Berita

Foto Disway

Dahlan Iskan

Normal Risma

JUMAT, 08 OKTOBER 2021 | 04:15 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

BERAPA kali Bu Risma marah di depan kamera? Tentu lebih banyak lagi kalau yang tidak terekam ikut dihitung. Semakin bertambah-tambah pula kalau masa sebelum menjadi Menteri Sosial dimasukkan.

Orang Surabaya sudah menganggap normalnya Bu Risma ya seperti itu. Orang Surabaya tidak mencelanyi. Tidak pula menganggapnya aneh. Prestasi Risma yang tinggi telah mengalahkan gaya kasarnyi. Dia sampai dua kali menjabat Wali Kota Surabaya.

Bu Risma adalah orang yang punya kemauan -besar dan keras. Dan dia bekerja habis-habisan untuk mewujudkan kemauannya itu.


Carilah Risma di saat hujan deras: dia hampir pasti bisa ditemukan di lokasi pompa-pompa penyedot genangan. Dia temukan genset yang ngadat. Pipa yang buntu. Listrik yang tidak nyambung.

Dia pakai jas hujan. Tapi tetap saja basah kuyub. Dia ikut bekerja. Bukan hanya memeriksa. Itu dia lakukan tanpa terlihat untuk pencitraan. Dia benar-benar ingin banjir teratasi. Dia bukan ingin foto basah kuyubnya beredar di media keesokan harinya.

Risma -Ir Tri Rismaharinimemang orang yang tahu detail. Memperhatikan detail. Mengontrol detail. Menyelesaikan detail. Sebagai arsitek dia terbiasa dengan perencanaan dan pekerjaan detail. Dia juga selalu mencari jalan termurah untuk proyek dengan mutu yang diinginkan. Arsitek dididik dan dibiasakan berpikir begitu.

Angka-angka orang miskin pasti dia perhatikan sampai detail. Apalagi setelah dia menjadi menteri sosial. Dia tahu cara memanfaatkan kemampuan komputer. Dia pasti marah kalau ada detail yang salah.

Jangankan angka-angka kemiskinan yang begitu penting. Penari yang akan tampil di panggung Pemkot Surabaya pun dia kontrol sampai ke pakaian tarinya.

Dan Risma tidak terlihat memupuk kekayaan dari jabatannya. Dua periode dia jadi wali kota. Di kota metropolitan pula: Surabaya. Rumahnya biasa saja. Di daerah yang termasuk kelas 3-nya Surabaya: Wiyung. Nun di Surabaya Barat banget. Itu bukan daerah kelas 2 apalagi kelas 1. Dia sudah di situ sejak masih menjadi kepala dinas.

Rumah orang tuanya-yang menjadi rumah pertamanya-juga di daerah kelas 3. Di dekat Pasar Burung, Nginden. Yang sampai sekarang tanahnya masih belum berstatus hak milik.

Di rumah inilah, awalnya, dibangun museum sederhana: Historisma. Di situ pula dibuat warung kopi. Waktu itu Risma mengira tidak ada jabatan apa-apa lagi setelah dua periode itu berlalu.

Ternyata Risma menjadi menteri sosial. Saya pernah berpikir untuk mengadakan acara selama satu minggu. Temanya: Surabaya Berterima Kasih Kepada Risma. Tapi ada pandemi. Tidak mungkin ada kerumunan. Apalagi sebelum habis masa jabatan itu ternyata dia sudah dilantik sebagai menteri. Praktis tidak ada waktu bagi warga Surabaya untuk berterima kasih kepadanya.

Saya memang melihat Bu Risrna juga orang yang normal: ingin jabatan yang lebih tinggi. Sejak dulu. Tapi yang seperti itu kan boleh-boleh saja. Kemajuan sering datang dari orang yang punya kemauan.

Saya pernah makan satu meja bertiga: dengan Bu Risma dan Ibu Mega. Saya rasakan hubungan istimewa kedua wanita itu. Bu Mega terlihat sudah terbiasa dengan gaya Bu Risma yang ceplas-ceplos: Suroboyoan. Dengan gerak tubuh yang tidak perlu disopan-sopankan. Yang untuk ukuran orang sebagian orang Jawa bisa saja dianggap kurang sopan. Toh tidak terlihat ada sedikit pun keberatan Bu Mega dengan gaya Risma seperti itu.

Marahnya Bu Risma memang keras. Agak kasar. Tapi mulutnya tidak kotor. Tidak ada harta dari toilet yang keluar dari mulut marahnya. Tidak ada pula kebun binatang di lidahnya.

Saya pun akan marah: kalau melihat data orang miskin yang harus salah terus. Sudah sekian tahun. Sudah di zaman komputer dan Wi-Fi seperti ini.

Harus ada yang marah di negeri ini: asal marahnya tetap yang ikhlas.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ini Pesan Denny Indrayana Jelang Putusan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:23

IHSG Melesat 1,21 Persen, Rupiah Jauhi Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:12

Menhaj Godok Kunjungan Wisata Jemaah Haji dan Umrah ke Yordania

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:11

Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:09

Penempatan Manajer Sesuai Karakter Wilayah Jadi Kunci Keberhasilan Kopdes

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:04

Komisi III DPR Dukung Perombakan Pejabat Polri untuk Regenerasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:58

Komoditas Pangan Jadi Penyumbang Utama Inflasi di Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:50

Ferry Juliantono Dorong Kolaborasi Kampus dan Pemda Kembangkan Koperasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:44

KPK Ingatkan Nusron Wahid soal Kewajiban Hadiri Panggilan Penyidik

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:40

Penampakan Tumpukan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:39

Selengkapnya