Berita

Boeing 737 MAX/Net

Dunia

Jika Hubungan Perdagangan China-AS Membaik, Boeing Akan Jadi Salah Satu Perusahaan Penerima Manfat Paling Besar

SABTU, 05 JUNI 2021 | 17:26 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Salah satu perusahaan yang tampaknya masih setia menunggu perbaikan hubungan perdagangan antara China dan AS adalah Boeing. Sebagai produsen pesawat yang hanya menerima satu pesanan dari China untuk pesawat 737 MAX selama empat tahun terakhir, pembuat pesawat AS itu tidak pernah menyembunyikan keinginannya untuk pasar China.

Hal itu terlihat saat Chief Executive Officer Boeing Dave Calhoun berbicara pada konferensi virtual pada hari Kamis (4/6) lalu. Dia sekali lagi menunjukkan keprihatinannya tentang hubungan perdagangan China-AS, mengatakan dia tidak dapat memprediksi kapan ‘pencairan’ akan membuka pengiriman jet di salah satu pasar penerbangan dengan pertumbuhan tercepat di dunia

Komentar Boeing datang hanya beberapa hari setelah China dan AS memulai kembali komunikasi yang lebih teratur untuk membahas pemulihan ekonomi dan perdagangan, menyepakati upaya bersama untuk memecahkan beberapa masalah spesifik dengan cara yang praktis. Pengamat pasar China mengatakan itu menunjukkan raksasa AS ingin memenangkan kembali pasar Cina sesegera mungkin.


“Boeing seharusnya menjadi penerima manfaat terbesar dari pemulihan dalam hubungan bilateral, mengingat China menyumbang porsi penting dari pesanan pesawatnya,” kata  Qi Qi, seorang pengamat pasar, seperti dikutip dari Global Times, Sabtu (5/6).

Qi mengatakan Boeing berharap China dapat mencabut larangan terbang untuk 737 MAX-nya sesegera mungkin, dan berharap maskapai China dapat memesan lebih banyak pesawat darinya, karena telah menderita selama enam kuartal berturut-turut.

Karena larangan terbang global 737 MAX setelah kecelakaan udara besar dan dampak epidemi pada industri penerbangan sipil, Boeing hanya mengirimkan 157 pesawat pada tahun 2020, dan produksinya turun ke level terendah dalam hampir 50 tahun.

Sementara itu, produsen pesawat komersial yang berbasis di Prancis, Airbus mengirimkan total 99 pesawat ke klien China, terhitung 17,5 persen dari pengiriman global.

Pada bulan April, Calhoun meminta pemerintah AS untuk menormalkan hubungan perdagangan dengan China, dengan mengatakan pesanan pesawat dari China akan menjadi "kunci" untuk kesehatan jangka panjang perusahaan. Sebulan sebelumnya, dia juga mendesak AS untuk menjaga hak asasi manusia dan perselisihan lainnya terpisah dari hubungan perdagangan dengan Beijing, dan memperingatkan bahwa Airbus akan mendapatkan keuntungan jika pembuat pesawat AS itu dikunci dari China, menurut laporan Reuters.

China telah memainkan peran penting bagi perusahaan Boeing, karena lebih dari 10.000 pesawat Boeing dilengkapi dengan suku cadang kelas dunia buatan China, dan satu dari setiap empat pesawat sipil yang diproduksi oleh Boeing telah dikirim ke China.

Namun, pesanan dari maskapai penerbangan China telah menurun secara dramatis dalam beberapa tahun terakhir akibat perselisihan perdagangan antara dua ekonomi teratas.

Data dari Boeing menunjukkan bahwa ada 32 pesanan dari klien China dari 2017 hingga 30 April 2021, tetapi nol pesanan baru dari China antara 2018 dan 2019. Pada 2020, tercatat hanya ada tiga pesanan, termasuk satu pesanan untuk 737 MAX dari ICBC Leasing dan dua pesanan untuk 777F dari China Cargo.

Sebagai perbandingan, dari 2012 hingga 2016, Boeing memenangkan 6.146 pesanan dari dunia, 733 di antaranya berasal dari China, terhitung 11 persen dari pesanan globalnya.

“Pasar penerbangan China yang pulih juga merupakan kekuatan pendorong lain untuk perhatian Boeing di China,” kata Lin Zhijie, pengamat pasar independen.

FedEx juga mengatakan dalam sebuah catatan yang dikirim ke media China Global Times pada hari Jumat. Mereka mengatakan pihaknya percaya bahwa hubungan perdagangan yang saling menguntungkan dan dialog konstruktif adalah cara terbaik untuk mencapai rantai pasokan yang kuat dan tangguh antara AS dan China.

Perusahaan mengatakan mereka berharap China dan AS terus mencari bidang kerja sama yang akan membangun pondasi yang kuat untuk hubungan jangka panjang dan kemakmuran bersama mereka.

Namun, mungkinkah hubungan perdagangan antara AS segera normal kembali, sementara Biden menandatangani perintah pada Kamis (3/6) yang mengubah larangan investasi AS di perusahaan-perusahaan China yang dimulai oleh pendahulunya. Isinya menyebutkan 59 perusahaan yang memiliki hubungan dengan militer China atau dalam industri pengawasan, termasuk Aviation Industry Corporation of China, yang juga merupakan mitra penting Boeing.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Tak Perlu Takut dengan Ide Kewarganegaraan Ganda Prabowo

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:26

Cara Mengubah Desil DTSEN Secara Online dan Offline, Lengkap dengan Langkahnya

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:15

Tak Cuma Revisi, DPR Sepakat Regulasi Baru Migas

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:14

GBNI Dukung Program Kerakyatan Prabowo

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:37

B50 Perkuat Kemandirian Energi, Hemat Devisa, dan Dorong Transformasi Ekonomi

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:34

Presiden Perintahkan Penanganan Darurat, Wamensos Terjun ke Lokasi Gempa NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:28

21 Kantong Parkir Disiapkan Saat Perayaan HUT ke-81 RI di Jakarta

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:31

MBG Harus Kembali ke Tujuan Awal Bukan Jadi Ladang Bisnis

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:21

Ruas Jalan di Jakarta Direkayasa Saat Perayaan HUT ke-81 RI

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:12

Besok! Ongkos Transjakarta, MRT, dan LRT Jakarta Cuma Rp8

Minggu, 16 Agustus 2026 | 07:30

Selengkapnya