Berita

Aplikasi TikTok kembali menjadi sorotan jelang pemilu Amerika Serikat/Net

Dunia

Tantangan Terbaru TikTok Bernama Pemilu Presiden AS

JUMAT, 18 SEPTEMBER 2020 | 00:42 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Aplikasi yang dikembangkan oleh perusahaan China ByteDance Technology, yakni TikTok yang sudah mendapar pengawasan ketat dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, kini menghadapi ujian baru di negeri Paman Sam, yakni pemilu presiden.

TikTok kini di disoroti soal bagaimana aplikasi tersebut menangani konten terkait pemilu presiden Amerika Serikat yang akan dilaksanakan pada November mendatang.

TikTok yang awalnya dikenal sebagai aplikasi hiburan berisi video singkat berisi lelucon atau atau tarian konyol kini semakin berkembang dengan konten bernada politik dari penggunanya.


Di Amerika Serikat sendiri, tagar Trump2020 dan Biden2020 secara kolektif memiliki lebih dari 12 miliar tampilan di aplikasi tersebut saat ini.

Meski begitu, Kepala Keamanan TikTok Amerika Serikat, Eric Han pekan ini mengatakan bahwa timnya terus bekerja untuk memastikan aplikasi dapat tetap menjadi tempat hiburan dan ekspresi diri yang konyol.

Aplikasi ini menjadi primadona tersendiri di negeri Paman Sam. Saat ini terdapat sekitar 100 juta pengguna aktif bulanan TikTok di negara tersebut.

Han memastikan bahwa pihaknya memetakan pendekatannya sendiri terhadap materi terkait pemilu, dengan mempertimbangkan apa yang disebut Han sebagai "kisah peringatan" dari saingan media sosial yang lebih mapan.

Mitra pemeriksa fakta TikTok, Lead Stories dan PolitiFact, mengatakan mereka telah meninjau ratusan video yang berisi informasi politik yang salah di aplikasi tersebut.

Salah satu kasus informasi politik yang salah adalah konten yang menyebut bahwa calon wakil presiden dari Partai Demokrat Kamala Harris mengancam akan membalas dendam pada pendukung Trump atau konten soal siapa yang muncul di catatan penerbangan pemodal yang dipermalukan Jeffrey Epstein.

Tetapi tidak seperti Facebook Inc dan Twitter Inc, TikTok tidak menandai konten berisi informasi yang salah kepada penggunanya. Sebaliknya, TikTok menyimpan penilaian pemeriksa fakta secara internal dan menggunakannya untuk menghapus konten, atau mengurangi jangkauannya.

"Banyak dari kita berasal dari platform lain, kita telah melihat bagaimana pemeriksaan fakta bekerja, kita telah melihat bagaimana pelabelan bekerja," kata Han seperti dikabarkan Reuters (Kamis, 17/9).

Menurutnya, pihak TikTok sangat menyadari bahwa label pengecekan fakta dapat menjadi bumerang dengan membuat pengguna menggandakan keyakinan yang tidak akurat atau menganggap semua konten yang tidak berlabel itu sah.

Han menambahkan bahwa TikTok tidak menerima iklan politik dan tidak mengizinkan kesalahan informasi yang dapat menyebabkan kerugian, termasuk konten yang menyesatkan pengguna tentang pemilu.

Populer

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Cek Siaran Langsung Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Selasa, 22 September 2026 | 02:21

DPRD DKI Apresiasi Kebijakan Penutupan TPS Ilegal

Selasa, 22 September 2026 | 02:01

Indonesia Rebut 7 Medali di Aichi-Nagoya

Selasa, 22 September 2026 | 01:42

Ditjen AHU Perkuat Pengawasan Korporasi

Selasa, 22 September 2026 | 01:23

Wamendagri Ribka Haluk Berduka Tiga ASN Jadi Korban KKB

Selasa, 22 September 2026 | 01:01

Hasil Audit BPK Ditunggu dalam Kasus Toba Pulp Lestari

Selasa, 22 September 2026 | 00:37

Tiga Bulan Nganggur, Karyawan De Club Arjuna Geruduk Balai Kota

Selasa, 22 September 2026 | 00:26

Kejagung Periksa Dirut PT Migas Kota Bekasi terkait Dugaan Korupsi KSO

Selasa, 22 September 2026 | 00:01

80 Negara Siap Hadapi Wajib Sertifikasi Halal

Senin, 21 September 2026 | 23:47

KPK Harus Periksa Nusron Wahid demi Kepastian Hukum

Senin, 21 September 2026 | 23:31

Selengkapnya