Berita

Stress pasca trauma bisa bertahan hingga bertahun-tahun jika tidak diatasi dengan baik/Net

Dunia

9/11 Dan Covid-19: Sama-sama Memicu Trauma Massal, Tapi Dengan Tantangan Pemulihan Berbeda

JUMAT, 11 SEPTEMBER 2020 | 23:29 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Jelang akhir pekan ini, tepatnya pada Jumat (11/9), Amerika Serikat mengenang 19 tahun tragedi traumatis serangkaian teror mematikan. Serangan tersebut merupakan serangkaian bunuh diri yang telah diatur terhadap beberapa target di New York City dan Washington, D.C. oleh pembajak pesawat dari kelompok teroris Al Qaeda yang terjadi pada tanggal 11 bulan September 2001.

Para teroris membajak empat pesawat kemudian dengan sengaja menabrakkan dua pesawat ke Menara Kembar World Trade Center di New York City. Kedua menara itu runtuh dalam kurun waktu sekitar dua jam.

Bukan hanya itu, pembajak juga menabrakan pesawat ketiga ke Pentagon di Arlington, Virginia. Sedangkan pesawat keempat yang dibajak, jatuh di lapangan dekat Shanksville, Pennsylvania dan gagal mencapai target aslinya.


Meski telah 19 tahun beralalu, peristiwa itu masih terlalu pahit untuk dikenang, terlebih oleh keluarga, sahabat dan kerabat dari para korban. Peristiwa tragis itu pun memberikan trauma yang signifikan bagi banyak orang, alias massal.

Trauma massal sendiri dapat menciptakan keadaan "respons ancaman kronis" yang berkepanjangan. Ini adalah keadaan yang muncul secara terus-menerus dalam "mode bertahan" hidup. Hal itu terlihat dalam data dari Catatan Kesehatan Pusat Perdagangan Dunia yang menyebut bahwa ada gejala baru gangguan stres pasca-trauma yang terjadi antara lima hingga enam tahun setelah peristiwa 9/11.

Bukan hanya itu, dampak trauma juga bisa bertahan selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Data yang sama menyebutkan bahwa pada 15 tahun pasca 9/11, dalam sampel 36.897 responden yang terdiri dari petugas penyelamat, pemulihan dan anggota masyarakat yang terpapar di WTC Health Registry, ditemukan bahwa sebanyak 14,2 persen petugas penyelamat dan 15,3 persen anggota masyarakat melaporkan gangguan stres dan depresi pasca-trauma.

Dan kini, meski telah 19 tahun berlalu, trauma pasca peristiwa 9/11 yang mendalam tidak serta musnah dari banyak warga Amerika Serikat.

"Sudah hampir 20 tahun dan saya masih memikirkan teman dan kolega yang hilang setiap hari," kata Jonathan Morris yang berusia 62 tahun. Dia adalah seorang sersan staf Angkatan Darat Amerika Serikat pada saat peristiwa 9/11 terjadi.

Pada saat itu, dia bertugas sebagai perwira nonkomisi yang bertanggung jawab atas departemen darurat di Pusat Medis Militer Nasional Walter Reed di Bethesda, Maryland. Dia kehilangan dua rekannya di Pentagon dalam serangan tersebut.

CNN dalam artikel berjudul "9/11 and Covid-19: 2 mass trauma events with different recovery challenges" menyebut bahwa efek trauma massal yang dihasilkan dari peristiwa 9/11 juga tampaknya bisa muncul di tengah pandemik Covid-19 yang saat ini terjadi, hanya saja dengan tantangan pemulihan yang berbeda.

Secara diam-diam namun pasti, Covid-19 seakan menabur ketidaberdayaan, ketidakpercayaan dan juga kekuatan yang melumpuhkan pada masyarakat. Bukan tidak mungkin bahwa gangguan pasca tramua juga terjadi dan bertahan lama saat pandemik Covid-19 berlalu.

