Berita

Presiden Prancis Emmanuel Macron/Net

Dunia

Garis Merah Untuk Turki Dari Presiden Macron

SABTU, 29 AGUSTUS 2020 | 12:04 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Prancis terus melibatkan dirinya dalam konflik laut Mediterania yang tengah memanas antara Turki dan Yunani. Terbaru, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa dia telah mengambil sikap keras dengan menetapkan garis merah sehubungan dengan tindakan Turki di Mediterania timur pada Jumat (28/7).

Dalam beberapa bulan terakhir hubungan antara Prancis dan Turki memang memburuk terkait peran Ankara di NATO, Libya dan Mediterania.

Macron telah meminta Uni Eropa untuk menunjukkan solidaritas dengan Yunani dan Siprus dalam perselisihan mengenai cadangan gas alam di lepas pantai Siprus dan luasnya rak kontinen mereka dan telah mendorong sanksi lebih lanjut di tingkat UE, meskipun ada perpecahan di blok tersebut mengenai masalah tersebut.


"Dalam hal kedaulatan Mediterania, saya harus konsisten dalam perbuatan dan perkataan," kata Macron kepada wartawan pada konferensi pers, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (28/8).

“Saya dapat memberitahu Anda bahwa Turki hanya mempertimbangkan dan menghormati itu. Jika Anda mengucapkan kata-kata yang tidak diikuti dengan tindakan. Apa yang dilakukan Prancis musim panas ini, penting: ini adalah kebijakan garis merah. Saya melakukannya di Suriah," katanya mengacu pada serangan udara Prancis terhadap situs senjata kimia yang dicurigai di Suriah.

Prancis minggu ini bergabung dengan latihan militer dengan Italia, Yunani, dan Siprus di Mediterania timur ketika perselisihan antara Turki dan Yunani meningkat setelah Ankara mengirim kapal survei Oruc Reis ke perairan yang disengketakan bulan ini, sebuah tindakan yang disebut ilegal oleh Athena.

Macron mengatakan dia tegas, tapi tetap terkendali. “Itu proporsional. Kami tidak mengirimkan armada,” ujarnya.

Macron telah berulang kali menuntut sanksi Uni Eropa lebih lanjut terhadap Turki. Kedua sekutu NATO itu hampir bertikai pada bulan Juni lalu setelah sebuah kapal perang Prancis berusaha untuk memeriksa kapal Turki sebagai bagian dari embargo senjata PBB untuk Libya.

"Saya tidak menganggap bahwa dalam beberapa tahun terakhir strategi Turki adalah strategi sekutu NATO. Ketika Anda memiliki negara yang menyerang zona ekonomi eksklusif atau kedaulatan dua anggota Uni Eropa," katanya, seraya menggambarkan tindakan Turki sebagai provokasi.

“Apa kredibilitas kami dalam menangani Belarus jika kami tidak bereaksi terhadap serangan terhadap kedaulatan anggota kami sendiri?," katanya.

Sementara itu berbeda dengan Macron, Jerman telah mencari pendekatan yang tidak terlalu konfrontatif, dan mencoba menengahi antara Ankara dan Athena.

Pada Selasa (25/8) lalu menteri luar negeri masing-masing negara telah menyatakan keinginannya untuk menyelesaikan masalah melalui dialog setelah pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas. Meskipun demikian, baik Yunani maupun Turki tetap mengingatkan bahwa mereka akan terus mempertahankan hak-haknya di wilayah tersebut.

“Jerman dan mitra lainnya mulai setuju dengan kami bahwa agenda Turki bermasalah hari ini. Ketika enam bulan lalu orang mengatakan Prancis adalah satu-satunya yang menyalahkan Turki atas berbagai hal, semua orang sekarang melihat bahwa ada masalah," kata Macron.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Intelijen AS: Iran Bakal Perpanjang Perang untuk Goyang Trump di Pemilu Sela

Minggu, 06 September 2026 | 16:27

Pengunjung Lampung Financial Festival 2026 Antusias Jajal Layanan Digital BNI

Minggu, 06 September 2026 | 16:06

Erupsi Anak Krakatau, 12 Penerbangan Malaysia Airlines ke Jakarta Dibatalkan

Minggu, 06 September 2026 | 15:51

Debu Vulkanik Tebal Selimuti Bandar Lampung

Minggu, 06 September 2026 | 15:36

Trump Ancam Serang Gunung Pickaxe Iran dalam Waktu Dekat

Minggu, 06 September 2026 | 15:25

Gugatan Denny Indrayana soal Ijazah Gibran Berpeluang Ditolak MK

Minggu, 06 September 2026 | 14:49

Denmark Tegaskan Dukungan Terhadap Otonomi Sahara Maroko

Minggu, 06 September 2026 | 14:18

BNPB Gencarkan OMC Redam Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau di Jakarta

Minggu, 06 September 2026 | 14:12

Pemantauan Kualitas Udara Diperketat Antisipasi Dampak Sebaran Abu Vulkanik

Minggu, 06 September 2026 | 14:06

Produk Impor Masuk RI Wajib Halal

Minggu, 06 September 2026 | 14:01

Selengkapnya