Dialog antar dua faksi bertikai Libya yang digelar di Maroko/MAP
Dialog antar-Libya yang dilangsungkan di kota Bouznika, Maroko pekan ini membuahkan hasil. Dialog tersebut diketahui digelar oleh Maroko untuk mempertemukan dua faksi di Libya untuk duduk satu meja dan membahas sejumlah isu krusial, utamanya adalah mengenai gencatan sejara dan upaya perdamaian.
Mereka yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah delegasi dari faksi Pemerintahan Nasional yang berbasis di Tripoli dan faksi Dewan Perwakilan Rakyat yang berbasis di Tobruk.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis Kamis (10/9), kedua faksi menyatakan berhasil mencapai kesepakatan komprehensif tentang kriteria dan mekanisme menuju perdamaian yang transparan dan obyektif.
Kedua belah pihak juga setuju untuk melanjutkan dialog pada minggu terakhir bulan ini untuk menyelesaikan langkah-langkah yang diperlukan dalam memastikan implementasi dan aktivasi perjanjian.
Mereka juga menegaskan bahwa pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana persahabatan dan persaudaraan. Hal itu ditandai dengan pemahaman dan konsensus yang dibuat oleh kedua belah pihak.
Kedua belah pihak juga menekankan bahwa pertemuan ini berlangsung dalam penerapan Pasal 15 dari kesepakatan politik yang dicapai di Skhirat dan sebagai konfirmasi dari kesimpulan konferensi Berlin yang mendukung solusi politik dan berdasarkan resolusi Dewan Keamanan PBB yang relevan.
Dialog ini pun digelar dengan kesadaran mereka akan dampak berbahaya yang timbul dari perpecahan politik dan kelembagaan yang menyebabkan warga kehilangan kepercayaan terhadap peran lembaga legislatif, eksekutif dan kontrol karena kondisi kehidupan yang buruk di semua tingkatan.
Pernyataan bersama itu dibacakan oleh Driss Omran dari faksi Dewan Perwakilan Libya, di hadapan Menteri Luar Negeri, Kerjasama Afrika dan Ekspatriat Maroko, Nasser Bourita.
Kedua belah pihak menyatakan apresiasi yang besar pada Maroko yang telah memberikan ruang dialog bagi mereka untuk mencari jalan damai dari perselisihan yang terjadi.
Dalam dialog tersebut, dua faksi Libya juga meminta PBB dan komunitas internasional ikut mendukung upaya Maroko menciptakan kondisi yang tepat dan iklim yang kondusif untuk mencapai solusi politik yang komprehensif di Libya.
Mereka juga mengucapkan terima kasih kepada Kerajaan Maroko serta Raja Muhammad VI atas dukungan dan bantuan untuk mengatasi krisis Libya dan mencapai harapan rakyat Libya untuk membangun negara demokratis yang stabil.