Berita

Dahlan Iskan/Net

Dahlan Iskan

Runtuh Moral

MINGGU, 12 SEPTEMBER 2021 | 04:26 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

DI ulang tahun ke-20 kemarin, keluarga korban 9/11 masih terus menggugat. Pemerintah Saudi Arabia mereka anggap terlibat. Saudi, kata mereka, ada di balik empat pesawat Boeing yang dibajak. Dua di antaranya ditabrakkan ke menara kembar di New York. Yang terbakar sampai runtuh itu. Yang mengakibatkan lebih 3.000 orang tewas.

Mereka tidak menuntut Afghanistan sama sekali. Mungkin karena para pembajak pesawat itu tidak satu pun orang Afghanistan. Dari 19 pembajak, yang 15 warga Saudi Arabia. Dua lainnya warga UEA. Satu dari Mesir dan satu lagi dari Lebanon.

Mungkin, juga karena Afghanistan tidak akan punya uang untuk membayar ganti rugi. Mungkin pula karena Amerika sudah menyerbu Afghanistan. Bahkan sudah menumbangkan penguasa Taliban saat itu.


Ulang tahun ke-20 kemarin juga ditandai kembalinya Taliban berkuasa di Afghanistan. Sama sekali tidak ada penyesalan bagi Amerika meninggalkan Afghanistan. Bahkan, kemarin, Amerika menilai penguasa baru Taliban bertindak profesional sekali. Yakni ketika Taliban mau memproses sisa warga Amerika yang masih tertinggal di negeri itu. Mereka diizinkan terbang pakai pesawat carter dari Kabul menuju Qatar. Mereka boleh menggunakan Qatar Airways.

Kesalahan lama Taliban adalah: mengizinkan gerakan teroris Al Qaeda berpusat di Afghanistan. Amerika pun mengobrak-abrik Afghanistan. Amerika menghancurkan Al Qaeda. Yang pimpinannya lantas bersembunyi di Pakistan: Osama Bin Laden. Di zaman Presiden Barack Obama, Osama ditangkap di Abbottabad sekitar 3 jam di timur laut kota Lahore. Ditembak mati.

Saya sengaja minta dilewatkan Abbottabad ketika perjalanan ke dekat perbatasan Tiongkok. Betul sekali bahwa tempat persembunyian Osama itu justru tidak jauh dari markas tentara Pakistan. (Baca juga:Motorway Murah)

Begitu Donald Trump menggantikan Obama, begitu drastis perubahan di Amerika. Semua hal yang berbau Obama diupayakan diubah. Termasuk kebijakan di Afghanistan. Trump langsung menegaskan kehadiran Amerika di Afghanistan harus diakhiri.

Sejak itu diupayakanlah kontak-kontak dengan pejuang Taliban. Terutama untuk membebaskan tentara Amerika yang jadi tahanan Taliban. Bagi Amerika membebaskan tentaranya lebih penting dari siapa pun yang berkuasa di Afghanistan. Maka terjadilah pertukaran tahanan. Lima tentara Amerika dikembalikan. Tokoh-tokoh Taliban dibebaskan. Termasuk Abdul Ghani Baradar �"kini Wakil Perdana Menteri Afghanistan�" yang ditahan Pakistan. Amerika sampai harus menekan Pakistan.

Amerika sudah tahu: begitu menarik diri, Talibanlah yang akan berkuasa. Tentara Amerika sudah banyak yang menceritakan keluh kesah: betapa sulit membuat tentara Afghanistan menjadi tentara profesional.

"Kami banyak bicara dari hati ke hati dengan tentara Afghanistan. Ternyata mereka itu menjadi tentara sekadar untuk mendapat pekerjaan," ujar seorang tentara yang pernah bertugas di Afghanistan. Ia menceritakan pengalamannya ke media di Amerika.

Tentara Afghanistan itu juga dinilai tidak loyal pada tentara Amerika. Pernah satu grup lima tentara mengalami kejadian ini. Mereka itu empat orang tentara Amerika, satu orang tentara Afghanistan. Kendaraan mereka bermasalah di perjalanan. Mereka harus berhenti. Saat itulah terdengar ada ledakan. Secara spontan satu tentara Afghanistan tersebut menodongkan senjata ke mentor Amerikanya itu.

Di kasus lain, mereka dianggap sangat malas. Tentara Amerika mengangkut logistik dengan kerja keras. Tentara Afghanistan hanya menonton. "Kalian harus belajar dari kami bagaimana mengerjakan pengiriman logistik," ujar Si Amerika. "Kalau kalian sudah melakukan itu untuk kami, mengapa kami harus ikut melakukan," kata Si Afghanistan.

Amerika juga kian sulit mencari informan. Berita bahwa Amerika akan mengakhiri keberadaannya di Afghanistan membuat moral para informan runtuh. Moral Taliban naik. Apalagi mereka yang ketahuan jadi informan tiba-tiba mati terbunuh. Yang mati itu digantikan adiknya, yang juga perlu pekerjaan. Si adik mendadak mati terbunuh juga.

Dari pengalaman seperti itu Amerika akhirnya mengambil kesimpulan: sampai tahun berapa pun tidak akan bisa membuat pemerintah Afghanistan kuat. Padahal kian lama kian banyak anggaran Amerika yang mengalir ke Afghanistan. Untuk sia-sia.

Maka terjadilah yang akhirnya terjadi.

Berita baiknya: TV swasta di sana, Tolo TV, masih tetap boleh siaran. Tolo artinya ''mekar'' atau ''berkembang''. Itu TV milik pengusaha Afghanistan yang mempunyai usaha di Australia. Siaran beritanya 24 jam. Dalam bahasa Parsi. Jam-jam tertentu ada siaran berita berbahasa Pastun.

Awak TV Tolo kini was-was: apakah masih akan boleh terus mengudara.

Australia bersikap: tim kriket Afghanistan tidak akan diizinkan main di Australia kalau tidak disertai tim kriket wanita.

Berita buruknya: dua wartawan yang lagi meliput demo wanita di Kabul ditahan dan digebuki. Sampai babak belur. Mungkin dikira bagian dari jaringan demo.

Peringatan 20 tahun teror terbesar dalam sejarah Amerika begitu berarti bagi Taliban.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

TNI Gandeng Bulog Hadirkan Program Pangan Murah di Puncak Jaya

Kamis, 02 April 2026 | 03:59

Jadwal KA Ciremai Dipastikan Kembali Normal

Kamis, 02 April 2026 | 03:46

KUR dan Salah Arah Subsidi Negara

Kamis, 02 April 2026 | 03:20

Gugatan Forum Purnawirawan TNI Bertujuan agar Kasus Ijazah Jokowi Rampung

Kamis, 02 April 2026 | 02:55

Umrah Prajurit dan ASN TNI

Kamis, 02 April 2026 | 02:39

Ledakan SPBE Cimuning Turut Porak-Porandakan Pemukiman Warga

Kamis, 02 April 2026 | 02:16

JK: Kalau BBM Murah, Orang akan Pakai Seenaknya

Kamis, 02 April 2026 | 01:59

AS Beri Sinyal Belum Ingin Akhiri Perang dengan Iran

Kamis, 02 April 2026 | 01:37

Wamen Fajar: Model Soal TKA Cocok buat Kebutuhan Masa Depan

Kamis, 02 April 2026 | 01:12

Danantara Didorong Percepat Proyek Hilirisasi dan Waste to Energy

Kamis, 02 April 2026 | 00:54

Selengkapnya