Berita

Duta Besar Lama Afghanistan di PBB, Nasir Andhisa/Foto Disway

Dahlan Iskan

Gantung Pisang

SELASA, 28 SEPTEMBER 2021 | 04:20 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

SATU front lagi harus dihadapi Taliban: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Perjuangan itu belum berhasil. Mungkin perlu waktu lama. Siapa yang berhak berpidato di PBB hari ini masih jadi rebutan: pemerintahan baru Taliban atau pemerintahan lama.

"Rebutan" siapa yang berpidato itu masih dibicarakan. Keputusan belum bisa diambil. Padahal semua negara sudah selesai mendapat giliran pidato. Afghanistan diputuskan: dapat yang terakhir saja. Sambil menunggu hasil "rebutan" itu. Dari segi abjad Afghanistan mestinya berpidato duluan. Dari segi "pendaftaran" Afghanistan termasuk rombongan awal. Negara itu sudah masuk PBB tahun 1946.


Indonesia baru masuk PBB tahun 1950. Bulan Januari 1965 Bung Karno marah: ganyang Malaysia. Hari itu Indonesia keluar dari PBB. Setahun kemudian Pak Harto, yang menggantikan Bung Karno, mendaftar lagi masuk PBB.

Tahun 1946 Indonesia belum bisa masuk PBB: negara-negara Barat belum mengakui kemerdekaan Indonesia. Yang berkuasa di Indonesia masih dianggap para pemberontak. Sampai-sampai Indonesia berani melanggar UUD 1945: mengangkat seorang perdana menteri. Yang pro barat. Namanya, Anda sudah tahu: Syahrir. Yang baru berumur 30 tahun.

Padahal, sebenarnya, menurut UUD 1945 tidak boleh ada jabatan perdana menteri. Demokrasi kita presidential-bukan parlementer. Itu saking inginnya internasional mengakui kemerdekaan Indonesia.

Alay pasti tahu: Barat baru mengakui Indonesia di tahun 1949. Setahun kemudian diterima sebagai anggota PBB.

Pun demikian Afghanistan. PBB belum menerima pemerintahan Taliban sekarang. Duta Besar lama Afghanistan di PBB Nasir Andisha, masih ngotot: kalau PBB menerima Taliban itu sama saja dengan ngompori para pemberontak di Yaman, Myanmar, dan di negara lain. Agar mereka memberontak.

Duta besar Afghanistan yang baru, yang Taliban, mengatakan semua persyaratan pendaftaran sudah lengkap. Tinggal diputuskan. "Semua wilayah sudah kami kuasai. Semua perbatasan sudah kami kontrol," ujar Suhail Shaheen, sang Taliban.

Suhail termasuk salah satu tim Taliban yang moderat. Ia termasuk tim negosiasi dengan Amerika, menjelang negara adikuasa itu meninggalkan Afghanistan 31 Agustus lalu.

Tapi waktu memang terlalu mepet. Permohonan Taliban itu harus diproses oleh birokrasi di sana. Harus disetujui dulu oleh satu komite. Komite itu terdiri dari sembilan negara. Termasuk Amerika, Rusia, dan Tiongkok.

Komitenya saja belum bersidang.

Yang sudah pasti mendukung pemerintahan Taliban 2.0 barulah Tiongkok dan Rusia. Juga Pakistan. Sedang yang siap di belakang itu: Turki, Oatar. Mungkin juga Timor Leste.

Tiongkok juga masuk PBB tahun 1946. Di tahun 1949 "Taliban" Tiongkok memberontak. Menang. Pemerintah baru itu minta diakui oleh PBB. Ditolak.

Sampai 20 tahun kemudian masih juga ditolak.

Selama itu yang mewakili Tiongkok di PBB adalah Taiwan-yang didirikan oleh pemerintahan yang kalah di perang sipil tahun 1949 itu.

Baru di tahun 1971, dunia menerima Tiongkok menjadi anggota PBB. Setelah "Taliban"-nya Tiongkok dipegang oleh Deng Xiaoping.

Perjalanan Taliban masih panjang. Kampanye ke dunia internasional masih harus terus dilakukan. Untuk menarik simpati dunia internasional.

Kini Taliban mulai menjamin keamanan di Bandara Kabul. Mereka minta semua penerbangan asing masuk kembali ke Kabul. Turki dan Qatar sudah menormalkan sistem di bandara itu.

Pakistan yang sempat sewot, sudah mulai menerbangkan PIA ke Kabul meski belum berjadwal. Taliban juga memberi hiburan pada Pakistan: akan mengusut siapa yang menurunkan bendera Pakistan minggu lalu.

Bendera itu dibuang dari truk-truk bantuan pangan. Yakni ketika truk itu masuk dari Pakistan ke wilayah Afghanistan.

Taliban juga menjanjikan segera membuka jalan raya yang menghubungkan Kabul dengan kota Peshawar-hanya dua jam naik mobil.

Bahkan Taliban juga menjamin keamanan pengusaha. Agak berlebihan memang. Mungkin masih ikut kebiasaan lama. Lihatlah: empat orang yang menculik seorang pengusaha digantung di lapangan Herat-kota bagian barat negara itu.

Yang digantung itu sebenarnya mayat. Mereka sudah mati ditembak saat melarikan pengusaha yang disekap itu. Sistem komunikasi yang ditinggalkan Amerika kelihatannya masih efektif.

Keluarga pengusaha itu baru saja melaporkan penculikan tersebut. Taliban langsung menghubungi semua pos pemeriksaan di jalanjalan raya. Mobil penculik itu pun distop. Terjadi tembakan dari arah mobil. Seorang Mujahid Taliban -panggilan untuk petugas keamananterluka. Empat penculik ditembak mati. Mayat mereka dibawa ke kota. Digantung. "Tidak boleh lagi ada penculikan seperti itu," ujar pejabat di Herat.

Tapi mengapa harus digantung? Kan sudah mati? "Agar yang lain kapok. Mereka yang menculik akan bernasib sama," katanya, seperti disiarkan media di Pakistan.

Saya ingat yang saya lakukan kemarin: menggantung satu tundun pisang masak pohon di kebun Pacet.

Saya tidak jadi makan pisang itu.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ini Pesan Denny Indrayana Jelang Putusan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:23

IHSG Melesat 1,21 Persen, Rupiah Jauhi Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:12

Menhaj Godok Kunjungan Wisata Jemaah Haji dan Umrah ke Yordania

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:11

Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:09

Penempatan Manajer Sesuai Karakter Wilayah Jadi Kunci Keberhasilan Kopdes

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:04

Komisi III DPR Dukung Perombakan Pejabat Polri untuk Regenerasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:58

Komoditas Pangan Jadi Penyumbang Utama Inflasi di Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:50

Ferry Juliantono Dorong Kolaborasi Kampus dan Pemda Kembangkan Koperasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:44

KPK Ingatkan Nusron Wahid soal Kewajiban Hadiri Panggilan Penyidik

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:40

Penampakan Tumpukan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:39

Selengkapnya