Berita

Rudy Giuliani/Net

Dahlan Iskan

Cat Rambut

MINGGU, 22 NOVEMBER 2020 | 05:05 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

GEJOLAK Pilpres sudah selesai. Sudah aman. Tandanya jelas: diskusi publik di sana sudah beralih dari kualitas Pemilu ke kualitas cat rambut.

"Itu pasti bukan karena cat rambut," kata ahli penata rambut ke New York Times.

"Bisa jadi itu akibat pewarna godek," ujar yang lain.


"Mungkin saja itu akibat proses pengecatan rambut. Mungkin waktu cuci rambutnya yang kurang sempurna," ujar ahli tata rambut lainnya.

Yang dibicarakan itu adalah: warna hitam yang meleleh bersama keringat di pipi kanan pengacara Donald Trump, Rudy Giuliani.

Hari itu, Kamis lalu, Giuliani mengadakan konferensi pers. Masih soal kengototannya bahwa Trump itu seharusnya menang.

Dua jam lamanya Giuliani berbicara –termasuk melayani pertanyaan para wartawan yang sangat kritis.

Peluh Giuliani pun meleleh. Lho kok warna peluh itu hitam. Meleleh dari arah godeknya. Jelas sekali.

Sampai ada wartawan yang lebih tertarik ke lelehan hitam itu daripada ke kengototannya membela Trump. Lelehan itu pun difoto dari jarak pendek. Terlihat jelas ada lelehan hitam di situ (Lihat foto).

Maka para ahli politik menyingkir dari arena perdebatan. Topik rambut tidak menarik bagi mereka. Tapi bagi para ahli penata rambut itu persoalan lebih penting daripada siapa yang harus masuk Gedung Putih. Maka mantan Walikota New York yang legendaris berkat peristiwa 9/11 itu pun beralih jadi objek diskusi soal cat rambut.

Tidak mungkin Giuliani menggunakan cat rambut yang mudah luntur seperti itu. Ia kan salah satu orang terkaya di Amerika.

Apalagi sehari sebelumnya terungkap rahasia ini: untuk membela Trump itu Giuliani minta bayaran yang sangat mahal.

Perkaranya berat: membalik kekalahan menjadi kemenangan. "Giuliani minta bayaran satu hari USD 20.000" tulis New York Times. Itu sekitar Rp 300.000.000/hari.

Giuliani bukan pengacara sembarangan. Ia jenis pengacara yang tahu bagaimana harus bersikap seandainya di perkara itu kalah bukti.

"Kalau kalah bukti harus menang di saksi. Kalau kalah di saksi harus menang di bukti". Itulah prinsip dasarnya.

"Bagaimana kalau kalah bukti dan sekaligus kalah saksi?"

"Kalau kalah di bukti dan di saksi masih ada jalan: harus menang dalam gebrak meja".

Rupanya dalam perkara Trump ini Giuliani kalah bukti dan kalah saksi. Maka tiap tampil ia harus gebrak meja. Sampai berpeluhan.

Ia belum mau memastikan kebenaran soal bayaran Rp 300.000.000 per hari itu. Tapi jelas dengan kelas tinggi seperti itu tidak mungkin Giuliani memakai cat rambut merek biawak.

Maka saya lebih setuju dengan analis bahwa warna hitam itu disebabkan soal cuci rambut yang kurang sempurna tadi. Mungkin saja hari itu pencuci rambutnya sudah mengatakan masih perlu dibilas sekali lagi. Tapi Giuliani sendiri yang minta agar disudahi.
Katanya: sudah ditunggu Trump –di depan salon. Apalagi, di depan cermin, ia melihat wajah berumur 76 tahunnya sudah ganteng.

Setelah bercermin lama itu ia memang balik duduk di kursi salon. Tapi tidak untuk bilasan terakhir. Ia justru minta agar bagian godek-nya diolesi penghitam. Di cermin ia melihat bagian itu terlihat abu-abu memutih.

"Kan sudah ditunggu Trump di luar?“ tanya penata rambut di situ.

"Biar saja ia menunggu. Godek saya ini mengganggu ketampanan dan kemudaan saya," jawab Giuliani –entah kepada media apa dan entah apakah ia memang ngomong begitu.

Maka penata rambut itu cepat-cepat mengambil pensil pewarna. Agak buru-buru. Tapi warna abu-abu keputihan yang dikeluhkan tadi hilang.

Giuliani pun berkaca sekali lagi. Dengan tenang. Membandingkan godek kiri dan godek kanan. Cukup lama. Toh tidak mungkin Trump menunggunya di depan salon.

Maka perdebatan pun kini bukan lagi soal Biden atau Trump yang menang. Tapi soal proses cuci rambut atau pensil pewarna itu yang menjadi penyebab lelehan hitam itu.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Bos Danantara Ungkap Proses Pangkas BUMN Tak Mudah

Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:11

Hingga Siang Nusron Belum Hadir, KPK Masih Menunggu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:53

PJBS Direvisi, Porsi Saham Bayan Resources yang Dibeli Haji Isam Bertambah Jadi 10,08 Miliar

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:44

Nasib Gibran Kini Tergantung Prabowo

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:37

Empat WNI Pulang ke Tanah Air usai Enam Bulan Disandera Bajak Laut Somalia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

PDIP: Kebohongan Gibran Lulus SMA Sederajat Tercatat dalam Putusan Negara!

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

Putusan MK soal Gibran Buka Perdebatan Demokrasi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:21

DPR Minta Pemerintah Percepat Huntara bagi Korban Gempa Flores

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:19

Rita Widyasari Kembali Diperiksa KPK

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:17

Badai Dekati Amerika, Harga Minyak Naik Lagi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:01

Selengkapnya