Berita

Lambang Dewan Pers/Net

Politik

Alasan Media Arus Utama Kerap Langgar Kode Etik Jurnalistik

KAMIS, 15 APRIL 2021 | 13:57 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Dari sekitar 800 surat pengaduan yang masuk ke Dewan Pers di tahun 2020, sebagian besar aduan berisi ketidaktaatan media pada kode etik jurnalistik, terutama dilakukan media online.

Begitu terang Ketua Komisi Pengaduan Dewan Pers Arif Zulkifli dalam artikelnya di Buletin Etika Dewan Pers Desember 2020.

Dari jumlah tersebut, yang kerap digugat adalah berita yang tidak diverifikasi, judul yang menghakimi dan penggunaan sumber tunggal.


“Media yang melakukan kesalahan berulang-ulang, dengan mudah dianggap memiliki niat buruk (malice) yang menjadikan kredibilitas media tersebut layak dipertanyakan,” ujarnya seperti dikutip dari TOR diskusi Dewan Pers bertajuk “UU Pers Dan Fenomena Jurnalisme Di Media Sosial” yang diterima redaksi, Kamis (15/4).

Menariknya, media arus utama atau mainstream juga terkadang kedapatan melanggar kode etik jurnalistik.

Pelanggaran itu, menurut Arief Zulkifli, tidak lepas dari model bisnis media online yang mendasarkan pemasukannya pada iklan yang datang seiring banyaknya pengunjung media tersebut.

Upaya mengundang kerumunan itu, sambungnya, lantas menggoda wartawan untuk menulis berita sensasional. Sayangnya, berita yang ditulis cenderung asal cepat dan dangkal.

Selain itu, pemeringkatan media berdasarkan jumlah pengunjung telah membuat situs berita berlomba-lomba memproduksi berita yang sesuai dengan algoritma mesin pencari.

Arief menjelaskan bahwa pers juga menggunakan media sosial sebagai tambang informasi awal newsmakers dan alat untuk mempopulerkan karya jurnalistik berupa artikel, foto dan video di kalangan netizen.

“Namun senjata makan tuan. Di dalam kasus-kasus di mana karya jurnalistik itu tidak menyenangkan hati netizen, mereka berbalik meretas karya jurnalistik tersebut, bahkan melakukan doxing dan ad hominem terhadap jurnalisnya,” terangnya.

Doxing atau penggalian jejak digital pribadi dilakukan untuk melemahkan rasa percaya diri wartawan. Dalam pelaksanaannya doxing tak berdiri sendiri melainkan dijalankan bersamaan dengan ad hominem, yaitu perbuatan memaksakan hubungan dari dua hal yang sebetulnya tidak berhubungan.

“Jika dalam doxing, misalnya, ditemukan fakta wartawan ketika sekolah pernah tak naik kelas, maka para pendengung akan mengatakan kualitas liputan si wartawan buruk karena wartawan itu pernah tinggal kelas. Difabrikasi oleh ribuan pengikut, entah robot atau orang sungguhan, ad hominem itu dipercaya atau dipersepsikan layak dipercaya,” tegasnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

UPDATE

Gudang yang Terbakar di Cikarang Milik PT Emudah Fulfillmen, Penyedia Jasa Logistik E-Commerce

Sabtu, 26 September 2026 | 16:18

Mahkamah Agung Diminta Periksa Dugaan Kejanggalan Perkara Harta Bersama

Sabtu, 26 September 2026 | 15:28

SBY: Guruh Soekarnoputra Telah Melakukan Banyak Hal untuk Negeri Ini

Sabtu, 26 September 2026 | 15:03

Dulu Dipandang Sebelah Mata, Kini Dunia Barat Mulai Melirik Halal Indonesia

Sabtu, 26 September 2026 | 14:50

Sinyal Damai AS-Iran Bikin Harga Minyak Terpukul

Sabtu, 26 September 2026 | 14:26

Surya Paloh Kenang Guruh sebagai Budayawan dan Seniman

Sabtu, 26 September 2026 | 14:05

Palet Plastik dan Barang Marketplace Ludes dalam Kebakaran di Cikarang

Sabtu, 26 September 2026 | 13:50

Bitcoin Turun Tipis di Bawah 84.000 Dolar AS

Sabtu, 26 September 2026 | 13:33

Surya Paloh Ungkap Alasan Guruh Soekarnoputra Pilih Fokus ke Seni Ketimbang Pimpin PDI

Sabtu, 26 September 2026 | 13:10

Kapolri Pimpin Kenaikan Pangkat 50 Pati dan 4 PNS Polri

Sabtu, 26 September 2026 | 12:35

Selengkapnya