Berita

Joe Biden mempersiapkan langkah strategis untuk membalik prinsip America First dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat di era Donald Trump/Ilustrasi RMOL

Dunia

America First Di Garis Akhir, Ini Langkah Biden Untuk Siapkan AS Berinteraksi Lagi Dengan Dunia

KAMIS, 12 NOVEMBER 2020 | 15:32 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Joe Biden akan segera mengakhiri prinsip "America First" yang digadang-gadang oleh Donald Trump dalam kebijakan luar negerinya, setelah Biden memenangkan pemilu presiden Amerika Serikat bulan ini.

Sejak masa kampanye, Biden getol melontarkan rencana kebijakan yang akan dia tempuh jika dirinya duduk di kursi nomor satu di Gedung Putih, termasuk rencana kebijakan luar negerinya. Banyak dari rencana yang sudah Biden sampaikan di hadapan publik, membalik kebijakan pendahulunya, Trump.

Ambil contoh soal Iran. Biden mengatakan bahwa dia akan membawa Amerika Serikat kembali kepada kesepakatan nuklir Iran, dengan asumsi bahwa Iran bersedia untuk membalikkan arah dan mengamati batasnya.


Contoh lain soal isu perjanjian senjata nuklir yang sensitif. Biden berjanji, dia akan menandatangani untuk lima tahun lagi satu-satunya perjanjian senjata nuklir yang masih ada dengan Rusia. Bukan hanya itu, dia juga siap untuk melipatgandakan komitmen Amerika Serikat kepada NATO. Langkah ini membalikkan sikap Trump yang selama empat tahun terakhir mengancam untuk menarik diri dari aliansi tersebut.

Pada saat yang sama, Biden mengatakan bahwa dia akan membuat Rusia "membayar harga" untuk apa yang dia katakan sebagai gangguan dan upaya untuk mempengaruhi pemilu di Amerika Serikat.

Kepada The New York Times baru-baru ini, Biden menjelaskan bahwa yang terpenting dari itu semua, dia ingin mengakhiri slogan "America First" yang mendefinisikan Amerika Serikat seolah-olah membangun tembok. Biden ingin membuat Amerika Serikat bekerja lebih baik dengan sekutu dan membentuk pendekatan internasional bersama untuk memerangi pandemi Covid-19.

"Tragisnya, satu-satunya tempat Donald Trump membuat 'America First' adalah tanggapannya yang gagal terhadap virus corona. Kami (Amerika Serikat) 4 persen dari populasi dunia, namun memiliki 20 persen kematian," kata Biden beberapa hari sebelum pemilihan.

"Selain Trump merangkul para otokrat dunia dan menunjukkan jarinya ke mata sekutu demokratis kita, itulah alasan lain mengapa rasa hormat terhadap kepemimpinan Amerika jatuh bebas," sambungnya.

Janji-janji kampanye Biden tampak nyaman didengar. Namun agaknya memang lebih mudah untuk mengucapkan janji daripada menepatinya, bukan?

Lebih mudah berjanji untuk kembali ke pendekatan yang sebagian besar bersifat internasionalis pada era pasca-Perang Dunia II daripada melaksanakan perubahan itu setelah empat tahun penarikan global dan selama pandemi yang telah memperkuat naluri nasionalis.

Jadi, meski mungkin sekutu Amerika Serikat di satu sisi sedang tersenyum lega karena Biden tampak meyakinkan, di sisi lain, mereka juga mengakui bahwa mereka mungkin tidak pernah sepenuhnya percaya bahwa Amerika Serikat akan mampu melakukannya.

Dalam wawancara beberapa minggu terakhir, penasihat utama Biden mulai menguraikan restorasi yang mungkin disebut "Great Undoing" atau upaya untuk membalikkan arah upaya agresif semasa pemerintahan Trump.

"Suka atau tidak, dunia tidak mengatur dirinya sendiri,” kata Antony J. Blinken. Dia merupakan penasihat keamanan nasional lama Biden.

"Sampai pemerintahan Trump, dalam pemerintahan Demokrat dan Republik, Amerika Serikat melakukan banyak pengorganisasian itu, dan kami pasti membuat beberapa kesalahan di sepanjang jalan," sambungnya.

Namun sekarang, kata Blinken, Amerika Serikat telah menemukan apa yang terjadi ketika beberapa negara lain mencoba mengambil alih posisi Amerika Serikat.

"Atau mungkin lebih buruk, tidak ada yang melakukannya, dan Anda berakhir dengan kekosongan yang diisi oleh peristiwa buruk," tambahnya, seperti dikabarkan The New York Times.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

UPDATE

Suahasil Puji Bea Cukai Setelah Purbaya Tersingkir, Ada Apa Nih?

Minggu, 20 September 2026 | 19:41

Tim Qonun Asasi Sebut Wacana Muktamar Ulang NU Tak Punya Dasar

Minggu, 20 September 2026 | 19:29

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Rusia Gelar Pemilu Parlemen di Wilayah Ukraina yang Diduduki

Minggu, 20 September 2026 | 18:48

Negosiasi dengan Houthi, Solusi Arab Saudi

Minggu, 20 September 2026 | 18:43

Datangi Pospera, Ratusan Warga Minta Turunkan Desil

Minggu, 20 September 2026 | 18:18

Honor Play 11 Resmi Meluncur, Bawa Baterai Jumbo 8.300 mAh

Minggu, 20 September 2026 | 18:06

Timur Tengah Memanas, Trump Cepat-cepat Tinggalkan Camp David

Minggu, 20 September 2026 | 17:50

Apa Itu Perairan Masalembo yang Dijuluki Segitiga Bermuda Indonesia?

Minggu, 20 September 2026 | 17:50

BNI dan Unpad Perkuat Ekosistem Kampus melalui Layanan Digital Terintegrasi

Minggu, 20 September 2026 | 17:28

Selengkapnya