Berita

Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto/Net

Politik

Ukraina Diserang Rusia, PKS Desak Pemerintah Indonesia Antisipasi Lonjakan Harga Migas

JUMAT, 25 FEBRUARI 2022 | 22:52 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Perang yang terjadi antara Ukraina vs Rusia berdampak pada stabilitas ekonomi dunia. Pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin yang menyatakan melakukan operasi militer terhadap Ukraina membuat harga komoditas energi dunia melonjak.

Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto meminta pemerintah mengantisipasi masalah melonjaknya harga komuditas migas dunia. Mulyanto tidak ingin pemerintah mengorbankan rakyat melalui cara menaikkan harga energi domestik.

“Fraksi PKS minta Pemerintah cepat mengantisipasi berbagai kemungkinan buruk tersebut dan tidak mengambil solusi gampangnya saja dengan mengorbankan rakyat melalui cara menaikkan harga BBM, gas LPG, dan listrik domestik,” kata Mulyanto, Jumat (25/2).


Legislator dari Fraksi PKS ini menegaskan, pemerintah harus bekerja ekstra keras mencari jalan keluar mengatasi persoalan lonjakan harga komoditas energi dunia.

Analisa Mulyanto, dengan menjaga lonjakan harga energi, merembetnya gejolak harga pada komoditas lainnya bisa dicegah. Sehingga perekonomian nasional secara keseluruhan tidak mengalami guncangan.

Mulyanto khawatir ada gejolak karena saat ini Indonesia termasuk dalam kelompok negara net importer migas, terutama BBM dan gas LPG.

Kondisi kenaikan harga migas dunia secara langsung akan berpengaruh negatif bagi perekonomian nasional.

“Pemerintah jangan sekadar latah dengan menaikkan harga BBM, gas LPG, dan listrik domestik. Kalau langkah ini yang diambil, maka diduga dapat memicu inflasi. Yang menderita adalah masyarakat luas,” ucapnya.

Dia menerangkan, harga LPG dan BBM non subsidi baru-baru ini sudah naik. Termasuk juga komoditas minyak goreng, kedelai dan daging sapi.

"Sementara pandemi Covid-19 masih belum beranjak turun dan daya beli masyarakat belum pulih benar. Jadi Pemerintah diminta untuk tidak menambah beban masyarakat yang sudah berat ini,” imbuhnya.

Untuk itu, kata Mulyanto, berbagai upaya untuk mereduksi ketergantungan kita pada BBM dan gas LPG internasional harus semakin dipercepat.

“Yang sudah sangat mendesak adalah konversi pembangkit listrik tenaga diesel dengan gas atau EBT, khususnya di wilayah Indonesia bagian timur,” tutupnya.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Tak Pelihara Buzzer, Prabowo Layak Terus Didukung

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:14

Stasiun Cirebon Dipadati Penumpang Arus Balik Nataru

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:00

SBY Pertimbangkan Langkah Hukum, Mega Tak Suka Main Belakang

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:34

Pilkada Lewat DPRD Cermin Ketakutan terhadap Suara Rakyat

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:26

Jika Mau Kejaksaan Sangat Gampang Ciduk Silfester

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:01

Pilkada Lewat DPRD Sudah Pasti Ditolak

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:37

Resolusi 2026 Rismon Sianipar: Makzulkan Gibran Wapres Terburuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:13

Kata Golkar Soal Pertemuan Bahlil, Dasco, Zuhas dan Cak Imin

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:10

Penumpang TransJakarta Minta Pelaku Pelecehan Seksual Ditindak Tegas

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:38

Bulgaria Resmi Gunakan Euro, Tinggalkan Lev

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:21

Selengkapnya