Berita

Aksi unjuk rasa terbaru menantag kekuasaan Raja Thailand di beberapa bagian. militer/Reuters

Dunia

Pengunjuk Rasa Thailand Merangsek Ke Barak, Tantang Kekuasaan Raja Di Militer

MINGGU, 29 NOVEMBER 2020 | 23:04 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Pengunjuk rasa anti-pemerintah semakin bertindak agresif di Thailand. Dalam aksi unjuk rasa terbaru yang dilakukan pada akhir pekan ini (Minggu, 29/11) , massa bergerak ke barak militer untuk menantang kendali Raja Thailand, Maha Vajiralongkorn atas beberapa unit militer.

Mereka membawa serta bebek tiup berwarna kuning yang belakangan telah menjadi maskot di tengah aksi unjuk rasa. Massa yang protes melakukan aksi unjuk rasa di gerbang Resimen Infantri ke-11, bagian dari Pengawal Raja yang berperan dalam penindasan protes anti kemapanan pada tahun 2010.

Untuk menjaga keamanan, pasukan anti-huru hara ditempatkan di lokasi unjuk rasa.


"Tidak ada negara demokratis yang melihat seorang raja mengendalikan pasukan. Di negara demokratis mana pun dengan raja sebagai kepala negara, angkatan bersenjata melapor kepada pemerintah," kata Arnon Nampa, seorang pengacara hak asasi dan pemimpin protes yang sering mengkritik monarki.

"Kami telah melihat monarki memperluas kekuasaannya. Itu sebabnya kami ada di sini hari ini," sambungnya, seperti dimuat Reuters.

Para pengunjuk rasa menuduh monarki memungkinkan dekade dominasi militer.

Gelombang unjuk rasa anti-pemerintah sendiri telah terjadi sejak bulan Juli lalu. Pengunjuk rasa mulanya menuntut agar Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha mengundurkan diri dari jabatannya.

Namun, seiring berjalannya waktu, para pengunjuk rasa juga memperluas tuntutan mereka untuk pembatasan kekuasaan raja.

Sejauh ini, belum ada komentar dari pihak kerajaan Thailand atas gelombang protes yang terjadi sejak beberapa waktu belakangan.

Namun Raja Thailand Maha Vajiralongkorn baru-baru ini mengatakan bahwa pengunjuk rasa tetap dicintai, meskipun tindakan mereka yang melakukan unjuk rasa.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Rakyat Ingin Hukum yang Keras terhadap Pelaku Korupsi

Jumat, 28 Agustus 2026 | 02:19

Sumber APBN Berpeluang dari Harta Rampasan Koruptor

Jumat, 28 Agustus 2026 | 01:57

Gaduh Desil DTSEN, Bonnie Triyana: Buka Mekanisme Sanggah

Jumat, 28 Agustus 2026 | 01:21

Aset Daerah Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan

Jumat, 28 Agustus 2026 | 01:03

Ribuan Pengunjung Padati Hari Pertama Danantara Housing Expo

Jumat, 28 Agustus 2026 | 00:52

Leonardi Divonis 2,5 Tahun Penjara Meski Tak Terbukti Terima Uang

Jumat, 28 Agustus 2026 | 00:22

Kecurigaan Netizen Benar, Habis Karhutla, Muncullah Sawit

Jumat, 28 Agustus 2026 | 00:01

Pelindo-BNN Edukasi Pelajar di Empat Kota soal Bahaya Narkoba

Kamis, 27 Agustus 2026 | 23:31

Pos Polisi di Kolong Flyover Slipi Dibakar Massa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 23:10

UU Perampasan Aset Beri Kepastian Hukum Berantas Korupsi

Kamis, 27 Agustus 2026 | 23:00

Selengkapnya