Berita

Direktur Eksekutif Indostrategic, A. Khoirul Umam/RMOL

Politik

Pengamat: Benturan dengan Jokowi, PDIP Harus Evaluasi Koalisi Parpol Pemerintah

SENIN, 07 MARET 2022 | 04:59 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

PDI Perjuangan disarankan segera mengevaluasi soliditas koalisi partai politik di lingkungan kekuasaan Presiden Joko Widodo.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic), A. Khoirul Umam kepada Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (6/3).

Menurut Umam, lambatnya respons Jokowi terhadap wacana penundaan Pemilu mengindikasikan ada benturan gerbong Istana dengan PDIP.


Sisi lain, sikap PDIP sebagai pemilik saham politik utama pemerintahan sejak awal dengan tegas menolak gagasan ini.

"Jelas mengindikasikan adanya komunikasi yang terputus antara PDIP dengan gerbong Istana Presiden yang seolah 'berjalan sendiri'," demikia analisa Umam.

Ia melihat, ada elemen di dalam lingkaran Istana Presiden yang berada di luar kendali partai penguasa. Indikasi itu dikuatkan dengan penjelasan Ketum PAN Zulkifli Hasan.

Atas pengakuan Zulhas, gerbong Istana Presiden yang dimaksud adalah kelompok kepentingan ekonomi-politik yang dimotori oleh Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan yang mengorkestrasi suara menteri dan juga para ketua umum partai politik.

Kata Umam, tindakan politik yang dikomandoi Luhut itu seakan mendapat restu dan persetujuan langsung dari Presiden Jokowi.

"Artinya, ada kekuatan di lingkaran Presiden yang sudah mulai liar dan sudah berada di luar kontrol partai penguasa," penekanan Umam.

Imbas dari pengaruh kekuatan ekonomi-politik kelompok di lingkaran presiden itu kemudian membuat jarak dengan PDIP menguat. Secara politik kekuatan itu nampak mengambil alih pengaruh dan otoritas kekuasaan Presiden.

Oleh sebab itu, Dosen Universitas Paramadina ini menyarankan PDIP mengevaluasi soliditas koalisi partai politik di lingkungan pemerintahan.

Argumentasinya, suara partaipolitik sudah tidak solid dan terpecah sesuai dengan kepentingan masing-masing.

"Perpecahan kekuatan pendukung pemerintah ini terlihat jelas dalam wacana penundaan Pemilu ini, dimana PKB, Golkar, dan PAN mendukung secara jelas, sedangkan PDIP, Nasdem dan Gerindra menolak secara tegas wacana tersebut," pungkasnya.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Pelindo Dukung Konsolidasi Logistik BUMN Perkuat Integrasi Rantai Pasok Nasional

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:16

Indonesia Harus Tegas Tolak LGBT!

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:08

Catatan HUT ke-80 Polri

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:40

Bobby Nasution Pulangkan Kontingen Pesparawi Sumut dari Manokwari dengan Biaya Talangan

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:20

Ekodiplomasi di antara Geopolitik dan Kedaulatan Konservasi Indonesia

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:01

Danantara Sedang Membersihkan Warisan Lama BUMN

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Hibah KNPI Kabupaten Bogor Menuai Polemik di Tengah Konflik Internal

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Ketua MPR Bicara Islam Toleran dan Persatuan saat Bertemu Grand Mufti Uzbekistan

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:55

Papua Harus Dibangun Tanpa Kehilangan Manusianya

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:45

DPR Minta Transparansi Rencana Pengadaan Rudal BrahMos

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:44

Selengkapnya