Berita

ASEAN menandatangani perjanjian dagang terbesar dunia dengan lima negara mitra/Net

Dunia

Mengenal Lebih Dekat RCEP, Kesepakatan Dagang Terbesar Di Dunia Yang Diteken ASEAN

MINGGU, 15 NOVEMBER 2020 | 14:03 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Setelah negosiasi panjang selama delapan tahun, negara-negara ASEAN beserta lima negara mitra akhirnya menandatangani kesepakatan dagang terbesar di dunia, yaitu Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) pada akhir pekan ini (Minggu, 15/11).

Ini adalah tonggak sejarah baru, mengingat RCEP merupakan perjanjian perdagangan terbesar di dunia karena membentuk hampir sepertiga dari populasi dunia, menyumbang sekitar 30 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) global.

Namun, sebenarnya apakah RCEP ini?


Diluncurkan pada tahun 2012, RCEP adalah pakta perdagangan antara 10 negara anggota blok ASEAN, bersama dengan lima negara mitra, yakni China, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru. India sedianya akan menandatangani RCEP, namun menarik diri tahun lalu.

Kesepakatan ini mencakup 2,1 miliar orang, dengan anggota RCEP menyumbang sekitar 30 persen dari PDB global.

Tujuannya adalah untuk menurunkan tarif, membuka perdagangan jasa, dan mempromosikan investasi untuk membantu negara-negara berkembang mengejar ketertinggalan dunia.

Secara khusus, RCEP diharapkan dapat membantu mengurangi biaya dan waktu bagi perusahaan dengan memungkinkan mereka mengekspor produk ke mana pun di dalam blok tersebut tanpa memenuhi persyaratan terpisah untuk setiap negara.

RCEP juga menyinggung soal masalah kekayaan intelektual, tetapi tidak akan mencakup perlindungan lingkungan dan hak tenaga kerja.

"Area prioritas utama untuk negosiasi RCEP lebih lanjut kemungkinan adalah e-commerce," kata kata kepala ekonom Asia Pasifik di konsultan bisnis global IHS Markit, Rajiv Biswas kepada Channel News Asia.

Tidak jelas kapan pakta itu akan diratifikasi oleh setiap negara, namun RCEP bisa mulai berlaku tahun depan.

Lantas, mengapa RCEP penting?


RCEP menjadi perjanjian yang penting karena menetapkan aturan perdagangan baru untuk kawasan ASEAN dan mendapat dukungan China tetapi tidak termasuk Amerika Serikat.

Mengutip AFP, para pengamat mengatakan bahwa RCEP memperkuat ambisi geopolitik China yang lebih luas di kawasan ASEAN di mana China menghadapi sedikit persaingan dari Amerika Serikat sejak Presiden Donald Trump menarik diri dari pakta perdagangannya sendiri, yakni Kemitraan Trans-Pasifik (TPP).

TPP sebenarnya berada di jalur yang tepat untuk menjadi pakta perdagangan terbesar di dunia pada saat itu, sebelum Amerika Serikat membatalkannya.

Namun, sejumlah pengamat mengatakan RCEP tidak seluas TPP, atau pemggantinya, Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP).

"(RCEP) bukan perjanjian yang sepenuhnya selesai dan dirasionalisasi sepenuhnya," kata pakar perdagangan di National University of Singapore Business School Alexander Capri.

"Masalah dengan RCEP adalah Anda memiliki 15 negara yang sangat beragam pada tahap perkembangan yang berbeda dan dengan prioritas internal sepenuhnya," tambahnya.

Mengapa India mengundurkan diri?


India menarik diri tahun lalu dari negosiasi RCEP karena kekhawatiran tentang barang-barang murah China yang memasuki negara itu, meskipun India dapat bergabung di kemudian hari jika menginginkannya.

Ini menimbulkan kekhawatiran tentang masalah akses pasar, khawatir produsen domestiknya akan terpukul jika negara itu dibanjiri barang-barang murah China. Tiga industri yang rentan terganggu di India adalah tekstil, susu, dan pertanian.

Di tengah situasi tersebut, Perdana Menteri India Narendra Modi pada saat itu menghadapi tekanan yang memuncak di dalam negeri untuk mengambil sikap yang lebih keras terhadap persyaratan tersebut, dan terbukti tidak dapat diganggu gugat saat negosiasi RCEP hampir berakhir.

Apa arti RCEP bagi Amerika Serikat?


Sejumlah pengamat meniai bahwa kemungkinan pemerintahan baru Amerika Serikat di bawah Presiden terpilih Joe Biden akan lebih fokus pada Asia Tenggara, meskipun masih belum jelas apakah Biden akan membawa Amerika Serikat bergabung kembali dengan CPTPP atau tidak.

Topik tersebut hingga saat ini tetap menjadi masalah yang sensitif secara politik di Amerika Serikat.

"Pemerintah (Amerika Serikat) akan melihat ini dengan cermat," kata Capri.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

UPDATE

Suahasil Puji Bea Cukai Setelah Purbaya Tersingkir, Ada Apa Nih?

Minggu, 20 September 2026 | 19:41

Tim Qonun Asasi Sebut Wacana Muktamar Ulang NU Tak Punya Dasar

Minggu, 20 September 2026 | 19:29

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Rusia Gelar Pemilu Parlemen di Wilayah Ukraina yang Diduduki

Minggu, 20 September 2026 | 18:48

Negosiasi dengan Houthi, Solusi Arab Saudi

Minggu, 20 September 2026 | 18:43

Datangi Pospera, Ratusan Warga Minta Turunkan Desil

Minggu, 20 September 2026 | 18:18

Honor Play 11 Resmi Meluncur, Bawa Baterai Jumbo 8.300 mAh

Minggu, 20 September 2026 | 18:06

Timur Tengah Memanas, Trump Cepat-cepat Tinggalkan Camp David

Minggu, 20 September 2026 | 17:50

Apa Itu Perairan Masalembo yang Dijuluki Segitiga Bermuda Indonesia?

Minggu, 20 September 2026 | 17:50

BNI dan Unpad Perkuat Ekosistem Kampus melalui Layanan Digital Terintegrasi

Minggu, 20 September 2026 | 17:28

Selengkapnya