Pasalnya, tidak semua orang bisa "mengatasi" Covid-19 dengan kondisi baik, sama halnya dengan mereka yang tidak bisa melupakan pelarian yang menakutkan dari tragedi 9/11.

Trauma tertentu dapat membawa kita dari perasaan bahwa kita adalah bagian dari komunitas manusia ke tempat isolasi yang mendalam, di mana kepercayaan kita pada kebaikan orang lain sangat rusak.

Seperti penuturan salah satu penyintas Covid-19 di Amerika Serikat bernama Kate Colbert. Kepada CNN dia menuturkan bahwa dia pertama kali didiagnosis dengan Covid-19 pada akhir Maret, dan dia telah melawan gejala fisik dan trauma emosional sejak saat itu.

Dia pernah berada dalam keadaan di mana dia menghubungi departemen radiologi untuk menindaklanjuti perintah dokternya untuk mendapatkan angiogram darurat pada bulan Mei. Dia bahkan sampai menangis ketika resepsionis mengatakan dia tidak dapat menjadwalkan prosedur sampai dia dinyatakan negatif untuk Covid.

"Saya tidak pernah merasa begitu ditinggalkan," kata Colbert yang merupakan seorang konsultan pemasaran dan penulis buku bisnis di Kenosha, Wisconsin.

Dia mengaku bahwa kepercayaannya kepada orang lain rusak pasca trauma semacam itu.

"Akhir-akhir ini, saya tidak bisa membedakan teman dari musuh. Orang yang paling baik hati merasa kasihan pada saya, yang menakutkan itu kejam dan yang acuh tak acuh telah melupakan saya. Saya tidak baik-baik saja," ujarnya.

Karena itulah, agar dampak dari pandemik Covid-19 tidak semakin buruk, CNN memberikan sejumlah saran penting yang mungkin bisa ditiru banyak orang.

Pertama
, identitifikasi tiga hal positif yang dapat Anda lakukan dan dapat Anda beri tindakan, lalu fokus pada hal tersebut sambil mencari makna di tengah kekacauan akibat Covid-19. Hal tersebut dapat membantu kita mendapatkan kembali semangat juang.

Kedua, daripada berfokus pada "jarak sosial", ada baiknya menggeser sudut pandang menjadi "terhubung dari jarak jauh". Karena itu, luangkan waktu sejenak untuk memikirkan tentang orang-orang di lingkaran dalam yang sangat Anda percayai. Jika perlu pasang pengingat di telepon Anda untuk menghubungi salah satu dari orang-orang istimewa ini setiap hari secara bergilir.

Ketiga, jangan ragu mencari bantuan profesional jika perlu. Saat ini, ada berbagai pilihan pemulihan baru yang menjanjikan pada kasus trauma, yang menargetkan gejala biologis dan psikologis trauma. Penting untuk digarisbawahi, stres pasca-trauma tidak harus menjadi hukuman seumur hidup, jadi mintalah bantuan jika perlu.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

Komisi III DPR Sambut KUHP dan KUHAP Baru dengan Sukacita

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:12

Bea Keluar Batu Bara Langkah Korektif Agar Negara Tak Terus Tekor

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:08

Prabowo Dua Kali Absen Pembukaan Bursa, Ini Kata Purbaya

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:07

Polri Susun Format Penyidikan Sesuai KUHP dan KUHAP Baru

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:06

Koalisi Permanen Mustahil Terbentuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:01

Polri-Kejagung Jalankan KUHP dan KUHAP Baru Sejak Pukul 00.01 WIB

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:58

Tutup Akhir Tahun 2025 DPRD Kota Bogor Tetapkan Dua Perda

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:46

Presiden Prabowo Harus Segera Ganti Menteri yang Tak Maksimal

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:42

Bitcoin Bangkit ke Level 88.600 Dolar AS

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:41

Berjualan di Atas Lumpur

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:41

Selengkapnya