Berita

Pemerhati politik dan peneliti hukum Don Adam Caring Academy, Gan-Gan R.A/Ist

Publika

Mafia Hukum dan Parlemen yang Bungkam

RABU, 30 NOVEMBER 2022 | 19:12 WIB | OLEH: GAN-GAN R.A

MARCUS Tulius Cicero, tokoh besar dari Romawi, filsuf, negarawan, pengacara, penyair dan oratur ulung pernah membuat hipotesa yang tajam, “Semakin dekat keruntuhan Kekaisaran (Negara), semakin gila hukumnya.”

Pernyataan Cicero tampaknya masih kontekstual dengan potret buram penegakan hukum di Republik ini yang dicengkeram lingkaran setan kekuasaan mafia.

Kekuasaan, dalam perspektif Cicero, dari dahulu selalu membuai, menggiurkan dan memabukkan, sehingga membuat orang yang keranjingan kekuasaan menjadi lupa daratan, menghalalkan segala cara demi meraih dan mempertahankan kekuasaan.


Untuk mencegah kekuasaan negara yang bersifat absolut, konsep politik tentang pemisahan kekuasaan yang terkenal dengan istilah Trias Politica dirumuskan oleh seorang filsuf berkebangsaan Inggris, John Locke dan kemudian dikembangkan oleh Monstesquieu, pemikir besar dalam dunia politik Prancis dalam bukunya yang terkenal, L’Esprit des Lois.

Trias Politika memecah kekuasaan dan mendistribusikan kekuasaan menjadi tiga jenis kekuasaan, yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Trias Politica lalu diadopsi ke dalam sistem demokrasi agar tenung kekuasaan tidak menjelma berhala yang sentralistik dan mutlak. Trias Politica menciptakan dialektika kekuasaan antarlembaga negara agar politik dan hukum tidak melahirkan para mafia, karena ketika penegakan hukum di bawah kendali mafia, maka keadilan hanyalah dongeng semata.

Seperti halnya kasus pembunuhan berencana Brigadir J yang didalangi oleh mantan Kadiv Propam Irjen Polisi Ferdy Sambo yang menggegerkan dan membuat publik tersentak. Tak ubahnya membuka kotak pandora, dari kasus Sambo ini terbongkorlah lingkaran mafia hukum dalam tubuh institusi Polri, dari mulai Satgasus, Konsorsium 303 hingga terjadilah perang bintang antarelite perwira Polri berpangkat bintang.

Kasus pembunuhan berencana Brigadir J adalah kasus besar yang menghancurkan citra lembaga kepolisian yang tengah memperbaiki diri menuju Presisi. Namun langkah tegas Kapolri Jenderal Polisi Listiyo Sigit Prabowo dan Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto telah menghidupkan kembali kepercayaan publik kepada institusi Polri.

Pasca ditetapkannya Ferdy Sambo dan sekutunya, publik pun masih percaya bahwa keadilan sedang ditegakkan dalam proses hukum di tengah parlemen yang bungkam.

Bungkamnya anggota Dewan Perwilan Rakyat (DPR) atas kasus Sambo yang menyita perhatian rakyat menimbulkan berbagai spekulasi liar. Beredar rumor Genk Sambo menabur dolar di bawah meja parlemen supaya anggota DPR tidak bersikap kritis.

Lembaga legistatif yang seharusnya menjalankan fungsinya atas kasus tersebut dengan pengawasan ekstra ketat, menjadi mandul dan cenderung tutup mulut. Padahal di balik kasus Sambo terkuat misteri Satgasus dan para mafia judi online dalam struktur Konsorsium 303.

Kemudian yang terjadi selanjutnya adalah perang bintang dalam tubuh Polri. Pernyataan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan HAM (Menkopolhukam) Mahfud MD memperkuat indikasi terjadinya gesekan panas antara kubu Kabareskrim Komjen Agus Andrianto vs kubu Genk Sambo.

“Isu perang bintang terus menyeruak,“ kata Mahfud MD, Minggu (6/11).

“Dalam perang ini, para petinggi yang sudah berpangkat bintang saling buka kartu truf. Ini harus segera kita redam dengan mengukir akar masalahnya.”

Lebih lanjut Mafud MD menjelaskan, “Salah satu manuver yang sedang jadi sorotan adalah pengakuan mantan anggota polisi yang juga pengusaha tambang, Ismail Bolong.“

Menurut pengakuan Ismail Bolong, pernah menyetorkan sejumlah uang milyaran rupiah untuk Kabareskrim dari keuntungan tambang illegal di Kalimantan.

Tetapi setelah viralnya video testimoni Ismail Bolong yang beredar di media sosial, Ismail Bolong akhirnya meralat pengakuannya dan membuka kartu ASnya bahwa testimoni tersebut dibuat atas tekanan mantan Kepala Biro Pengamanan Internal (Karopamil) Divpropam Polri Brigjen Hendra Kurniawan yang kini sudah ditetapkan sebagai Tersangka dalam kasus Sambo karena dianggap melakukan perintangan hukum atau Obstraction of Justice.

Kabareskrim Komjen Agus Andrianto tampaknya menjadi sasaran tembak Genk Sambo. Namun Sang Jenderal tidak mundur sejengkal pun atas serangan balas dendam yang dilancarkan oleh pihak-pihak tertentu kepada dirinya. Di balik perang bintang, para mafia bermanuver agar kepentingan bisnis haramnya tetap aman.

Saya menjadi teringat ucapan Don Vito Corleone, tokoh sentral dari novel The God Father yang ditulis dengan deskripsi filmis oleh Mario Puzo, “Revenge is a dish that tastes best when served cold.” Balas dendam adalah hidangan yang paling enak disajikan dalam keadaan dingin.

Penulis adalah praktisi hukum, pemerhati politik dan peneliti hukum Don Adam Caring Academy

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

UPDATE

Manifesto PRD 1996: Ketika Sekelompok Anak Muda Membuat Penguasa Susah Tidur

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:27

Kanada Minta Warganya Waspadai Wabah Cyclospora sebelum Bepergian ke AS

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:16

BRI Peduli Buka Jalan UMKM Mebel Sukoharjo Tembus Pasar Global

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:10

Ganti Kapolri dan Jaksa Agung Diusulkan Barengan

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:06

Kemnaker Jamin 134 Pegawai PT Amos Terima Pesangon Rp12,7 Miliar

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:03

Purbaya Ungkap Alasan RI Tawarkan Pajak 0 Persen Selama 50 Tahun di PFII

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:47

KPK Sita Toyota Alphard Diduga Hadiah Proyek Bupati Lalu Ahmad Zaini

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:30

Risiko Perang Terbuka AS-Iran Meningkat Gegara Rebutan Selat Hormuz

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:23

KPK Bantah Kabar Penangkapan Gatot Heroe Hernanda

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:17

Fahira Ungkap Lima Tantangan Anak Indonesia dan Solusinya

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:12

Selengkapnya