Berita

Anthony Budiawan/Net

Publika

Survei Litbang Kompas Mengusik Akal Sehat, Mohon Transparansi

OLEH: ANTHONY BUDIAWAN
JUMAT, 25 FEBRUARI 2022 | 00:26 WIB

KONTAN.co.id memuat berita berjudul “Survei Litbang Kompas: Kepuasan Publik terhadap Kinerja Jokowi-Ma'ruf Meningkat” pada 21/2/2022. (https://amp.kontan.co.id/news/survei-litbang-kompas-kepuasan-publik-terhadap-kinerja-jokowi-maruf-meningkat)

Survei ini bikin kening berkerut, dan mengusik intelektualisme rakyat.

Bagaimana bisa, masalah begitu banyak tapi survei bilang popularitas Jokowi tertinggi sejak 2015, mencapai 73,9 persen per Januari 2022 atau naik dari 66,4 persen per Oktober 2021?


Padahal kondisi ekonomi sedang morat-marit, harga bahan pangan melambung, harga kedelai dan minyak goreng naik tajam. Perajin tahu tempe banyak yang tidak bisa produksi.

Pembelian minyak goreng dijatah, mengundang antrean panjang hingga ada yang pingsan. Setidaknya itu dapat dilihat dari video yang beredar viral di masyarakat.

Bahkan menurut berita, pembelian tersebut juga harus lampirkan KK dan kartu vaksin. Semua ini menuai gerutu masyarakat, menunjukkan tidak puas dengan kebijakan ini.

Tukang daging katanya juga mau mogok dagang 5 hari, karena harga daging juga naik tajam.

Ribuan sopir truk demo menutup jalan pantura, protes aturan ODOL, Over Dimension and Over Loading, bikin jalanan macet total.

Buruh dan pekerja masih ramai protes menuntut pembatalan aturan JHT, yang baru bisa diterima pada usia 56 tahun. Terkait ini, katanya Jokowi sudah minta Menteri Ketenagakerjaan untuk revisi.

BPJS Kesehatan masih menuai protes, karena dikaitkan dengan syarat bikin SIM, STNK, dan lainnya.

Selain itu, harga BBM juga sudah naik, tidak lama lagi mungkin akan disusul tarif listrik. Dan lain-lain, dan lain-lain.

Dengan masalah yang terus meningkat, bagaimana mungkin survei terhadap popularitas Jokowi bisa naik terus?

Survei kalau tidak berbasis realita, atau manipulatif, bisa sangat bahaya. Survei seperti ini malah bisa mencelakakan posisi Jokowi.

Presiden mengira kebijakan publik yang diambil selama ini sudah benar, karena popularitas naik. Sehingga akan melanjutkan kebijakan tersebut, yang ternyata menuai protes masyarakat. Ini jelas bisa mencelakakan.

Popularitas naik dalam kondisi ekonomi morat-marit sulit bisa diterima akal sehat.

Kalau popularitas Jokowi mencapai 73,9 persen, artinya ada kenaikan sekitar 18 persen berasal dari nonpemilih Jokowi pada Pilpres 2019. Karena pemilih Jokowi hanya 55,5 persen. Ini juga dengan asumsi semua 100 persen pemilih Jokowi masih merasa puas.

Karena itu, 18 persen datang dari nonpemilih Jokowi yang berjumlah 44,5 persen. Jumlah ini artinya ada  40,4 persen (= 18 dibagi 44,5) dari populasi nonpemilih Jokowi yang merasa puas dengan kebijakan publik saat ini.

Apakah ini tidak menyesatkan?

Mungkin survei Litbang Kompas bisa melampirkan rinciannya bagaimana dan berasal dari kelompok mana kenaikan popularitas Jokowi diperoleh.

Seperti yang dilakukan lembaga survei di AS terkait survei popularitas Joe Biden, Presiden AS, baru-baru ini. Yang ternyata popularitasnya terus menurun, termasuk di partai pendukungnya sendiri.

Semoga Litbang Kompas juga bisa transparan untuk mencerdaskan masyarakat.  Untuk itu diucapkan terima kasih.

Penulis adalah Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies)

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Serentak di Tiga Lokasi, KPK Periksa Pegawai Kemenag dan Bos Travel

Jumat, 17 April 2026 | 14:16

Waspadai Phishing dan Malware, BNI Tekankan Keamanan BNIdirect

Jumat, 17 April 2026 | 14:15

Bitcoin Stabil di Level 74.900 Dolar AS

Jumat, 17 April 2026 | 14:11

Ekonomi Jatim Tumbuh 5,33 Persen di 2025, Didongkrak Sektor Manufaktur

Jumat, 17 April 2026 | 14:05

KPK Periksa Direktur Kepatuhan Bank Papua dalam Kasus Korupsi Dana Operasional Papua

Jumat, 17 April 2026 | 14:01

Rekrutmen Manajer Kopdes Tak Boleh Ada Titipan

Jumat, 17 April 2026 | 13:50

Kasus Chat Cabul Mahasiswa Merebak di IPB, DPR Minta Kampus Bertindak Tegas

Jumat, 17 April 2026 | 13:41

Penahanan Harga BBM Non-Subsidi Dikhawatirkan Ganggu Kesehatan Fiskal

Jumat, 17 April 2026 | 13:39

PPIH Ujung Tombak Keberhasilan Penyelenggaraan Haji

Jumat, 17 April 2026 | 13:31

KPK Temukan Dapur MBG Tak Layak, Kasus Keracunan Jadi Alarm Serius

Jumat, 17 April 2026 | 13:22

Selengkapnya