Berita

Anggota Dewan Pakar Gerindra, Bambang Haryo Soekartono/RMOL

Bisnis

Tingkatkan Ekonomi, Saatnya Indonesia Bangun Industri Terintegrasi di ALKI

MINGGU, 17 MARET 2024 | 03:13 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Menteri Pertahanan sekaligus Capres Nomor Urut 2 Prabowo Subianto setuju terhadap berlakunya perdagangan bebas asalkan dijalankan dengan prinsip yang adil.

Anggota Dewan Pakar Gerindra, Bambang Haryo Soekartono mengapresiasi sikap langkah tersebut dengan harapan tumbuhnya industri dan naiknya perekonomian bangsa.
 
“Menurut Pak Prabowo Indonesia setuju dengan perdagangan bebas, tetapi bahan bahan baku tidak bisa langsung dijual bebas ke negara lain. Dorongan Pak Prabowo perdagangan harus fair atau adil. Dan sudah seharusnya semua pabrik yang menggunakan bahan baku dari Indonesia bisa dibangun di bumi Indonesia,” kata BHS akrab disapa kepada Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu malam (16/3).


Dengan cara mendirikan pabrik di wilayah Indonesia, lanjut BHS, bisa memberikan lapangan kerja dan transfer teknologi ke seluruh masyarakat Indonesia.

“Ini adalah satu langkah yang brilian dari Pak Prabowo untuk Indonesia ke depan menjadi lebih baik dan kemakmuran seluruh rakyat Indonesia bisa terwujud karena rakyat bisa dapat pekerjaan,” jelasnya.

Caleg DPR terpilih dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Timur I itu menyatakan sudah selayaknya industri yang mengolah bahan baku dari Indonesia berada di posisi strategis pada Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI).

ALKI merupakan jalur pelayaran internasional. Indonesia memiliki 3 ALKI yang membentang dari timur ke barat pada selat-selat strategis internasional.

“Wilayah Indonesia tepat di posisi poros maritim dunia sehingga hasil penjualan industri bisa mendekati pasar dan ini akan memberikan produk yang ekonomis dan efisien dengan menurunkan ongkos produksi atau biaya transport dibanding bila industri tersebut ada di wilayah jauh dari tempat pemasarannya,” bebernya.

BHS yang juga praktisi maritim tersebut berharap Indonesia harus menjadi pusat industri yang terintegrasi dengan pelabuhan-pelabuhan besar berstandar internasional.

“Itu untuk menampung industri-industri dari negara lain di wilayah yang dilewati oleh poros maritim dunia yang melewati ALKI I, II dan III sehingga kita bisa memanfaatkan kapal-kapal logistik dunia yang lewat di Indonesia yang jumlahnya 80 persen dari total kapal seluruh dunia,” bebernya lagi.

Menurut dia, pembangunan kepelabuhanan yang terintegrasi cocok berada di ALKI I (Selat Malaka) yaitu di Aceh. Kemudian di wilayah ALKI II (Selat Makassar) perlu dibangun industridi Sulawesi Selatan dan Kalimantan Timur.

“Sehingga Indonesia akan menjadi pusat Industri terbesar dunia dan ini tentu akan mendatangkan devisa yang besar untuk kepentingan dan kemakmuran seluruh rakyat Indonesia,” ungkapnya.

Selain itu, dia mendorong negara-negara maju seperti negara-negara Eropa bisa berinvestasi dalam membangun industri di Aceh. Begitu juga dengan Australia dapat berinvestasi di Sulawesi.

"Negara Eropa bisa membangun industri di Aceh atau ALKI I dengan pemasaran di Asia Timur dan Asia Tenggara. Begitu juga sebaliknya, Asia Timur bisa membangun industri di Indonesia, di Aceh misalnya dengan pemasaran (untuk) di Arab Saudi, Eropa dan Amerika karena semua kapal lewat Indonesia," terangnya.

"Sedangkan Australia bisa memangun industri di Sulawesi atau Selat Makassar (ALKI II) dengan pemasaran di Asia Timur dan Asia Tenggara. Begitu juga Asia Timur bisa membangun di Sulawesi dengan pemasaran di Australia dan Asia Tenggara. Sehingga Indonesia menjadi pusat industri terbesar di dunia," tegas BHS.

Sambungnya, kondisi itu benar-benar memanfaatkan posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia guna memaksimalkan kemakmuran rakyat Indonesia.  

“Itu menjadi industri yang efektif dan efisien karena dekat dengan sumber bahan baku. Di sisi lain, lapangan kerja kita juga bertambah dan ekonomi meningkat tajam. Jadi ini memanfaatkan poros maritim dunia yang terintegrasi dengan industri yag bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia,” pungkasnya.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

16 Negara Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Tujuh Wakil Asia

Senin, 29 Juni 2026 | 02:03

Prediksi Skor Babak 32 Besar

Senin, 29 Juni 2026 | 02:00

Bareskrim Gagalkan Peredaran 325 Kg Sabu Jaringan Thailand-Aceh

Senin, 29 Juni 2026 | 01:31

Segera Terbitkan Regulasi Pelarangan LGBT!

Senin, 29 Juni 2026 | 01:12

Forum Konferensi Republik Hasilkan Tiga Mandat

Senin, 29 Juni 2026 | 01:03

Mesir vs Iran: Stadion Berubah Jadi Arena Adu Gengsi Ribuan Tahun

Senin, 29 Juni 2026 | 00:38

Pelarangan Konferensi Republik di Kampus UI Tak Menumbuhkan Pesimisme

Senin, 29 Juni 2026 | 00:27

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

BPPKB Banten HDS Melepas Stigma Negatif terhadap Ormas

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:41

Forum Konferensi Republik Dibatalkan Sepihak oleh Kampus UI

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:05

Selengkapnya