Markas NATO di Brussel/Net
Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) terus mendekati "garis merah" Rusia dengan langkahnya memperluas perbatasan ke timur. Itu berarti, menurut Wakil Ketua Dewan Federasi Majelis Federal Rusia Konstantin Kosachev, NATO menjadi sumber krisis dan konflik.
“NATO bukan penjamin keamanan untuk Eropa tetapi penjamin masalah untuk keamanannya, bukan solusi tetapi sumber krisis dan konflik. Dengan memindahkan tirai besi ke timur, NATO tidak memperluas ruang demokrasi tetapi secara konsisten mendekati garis merah kami," kata Kosachev.
NATO juga tidak punya kemampuan bernegosiasi. "Dan ini, mungkin, kesimpulan paling menyedihkan," tambahnya.
Menyambut peringatan hari jadi NATO, Kosachev mengeluarkan semua unek-uneknya.
NATO, organisasi militer internasional yang bertujuan untuk keamanan bersama para anggotanya, diresmikan pada 4 April 1949 di Washington DC. Pada awalnya, NATO dibentuk untuk menekan pengaruh komunis dari Uni Soviet dengan aliansi saingannya, yaitu Pakta Warsawa, pada era Perang Dingin.
Kosachev yang kecewa dengan NATO mengatakan, ucapan selamat pada hari jadi itu berlebihan karena hampir tidak ada aliansi lain yang memainkan "peran yang tidak menyenangkan" dalam sejarah umat manusia.
Di hari peringatan lahirnya NATO ini, mungkin adalah saat yang tepat untuk introspeksi dan mengingat lagi masalah apa saja yang diciptakan yang kemudian harus diperbaiki, menurut Kosachev. Ia melihat misi yang diklaim NATO dengan kenyataan jelas berbeda.
“Hanya orang yang membaca secara eksklusif buletin NATO yang akan mempercayai kisah-kisah tentang sifat defensif aliansi tersebut," kata Kosachev.
AS sendiri menghabiskan hampir enam triliun dolar untuk melakukan perang dalam waktu kurang dari dua dekade, menurutnya, sementara tidak ada satu pun perang yang dilakukan di negara-negara aliansi sendiri.
"Sedangkan jumlah korban asing dari 'aliansi defensif' bahkan menurut perkiraan AS berjumlah ratusan ribu," papar Kosachev.
Rusia dikenal sebagai musuh utama NATO sejak lama. Namun, bukan hanya Rusia saja yang menilai langkah NATO seringkali berseberangan. Bahkan, anggotanya sendiri kerap mengecam keputusan NATO. Presiden Prancis Emmanuel Macron, misalnya, yang pada 2019 pernah mengecam NATO dengan 'mati otak' saat para anggotanya sibuk membahas anggaran bukannya fokus dalam mekanisme koordinasi dan strategi militer.