kekuasaan, maka yang lahir bukan stabilitas, melainkan ketakutan.

Kini, di tengah perubahan kekuasaan nasional, saatnya TNI kembali mempertegas jati dirinya sebagai tentara rakyat yang berani, setia, dan tidak dapat dibeli oleh siapapun kecuali oleh kebenaran dan kehendak konstitusi.

*Penulis adalah mantan Ketua FKPPI, PC. Candisari Kota Semarang, aktif di Indonesia Democracy Monitor (InDemo)

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Bos Danantara Ungkap Proses Pangkas BUMN Tak Mudah

Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:11

Hingga Siang Nusron Belum Hadir, KPK Masih Menunggu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:53

PJBS Direvisi, Porsi Saham Bayan Resources yang Dibeli Haji Isam Bertambah Jadi 10,08 Miliar

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:44

Nasib Gibran Kini Tergantung Prabowo

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:37

Empat WNI Pulang ke Tanah Air usai Enam Bulan Disandera Bajak Laut Somalia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

PDIP: Kebohongan Gibran Lulus SMA Sederajat Tercatat dalam Putusan Negara!

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

Putusan MK soal Gibran Buka Perdebatan Demokrasi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:21

DPR Minta Pemerintah Percepat Huntara bagi Korban Gempa Flores

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:19

Rita Widyasari Kembali Diperiksa KPK

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:17

Badai Dekati Amerika, Harga Minyak Naik Lagi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:01

Selengkapnya