Berita

Joko Widodo dan Prabowo Subianto saat bertarung di Pilpres 2019/Net

Publika

Politik Esuk Dhele Sore Tempe

OLEH: TONY ROSYID
KAMIS, 26 OKTOBER 2023 | 09:55 WIB

MARI ingat kembali kampanye Pilpres 2019. Capresnya Joko Widodo versus Prabowo Subianto. Saat itu, debat kedua pihak ini sangat sengit. Terutama antara PDIP dengan Gerindra sebagai partai pendukung utama.

PDIP mengangkat Jokowi dan promosi habis-habisan untuk capresnya. Jokowi didesain menjadi manusia sempurna. Bahkan "setengah dewa." Tidak ada cacat, apalagi kesalahan. Semua serba oke banget.

Di sisi lain, para kader PDIP juga habis-habisan menyerang Prabowo. Rival politik Jokowi. PDIP menelanjangi Prabowo, seolah tidak ada sedikitpun kelebihan yang ada pada Prabowo. Terutama menyangkut kasus HAM 1997-1998. Anda yang aktivis 98 pasti masih ingat.


Bukan hanya PDIP. Lihat pula komentar para pendukung Jokowi saat itu. Salah satunya adalah Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar. Videonya viral. Pernyataannya tegas dan terang-terangan bahwa Prabowo terlibat kasus HAM. Prabowo diberhentikan secara tidak terhormat dari TNI. Tapi itu dulu. Dulu, beberapa tahun lalu. Sekarang, Agung Gumelar dukung dan ada di kubu Prabowo. Asyik kan?

Di pihak lain, Gerindra "mati-matian" serang Jokowi. Pemerintahan Jokowi selama lima tahun ditelanjangi habis oleh Gerindra. Juga oleh para pendukung Prabowo. Seolah tidak ada satupun kelebihan di pemerintahan Jokowi.

Tapi hari ini, situasinya berubah. Berbalik 180 derajat. Hari ini, kita tiap hari disuguhi acara debat di televisi. Bagaimana militansi kader Gerindra dan para pendukung Prabowo "memuji setinggi langit" Jokowi. Mereka menilai Jokowi adalah presiden yang paling sukses. Seolah-olah tidak ada presiden yang lebih hebat dari Jokowi.

Terutama setelah Gibran diangkat sebagai cawapres Prabowo. Pembelaan dan puja-puji Gerindra kepada Jokowi semakin "sempurna dan luar biasa". Super dramatis.

Sebaliknya, para kader PDIP yang dulu membela mati-matian dan mengangkat setinggi-tingginya Jokowi, sekarang berbalik dan justru menyerang Jokowi. Situasinya berbalik terutama sejak Gibran bergabung dan menjadi cawapres Prabowo.

Lalu bagaimana mereka, para politisi ini mempertanggungjawabkan ucapannya 4-5 tahun lalu? Jejak digitalnya masih fresh. Easy going? Melupakan begitu saja? Nggak peduli bagaimana debat di antara mereka berbulan-bulan di televisi telah memicu konflik para pendukung masing-masing di akar rumput? Apakah mereka tidak merasa berdosa? "Dosa" itu kata yang asing bagi umumnya para politisi.

Rakyat jadi bingung. Dulu begitu, sekarang kok begini. Itulah politik. Pada akhirnya, semua akan diuji konsistensinya. Seringkali memang, kekuasaan tidak mempedulikan apa yang disebut dengan "prinsip nilai dan konsistensi". Kata orang Jawa: Esuk dhele, sore tempe. Sikapnya berubah-ubah. Sementara rakyat di bawah sudah berdarah-darah.

Gegara sikap politik kaum elite yang tidak konsisten, labil dan hanya berorientasi pada kepentingan dan kekuasaan, maka logika dan prinsip nilai yang dimiliki rakyat jadi ikut rusak. Apatisme rakyat kepada bangsa ini akan semakin besar karena terlalu banyak elite yang menjadi "badut politik". Ironis!

Di sisi lain, ini telah menjadi entertainment. Hiburan buat rakyat. Rakyat terhibur dengan penampilan para badut di tengah lesunya program stand up comedy.

Setelah pendaftaran Pilpres pada 19-25 Oktober ini, rakyat akan semakin masif disuguhi program debat para badut di televisi. Mungkin ini bisa jadi hiburan paling murah untuk melepas lelah.

Penulis adalah pengamat politik dan pemerhati bangsa




Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Baru 10 Jam, Tulisan SBY Soal Politik Liar Tembus 9 Juta Tayangan di X

Rabu, 04 November 2026 | 20:21

Menag Dorong PTKIN Jadi Pelopor Hilirisasi dan Inovasi Teknologi

Rabu, 04 November 2026 | 20:19

Polri Harus Jaga Integritas dan Kepercayaan Publik di Kasus Listyo Sigit

Rabu, 04 November 2026 | 20:17

Aturan Penyadapan Ilegal di Indonesia, Ini Ancaman Hukuman bagi Pelaku

Rabu, 04 November 2026 | 20:11

Ketum KNPI Minta Penegak Hukum Serius Usut Dugaan Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 20:07

Tanggapan Allianz Setelah Digugat Rp5,2 Miliar di PN Jaksel

Rabu, 04 November 2026 | 20:02

Jorindo Indonesia Gandeng Mubarak Dubai Jalin Kerja Sama Operasi Salvage

Rabu, 04 November 2026 | 19:57

4 Kasus Penyadapan Presiden Indonesia, dari Habibie hingga Prabowo

Rabu, 04 November 2026 | 19:52

BRI Kukuhkan 35 Penerima Beasiswa BRI Fellowship Journalism 2026

Rabu, 04 November 2026 | 19:49

Kasus Intimidasi Meningkat, Dewan Pers Tegaskan Komitmen Lindungi Wartawan

Rabu, 04 November 2026 | 19:48

Selengkapnya