Berita

Foto ilustrasi/Net

Muhammad Najib

Babak Baru Pertarungan Antara China Vs Amerika Di Tingkat Global

KAMIS, 22 APRIL 2021 | 12:34 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

SECARA ekonomi kini Tiongkok menduduki urutan kedua setelah Amerika Serikat, dan terus membuntuti dengan pertumbuhan meyakinkan, sehingga masalah waktu saja untuk menyalip dan menempatkannya menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Secara politik, negara-negara yang mendukung dan bergantung pada Tiongkok semakin hari semakin besar. Dengan menggunakan instrumen ekonomi, Tiongkok secara sistematis membangun berbagai aliansi di tingkat regional maupun global untuk mendapatkan dukungan.

Berbagai bentuk gesekan dan pertentangan diantara dua raksasa ini sudah muncul ke permukaan sejak beberapa tahun terakhir, seperti pada isu HAM terhadap suku Uighur di Provinsi Xinjiang, China, masalah demokrasi di Hong Kong, dan isu sumber pandemi Covid-19 yang melanda dunia.


Sementara secara militer, Tiongkok terus mengembangkan kekuatan pasukannya baik di darat, laut, maupun udara. Akibatnya, kini mulai muncul ketegangan di antara dua negara raksasa ini di sejumlah wilayah, seperti: Di perbatasan Tiongkok-Jepang, kemudian di Selat Taiwan, serta di Laut China Selatan.

Saat Presiden Donald Trump masih menghuni Gedung Putih, Amerika Serikat secara ofensif dan agresif menyerang China di berbagai medan ekonomi dan politik. Sementara China mencoba untuk defensif menghadapinya.

Kini setelah Joe Biden menggantikan Donald Trump, ada tanda-tanda China mengubah strateginya dalam berhadapan dengan AS, dari defensif menjadi ofensif. Hal ini terlihat saat KTT di Alaska yang masing-masing delegasi dipimpin oleh menlunya. Delegasi AS dipimpin oleh Antony Blinken, sementara delegasi China dipimpin oleh Wang Yi. Saling serangan dengan kalimat-kalimat keras dan tajam diantara dua delegasi, yang sebelumnya tidak pernah terjadi.

Dalam sidang tahunan Boao Forum for Asia (BFA) yang dibuka secara resmi pada Ahad (18/4/2021) yang berlangsung  di Kota Boao, Provinsi Hainan, China, Presiden China XI Jinping dalam pidatonya menyerang AS dengan menyatakan: "Dunia menginginkan keadilan, bukan hegemoni".

BFA dibentuk pada tahun 2001 oleh 25 negara Asia dan Australia. Pada tahun 2006 anggotanya bertambah menjadi 28 negara. Forum ini tampaknya dibentuk untuk mengimbangi forum Davos yang menjadi sarana konsolidasi kekuatan ekonomi dan politik Amerika dan sekutunya. Forum Boao ini dinyatakan bertujuan untuk mengkonsolidasikan dan mengintegrasikan kekuatan ekonomi negara-negara Asia.

KTT kali ini dihadiri oleh 4.000 peserta, yang terdiri dari para pejabat negara anggotanya, wartawan, cendekiawan, dan perwakilan sejumlah organisasi, serta para peninjau yang datang dari seluruh dunia. KTT kali ini yang berlangsung selama empat hari mengambil tema: A World in Change: Join Hands to Strengthen Global Governance and Advance Belt and Road Inisiative (BRI Cooperation)".

Dilihat dari tema yang dipilih dan peserta yang hadir nampak jelas, kini China sedang menggalang dukungan politik di tingkat global dengan memainkan instrumen ekonomi BRI. Bagi Amerika mega proyek BRI bukan saja telah mempreteli para pendukung dan sekutunya selama ini, baik yang berada di Eropa, Asia, maupun Afrika, lebih dari itu proyek ini juga dianggap sebagai upaya untuk mengisolasinya.

Merujuk pada pidato Presiden Xi, walaupun tanpa menyebut negara, jelas sekali serangannya ditujukan ke Washington. Selama ini AS dianggap memiliki kecendrungan untuk memaksakan kehendaknya demi mengejar tujuan nasionalnya, dengan mengabaikan kepentingan negara lain.

Presiden Xi mencoba melawannya dengan mengembangkan prinsip kebersamaan dalam merangkul negara lain.

Bila merujuk pada landasan ideologis dari kedua negara raksasa yang sedang bersaing ini, maka secara teoritis AS mewakili negara kapitalis yang mengembangkan isu demokrasi dengan menekankan pentingnya kebebasan. Sementara China mewakili negara sosialis dengan isu keadilan yang menekankan pentingnya kebersamaan.

Karena itu, ke depan persaingan diantara keduanya di berbagai fora internasional dan di berbagai medan nampak jelas akan semakin keras. Apakah semua ini akan berujung pada perang, atau sekedar manuver untuk mendapatkan keuntungan maksimal bagi kepentingan nasional masing-masing, sangat menarik untuk terus dicermati.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Polisi Tangkap Pembacok Pegawai Toko Roti di Cengkareng

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:55

Bank Mandiri Gelar Mandiri Lelang Festival 2026, Penawaran 50% di Bawah Pasaran

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:51

KPK Jangan Omdo, Dugaan Korupsi Sinyal Kereta Harus Dibongkar Tuntas

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:40

DPR Sebut Skandal Seksual di Ponpes Pati sebagai Pelanggaran HAM Berat

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:16

Unhas Siap jadi Pusat Unggulan MBG di Indonesia Timur

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:50

Kapolri Siap Eksekusi 3.000 Halaman Rekomendasi Reformasi Polri

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:44

Kompetisi Perguruan Tinggi Tanpa Fondasi Keadilan

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:25

Pelanggaran Tambang Tidak Cukup Diselesaikan dengan Uang

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:00

KPK Kembangkan Penyidikan Baru Kasus OTT Anak Buah Bobby Nasution

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Terima 10 Buku Rekomendasi Reformasi Polri di Istana

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:47

Selengkapnya