Berita

Ada sejumlah alasan politis yang membuat Presiden Joko Widodo belum melakukan reshuffle kabinetnya/Net

Politik

Jokowi Belum Lakukan Reshuffle Bukan Karena Menteri-menterinya Sudah Punya Sense Of Crisis

SENIN, 05 OKTOBER 2020 | 09:16 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Wacana reshuffle kabinet yang pernah dilontarkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada para Menterinya beberapa waktu lalu, hingga kini tak kunjung jadi kenyataan. Ada alasan tertentu yang membuat reshuflle ini bertahan sebagai sebuah wacana.

Kala itu, dengan nada tinggi, Presiden Jokowi menyebut kinerja para pembantunya itu dianggap masih belum memiliki sense of crisis dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Terkait wacana reshuffle yang belum terwujud, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin menilai, ada sejumlah pertimbangan politis yang membuat Jokowi hingga kini belum merombak kabinetnya. Meskipun, kinerja para menterinya dalam menghadapi pandemi Covid-19 masih acak-acakan.


"Jika hingga hari ini belum ada reshuffle itu karena pertimbangan politis. Bukan pertimbangan kinerja. Pertimbangan politis itu subjektif. Walaupun kinerja menterinya memble dan amburadul, tak akan di-reshuffle," kata Ujang Komarudin kepada Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu di Jakarta, Senin (5/10).

Atas dasar itu, pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia ini meyakini bahwa alasan Jokowi belum melakukan reshuffle kabinet bukan karena para menterinya saat ini sudah memiliki sense of crisis.

"Kalau ukuran sense of crisis itu tak jelas. Ukuran para menteri itu kinerja. Kinerja yang dinilainya," tuturnya.

"Harusnya yang di-reshuflle, jika terjadi reshuffle, adalah Menkes, Menag, Mendikbud, Mensos, Menkumham, Menpar, dan tim ekonomi," demikian Ujang Komarudin.

Sekadar informasi, dalam Sidang Kabinet I Jokowi sempat menyesalkan kinerja para pembantunya yang lamban, juga mengkritisi penyerapan anggaran penanganan Covid-19 yang masih minim. Kepala Negara bahkan mengancam akan melakukan reshuffle kabinetnya jika tak kunjung memperbaiki kinerja.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

AKPI Perkuat Profesionalisme dan Integritas Profesi

Senin, 13 April 2026 | 19:51

KNPI: Pemuda Harus Jadi Penyejuk di Tengah Isu Pemakzulan

Senin, 13 April 2026 | 19:50

14 Kajati Diganti, Termasuk Sumut dan Jatim

Senin, 13 April 2026 | 19:31

Cara Buat SKCK Online lewat SuperApps Presisi Polri, Mudah dan Praktis!

Senin, 13 April 2026 | 19:17

Bersiap Long Weekend, Ini Daftar 10 Tanggal Merah di Bulan Mei 2026

Senin, 13 April 2026 | 19:16

Viral Dokumen Kerja Sama Udara RI-AS, Okta Kumala: Kedaulatan Negara Prioritas

Senin, 13 April 2026 | 19:14

Daftar Hari Libur Nasional Mei 2026, Ada 3 Long Weekend

Senin, 13 April 2026 | 19:07

Ajudan Gubernur Riau Terima Fee Proyek Rp1,4 Miliar

Senin, 13 April 2026 | 19:02

4 Penyakit yang Harus Diwaspadai saaat Musim Pancaroba

Senin, 13 April 2026 | 18:57

Ongen Sentil Pengkritik Prabowo: Jangan Sok Paling ‘98’

Senin, 13 April 2026 | 18:52

Selengkapnya