Berita

Desa Taghavard terbelah dua akibat konflik di wilayah Nagorno-Karabakh/Reuters

Dunia

Cerita Sebuah Desa Yang Terbelah Dua Akibat Konflik Nagorno-Karabakh

RABU, 03 FEBRUARI 2021 | 00:30 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Gencatan senjata dan perjanjian damai yang terjadi di sebuah wilayah kantung atau enklave yang disebut dengan Nagorno-Karabakh pada November tahun 2020 lalu diapresiasi banyak pihak, utamanya dari Azerbaijan dan sekutu dekatnya, Turki.

Perjanjian damai yang ditengahi oleh Rusia itu menjadi semacam kemenangan tersendiri bagi Azebaijan serta memperkuat pengakuannya atas wilayah Nagorno-Karabakh.

Memang secara intenasional, Nagorno-Karabakh diakui sebagai bagian dari Azerbaijan. Namun wilayah tersebut telah dikendalikan oleh etnis Armenia sejak awal 1990-an, setelah runtuhnya Uni Soviet.


Sejak saat itu, ketegangan antara Armenia dan Azerbaijan kerap terjadi. Puncaknya terjadi pada pertengahan tahun lalu di mana terjadi pertempuran antara militer dari Armenia dan Azerbaijan di Nagorno-Karabakh.

Pertempuran itu berujung pada hilangnya sejumlah nyawa dari kedua belah pihak dan membawa Rusia berdiri di posisi mediator yang mendorong gencatan senjata serta perjanjian damai yang diteken dua pihak yang bertikai pada bulan November lalu.

Salah satu dampak dari perjanjian itu adalah terbelahnya sebuah desa yang bernama Taghavard. Desa ini diketahui membentang sejauh tiga kilometer di sepanjang jalan tidak beraspal menuju pegunungan di Nagorno-Karabakh. Sebelum pertempuran tahun lalu terjadi, desa ini memiliki populasi lebih dari seribu etnis Armenia.

Namun pertempuran dan gencatan senjata menyebabkan desa ini tidak lagi sama seperti sebelumnya. Desa ini menjadi salah satu titik panas alias medan pertempuran pasukan dari dua negara tersebut.

Pasca perjanjian damai, pasukan Azerbaijan mengusai ujung barat desa yang banyak pemukiman. Sedangkan warga lokal etnis Armenia yang tidak melarikan diri dari perang sekarang tinggal di bagian timur desa dan dilindungi oleh unit militer etnis Armenia.

Salah seorang warga setempat etnis Armenia bernama bernama Lenser Gabrielyan berbagi kisahnya dengan Reuters baru-baru ini. Gabrielyan yang merupakan seorang petani mengaku bahwa akibat perang, dia dan keluarganya harus bergeser ke sisi timur desa dan meninggalkan rumah serta tanahnya.

Kini dia hanya bisa memandang dengan sedih ke arah tanahnya di desa Taghavard yang sekarang sudah terputus dari dia akibat perjanjian damai tersebut.

“Saya dulu bertani. Tapi hampir semua tanah dikuasai Azerbaijan. Tidak ada traktor tersisa di sini, semua peralatan ada di tangan pihak Azeri," ujar pria 65 tahun itu.

Kini dia dan banyak warga etnis Armenia lain, berjuang untuk kembali menata hidup. Pasalnya, ladang tempat ternak dulu merumput dan hutan terdekat, tempat mereka biasa memotong kayu bakar, berada di bawah kendali pasukan Azerbaijan.

Sebelum pertempuran tahun lalu terjadi, dia memelihara domba dan babi. Namun ternaknya hilang saat desa tersebut menjadi medan pertempuran dua pasukan negara yang bertetangga itu.

“Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Semuanya hancur," ujarnya.

Bukan hanya itu, sebelum konflik berkecamuk, warga desa juga menikmati air mengalir ke rumah mereka dari sumur yang terletak di bagian atas desa. Namun akses itu sekarang telah hilang.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya