Berita

Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (Amin)/Ist

Publika

Bersaing Ketat, Anies-Cak Imin Berpeluang Menang

OLEH: TONY ROSYID
SENIN, 13 NOVEMBER 2023 | 16:47 WIB

SURVEI Australia dan Prancis membuka perspektif baru jelang kontestasi Pilpres 2024. Di tengah apatisme rakyat terhadap banyak lembaga survei dalam negeri yang dianggap "tidak jujur", muncul survei dari lembaga Prancis dan Australia. Rekam jejak dua lembaga survei ini dianggap lebih kredibel karena tidak terkontaminasi dalam keterlibatannya sebagai tim sukses atau "agen opini".

Dua lembaga survei asing itu adalah Ipsos Public Affair dan Utting Research. Di survei Ipsos Public Affair, lembaga asal Prancis ini elektabilitas pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (Amin) 28,91 persen. Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka 31,32 persen dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD 31,98 persen. Survei dilakukan pada tanggal 17-19 Oktober 2023.

Bulan Juli sebelumnya, Utting Research, lembaga survei asal Australia ini juga melakukan riset. Saat itu, belum ada pasangan cawapres. Hasilnya: elektabilitas Anies 27 persen. Prabowo 33 persen dan Ganjar 34 persen.


Dari survei dua lembaga asing ini, terlihat beda jauh hasilnya dengan survei-survei yang dilakukan oleh sejumlah survei lokal. Situasinya mirip Pilgub DKI 2017. Publik yakin ada "permainan opini" melalui rekayasa hasil survei yang sengaja dilakukan untuk mempengaruhi persepsi publik.

Hal ini lazim terjadi di setiap pemilu. Hanya saja, sikap manipulatif semacam ini telah merusak mental rakyat. Kalau itu disengaja dan atas perintah capres yang membiayai, ini telah menegaskan betapa rusaknya mentalitas capres itu.

Penerbitan hasil survei dari lembaga-lembaga survei independen ini bisa menjadi kontrol terhadap masifnya manipulasi yang seringkali dilakukan oleh sejumlah lembaga survei lokal.

Lihat hasil survei yang dilakukan dua lembaga asing di atas, elektabilitas Amin punya tren naik. Ada dua penyebabnya kenapa elaktabilitas Amin naik. Pertama, bergabungnya Muhaimin Iskandar, atau Cak Imin menjadi cawapres Anies. Ini faktor penting. Cak Imin membawa PKB. Cak Imin dan PKB menjadi mesin politik yang bisa bekerja lebih maksimal di kalangan NU, terutama wilayah Jawa Timur yang menjadi titik lemah Anies. Hadirnya Cak Imin di Koalisi Perubahan juga telah  sukses menyingkirkan stigma negatif terhadap Anies.

Kedua, Anies punya cukup banyak variabel potensial yang belum terekspos ke publik. Soal ini berulangkali sudah saya tulis di media sejak jelang Pilgub DKI.

Setelah pendaftaran dan penetapan capres-cawapres, maka media akan sering ekspos para calon. Sejak itu, publik akan sering disuguhi berita dan informasi tentang capres-cawapres. Dari sini maka rekam jejak, prestasi, pengalaman, pola komunukasi, penguasaan masalah, gagasan dan bahkan gestur capres-cawapres akan lebih sering dibaca dan bersentuhan langsung dengan persepsi para pemilih.

Sajian media, terutama elektronik tentang capres-cawapres bertemu dengan antusias pemilih, maka ini akan otomatis memberi pengaruh elektabilitas. Di sini, kampanye akan efektif. Dalam kampanye ini, Anies diuntungkan karena keunggulannya.

Lima kali debat yang diadakan KPU, juga debat-debat yang sudah dimulai di berbagai forum yang ditayangkan tv dan diramaikan media-medsos akan sangat efektif dalam mempengaruhi undecided voters (pemliih yang belum menentukan pilihan) dan swing voters (pemilih yang potensial pindah).

Dua faktor ini yang membuat trend elektabilitas pasangan Amin naik. Dan trend elektabilitas Amin dipredikasi akan terus naik seiring dengan semakin dekatnya jadwal pemilu.

Trend kenaikan elektabilitas Amin ini hanya bisa terhenti jika ada peristiwa luar biasa atau ub-normal. Jika situasinya normal, Amin lebih besar peluangnya untuk menang.

Anies-Cak Imin cenderung cover-nya rapi. Beda dengan Prabowo dan Gibran. Potensi blundernya jauh lebih besar. Pasangan Prabowo-Gibran nampaknya lebih mengandalkan "cawe-cawe" kekuasaan Presiden Jokowi dan kekuatan logistik. Ini bisa menguntungkan, tapi bisa juga menambah blunder.

Saat ini, pasangan Prabowo-Gibran banjir kritik, bahkan bullyan dari hampir semua kalangan. Semacam sudah menjadi common enemy (musuh bersama) dalam Pilpres 2024. Sementara Ganjar, belum muncul potensi baru yang bisa dijadikan alat kampanye yang efektif.

Dari semua variabel yang dimiliki oleh semua pasangan capres-cawapres, dan melihat situasi serta dinamika politik yang berkembang, trend kenaikan elektabilitas Amin membuka peluang lebih besar bagi kemenangan Anies-Cak Imin di pilpres 2024. Analisis ini mirip dengan data yang saya dapat dari berbagai sumber kredibel yang tidak selalu bisa saya sebut di setiap tulisan.


Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Istana Merdeka Menjelma jadi Pusat Pesta Rakyat dan Surga Kuliner UMKM

Jumat, 21 Agustus 2026 | 00:09

Mirza Fakhrul Islam Alamgir Terpilih Jadi Presiden Baru Bangladesh

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:52

Penanganan Bencana NTT Tidak Boleh Ada Kendala Anggaran!

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:38

Penumpang Bus NPM Pembawa Ratusan Vape Etomidate Diringkus Polisi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:18

PDIP Lepas Kapal RS Apung Laksamana Malahayati ke Lokasi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:26

Purbaya Siapkan Rp3 Triliun Insentif untuk Satu Juta Motor Listrik

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:15

DPO Narkoba Club Malam Batam Diringkus saat Mau Kabur ke Malaysia

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:01

Dewan Adat Bamus Betawi Minta Warga Pati Tak Demo di Jakarta

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:30

Gibran Minta Maaf ke Pengungsi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:06

Sayembara Ijazah SMA Gibran Tak Mengubah Standar Pembuktian Hukum

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:02

Selengkapnya