Berita

Sebuah kapal penjaga pantai China memblokir kapal Filipina yang sedang dalam perjalanan ke Second Thomas Shoal di Laut China Selatan, 5 Maret./ Reuters

Dunia

Laporan Dua Lembaga Think Tank China Perburuk Ketegangan di LCS

SELASA, 04 JUNI 2024 | 07:20 WIB | LAPORAN: JONRIS PURBA

Dua lembaga think tank berbasis di China baru-baru ini menerbitkan laporan yang dapat memperburuk hubungan Republik Rakyat China dengan dua negara ASEAN, Vietnam dan Indonesia. Dari kedua laporan itu, menurut Maria Siow dari South China Morning Post (SCMP), memperlihatkan potensi konflik yang semakin membesar di Laut China Selatan dan bukan tidak mungkin akan berujung pada bentrokan maritim seperti yang terjadi antara China dan Filipina.

Laporan pertama ditulis Grandview Institution yang berbasis di Beijing. Lembaga ini mengatakan, reklamasi yang dilakukan Vietnam di perairan yang disengketakan dapat “memperumit dan memperluas” perselisihan.

Dalam laporan yang ditulis Liu Xiaobo dan terbit tanggal 14 Mei itu disebutkan bahwa reklamasi yang dilakukan Vietnam dalam tiga tahun terakhir melampaui yang mereka lakukan sepanjang empat dekade sebelumnya.


Hingga 2019 disebutkan Hanoi hanya melakukan upaya reklamasi sederhana di 29 pulau dan terumbu karang yang dikuasainya di Kepulauan Spratly. Namun dalam beberapa tahun terakhir, Vietnam melakukan pengerukan dan penimbunan sampah secara besar-besaran serta memperluas wilayah reklamasi beberapa kali, dari yang semula 0,7 km persegi menjadi 3 km persegi.

Adapun laporan kedua diterbitkan China Institutes of Contemporary International Relations hari Kamis pekan lalu (30/5) menyoroti potensi bentrokan di Laut China Selatan yang menjadi ujian bagi hubungan Indonesia dan China.

Luo Yongkun yang merupakan Wakil Direktur Studi Asia Tenggara dan Oseania di lembaga pemikir yang berbasis di Beijing itu mengatakan, diperlukan “kebijaksanaan politik yang luar biasa” bagi Jakarta untuk mempertahankan persahabatannya dengan Beijing di tengah “perubahan geopolitik yang dramatis”.

Konflik di Laut China Selatan akan “sangat” menguji hubungan Tiongkok-Indonesia, hubungan Tiongkok-ASEAN, dan bahkan tatanan regional yang berpusat di sekitar Asean, kata Luo, seorang profesor peneliti di lembaga yang berafiliasi dengan negara tersebut. Hal ini akan memicu perubahan struktur geopolitik kawasan dan membahayakan kepentingan semua pihak di kawasan, ujarnya.

Maria Siow dalam tulisannya yang terbit hari Jumat (31/5) di SCMP, menggarisbawahi di tengah ketegangan meningkat yang sedang meningkat di kawasan, kedua laporan yang diterbitkan secara terpisah itu tidak banyak membantu mengurangi ketegangan.

Skala reklamasi yang dilakukan Vietnam dalam laporan pertama tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kegiatan serupa yang dilakukan Beijing yang mencakup setidaknya 12,9 km persegi di perairan yang disengketakan hampir satu dekade lalu, yang disoroti dalam laporan bulan Maret oleh Kementerian Pertahanan Jepang.

Lalu, tidak ada alasan untuk melibatkan Indonesia jika terjadi konflik di Laut China Selatan karena Jakarta bukanlah negara yang mengklaim wilayah maritim di perairan tersebut.

Indonesia, meski memiliki perekonomian dan jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggara, tidak seharusnya menanggung beban memburuknya hubungan Tiongkok-ASEAN dan rusaknya tatanan regional.

Selain karena waktunya yang tidak tepat, laporan-laporan tampaknya menyalahkan Hanoi dan Jakarta atas meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan.

Mengingat pertikaian yang terjadi saat ini antara Beijing dan Manila di jalur perairan yang disengketakan tersebut, cara terbaik untuk meredakan ketegangan adalah dengan bersikap hati-hati di laut dan meminta negara-negara lain untuk secara diplomatis melibatkan China dan Filipina.

Melibatkan Vietnam dan Indonesia dalam ketegangan yang sedang terjadi, tulis Maria Siow lagi, adalah upaya China untuk mengalihkan perhatian dari konfrontasi maritim dan  drama yang terjadi di Laut China Selatan.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

RUU Perampasan Aset Diusulkan Ganti Nama, Berikut Nomenklaturnya

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:07

Purbaya Sudah Cairkan Rp20,5 Triliun ke 490 Pemda buat Gaji PPPK

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:52

Koperasi Jadi Kunci Hilirisasi Sawit dan Penguatan Daya Tawar Petani

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:50

Songs for Sumatera-Human Initiative Pulihkan Fasilitas MIN 4 Aceh Tamiang

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:38

Subsidi Pertalite Bocor, Kelompok Kaya Masih Nikmati Kucuran Negara

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:32

Pengacara Gus Yaqut Bongkar Duduk Persoalan Pembagian Kuota Haji Tambahan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:16

Usai Bertemu Purbaya, Bahlil Bakal Perketat Orang Kaya yang Pakai Pertalite

Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:58

12 Saksi Diperiksa, Sekretaris Kepala BGN Ikut Terseret Kasus MBG

Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:46

Rudy Tanoe Irit Bicara soal Korupsi Penyaluran Bansos Usai Diperiksa KPK 4,5 Jam

Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:42

Selengkapnya