Berita

Nahdlatul Ulama/Net

Politik

Gaduh Muktamar, Gus Khayat Endus Upaya Pelemahan Nahdlatul Ulama

SENIN, 29 NOVEMBER 2021 | 02:03 WIB | LAPORAN: IDHAM ANHARI

Dinamika menjelang Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) yang bergulir memunculkan banyak tafsir.

Sebelumnya, sembilan kyai sepuh NU bertemu pada 24 November 2021 yang memberikan rekomendasi agar dilakukan penundaan Muktamar ke-34 NU 2021 hingga akhir Januari 2022.

Namun dua hari setelahnya, 26 November 2021, Nahdliyin dikejutkan dengan keluarnya surat perintah Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar agar Muktamar ke-34 NU dipercepat dan digelar pada 17 Desember 2021. Berdasarkan jadwal, seharusnya Muktamar ke-34 NU dilaksanakan pada 23 hingga 25 Desember 2021 mendatang.


Terkait dinamika jelang Muktamar ke-34 tersebut dan keluarnya surat dari Rais Aam PBNU, KH Khayatul Makki, mengingatkan tentang adanya himbauan dari Habib Lutfi,

“Tidak lupa juga Habib Lutfi menyampaikan hal yang senada yaitu kiranya semua pihak untuk menurunkan tensi, menurunkan syahwat politik didalam muktamar pengurus besar Nahdlatul Ulama,” kata pimpinan Ponpes Tanbihul Ghofiliin Banjarnegara ini dalam keterangan tertulis, Minggu (28/11).

Terkait keluarnya surat perintah Rais Aam yang dirilis oleh H Saifullah Yusuf atau Gus Ipul tersebut, Gus Khayat mengingatkan bahwa keluarnya surat perntah Rais Aam tersebut bukan merupakan putusan bersama PBNU.

Keluarnya surat itu sendiri diawali dengan kontroversi dari rilis media Gus Ipul, dimana dalam rilis yang disampaikan beliau bahwa KH Michtahul Akhyar adalah pemegang otoritas penuh, pemegang kekuasaan penuh di NU. Sehingga siapapun wajib taat dengan apa yang disampaikan oleh Rais Aam.

“Nah setelah disampaikan itu, beberapa saat keluarlah (surat perintah) dari Rais Aam sehingga siapapun bisa menebak, siapapun bisa melihat bahwa ini adalah bagian dari yang luar biasa dari oknum,” jelas Gus Khayat.

“Kita sebagai warga Nahdliyin tentunya sangat menyayangkan apa yang dilakukan oleh Gus Ipul, Bukan apa-apa, Apabila yang dilakukan Gus Ipul ini tidak ada yang mengcounter sama sekali yang terjadi adalah mengabaikan perpecahan yang terjadi dalam Nahdlatul Ulama demi semata-mata Syahwat Politik dukung mendukung dalam muktamar,:” kata Gus Khayat lagi.

Gus Khayat merasa semua pihak perlu mengkhawatirkan langkah yang menyalahi aturan seperti ini karena akan membahayakan kehidupan bernegara.

“Ini bahaya sekali, bukan hanya berbahaya untuk NU sendiri tapi untuk NKRI, Kenapa? Karena kalau NUnya lumpuh, NUnya kerdil, maka NKRI tentunya sangat mudah di Infiltrasi oleh siapapun.” kata Gus Khayat khawatir.

“Itu artinya stabilitas negara stabilitas NKRI dipertaruhkan disini, Jadi inilah waktunya kita semua memilih apakah kita mendukung langkah-langkah yang dilakukan oknum tertentu atau kita menjaga bersama sama kewibawaan dari Rais Aam itu sendrii,” pungkas Gus Khayat.

Keputusan yang PBNU terkait Muktamar yang hanya ditandatangani oleh satu pihak saja yakni Rais Aam dianggap berbagai kalangan di Nadhdliyin sebagai keputusan yang tidak sah. Karena dianggap tidak sesuai dengan AD/ART ataupun aturan pelaksanaan muktamar yang mensyaratkan bahwa keputusan yang sah adalah yang ditandatangan oleh Ketua Umum PBNU, Sekjen PBNU, Rais Aam dan Katib Aam.

Sementara itu  menanggapi surat dari Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar tentang perintah agar Muktamar ke-34 NU dipercepat, Ketua Panita Muktamar ke-34 NU, Imam Aziz menegaskan, PBNU belum memberikan keputusan terkait kepastian jadwal Muktamar Nahdlatul Ulama (NU).


Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

UPDATE

Efisiensi Perjalanan Dinas: Luar Negeri 70 Persen, Dalam Negeri 50 Persen

Selasa, 31 Maret 2026 | 22:18

MPR Minta Pemerintah Tarik Pasukan TNI dari Misi UNIFIL

Selasa, 31 Maret 2026 | 22:11

Imparsial: Andrie Yunus Buka Sinyal Gelap Pembela HAM

Selasa, 31 Maret 2026 | 22:05

Tanpa Terminal BBM OTM, Cadangan Pertamax Berkurang Tiga Hari

Selasa, 31 Maret 2026 | 21:53

Kemenkop–KemenPPPA Kolaborasi Perkuat Peran Perempuan Lewat Kopdes

Selasa, 31 Maret 2026 | 21:45

Lippo Cikarang Tegaskan Tidak Terkait Perkara yang Diusut KPK

Selasa, 31 Maret 2026 | 21:35

Membaca Skenario Merancang Operasi Gagal

Selasa, 31 Maret 2026 | 21:28

BSA Logistics Melantai di Bursa Bidik Dana Rp306 Miliar

Selasa, 31 Maret 2026 | 21:18

Jusuf Kalla Bereaksi atas Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon

Selasa, 31 Maret 2026 | 21:01

Diaspora RI Antusias Sambut Kedatangan Prabowo di Seoul

Selasa, 31 Maret 2026 | 20:56

Selengkapnya