Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Lewat Keputusan Terbaru Biden, Aplikasi China Justru Dapat Terancam Panggilan Pengadilan Atau Pelarangan

JUMAT, 18 JUNI 2021 | 07:57 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Presiden Joe Biden melalui perintah eksekutifnya meminta Kementerian Perdagangan untuk terus memantau kemungkinan aplikasi buatan China dapat mengancam keamanan AS.

Dengan perintah tersebut, Departemen Perdagangan AS dapat meminta pengadilan untuk mengumpulkan informasi tentang aplikasi buatan China yang terpasang di perangkat lunak ponsel cerdas, tablet, atau komputer desktop tertentu, untuk kemudian ditentukan apakah penggunaannya disetujui atau dilarang di AS.

Perintah itu juga akan memaksa beberapa aplikasi China untuk mengambil tindakan lebih keras agar melindungi informasi pribadi jika mereka ingin tetap berada di pasar AS.


Menteri Perdagangan Amerika Serikat, Gina Raimondo, akan memutuskan aplikasi mana yang harus menjadi subjek aturan, yang harus memenuhi kriteria tertentu. Misalnya, mereka harus dimiliki, dikendalikan, atau dikelola oleh orang atau entitas yang mendukung kegiatan militer atau intelijen musuh asing seperti China atau Rusia.

Para pejabat AS mulai berbicara dengan sekutu mereka tentang mengambil pendekatan yang serupa, menurut sebuah sumber. Harapannya adalah negara-negara mitra akan menyetujui aplikasi mana yang harus dilarang.

Joe Biden pada Rabu (9/6) membatalkan surat perintah pendahulunya, Donald Trump, yang melarang pengunduhan aplikasi buatan China,  seperti TikTok dan WeChat.

Meski Biden mencabut larangan tersebut, sejumlah sumber di Gedung Putih menyatakan bahwa ia sebenarnya masih sangat khawatir dengan keamanan aplikasi tersebut.  Maka, ia memberi waktu 120 hari bagi Kemendag AS untuk melindungi data negaranya yang dapat diakses oleh perusahaan TikTok dan WeChat.

Para pejabat Gedung Putih pun menegaskan bahwa penyelidikan mengenai keamanan TikTok yang dimulai pada 2019 lalu hingga kini masih berlangsung.

Lewat perintah Biden yang baru itu, justru bisa berakhir dengan menangkap lebih banyak aplikasi daripada perintah terakhir Trump karena kerangka hukum yang lebih kuat.

Reuters adalah yang pertama melaporkan rincian tentang bagaimana rencana pemerintahan Biden untuk mengimplementasikan perintah tersebut, termasuk mencari dukungan dari negara lain.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Ini Pesan SBY untuk Pemerintahan Prabowo soal Langkah Stabilisasi Ekonomi

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:45

Pengusaha Perikanan jadi Tersangka Kasus Alih Fungsi Lahan di Batang

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:19

Atlet Terbaik Taekwondo Asia Siap Tampil di Jakarta pada Agustus Mendatang

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:55

SBY: Masih Tersedia Opsi dan Solusi dari Otoritas Moneter dan Fiskal Kita

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:31

Reformasi MBG dan Menjaga Asa Prabowo

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:02

Program MBG Jangan Dihancurkan Gegara Tata Kelola Bermasalah

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:42

Danantara Perkuat Fokus Bisnis Telkom Lewat Pemangkasan Anak Usaha

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:21

Said Didu soal Kasus BGN: Prabowo Betul-betul Dikhianati

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:07

Kapuspen TNI: Media Miliki Peran Strategis Mencerdaskan Bangsa

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:50

DPD Minta Dapur MBG yang Sudah Berjalan Jangan Diputus Mendadak

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:30

Selengkapnya