Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Punya Beidou, China Lampaui Sistem Navigasi AS

JUMAT, 28 AGUSTUS 2020 | 08:21 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

China diklaim sudah melampaui Amerika Serikat (AS) dalam hal sistem navigasi. Diresmikan akhir bulan lalu, Beidou adalah saingan terberat dari Global Positioning System (GPS) buatan AS.

Pada 31 Juli 2020, Presiden China, Xi Jinping membuat pengumuman resmi penugasan Beidou dalam sebuah upacara yang diadakan di Aula Besar Rakyat di Beijing. Di sana, ia mengundang para pejabat militer dan menyaksikan keberhasilan rezimnya yang dapat melampaui AS.

"Ini adalah tonggak penting dalam cara kita mendaki ketinggian sains dan melangkah menuju kekuatan luar angkasa," ujarnya pada saat itu, melansir South China Morning Post


Bukan tanpa alasan menyebut Beidou sebagai saingan terberat GPS. Selama ini, sistem navigasi yang ada di dunia selain GPS dan Beidou adalah Galileo dari Uni Eropa dan Glonass dari Rusia. Namun, teknologi dan skala dari Beidou berkembang dengan sangat cepat.

Beidou Si Bintang Biduk

Beidou memiliki arti sebagai "Bintang Biduk". Gagasan tersebut sudah muncul sejak 1990-an, ketika militer China berusaha untuk mengurangi ketergantungan pada GPS dari AS.

Satelit Beidou pertama diluncurkan pada 2000 dengan jangkauan yang terbatas ke China. Kemudian pada 2012, China meluncurkan satelit Beidou generasi kedua yang mencakup wilayah Asia Pasifik. Hingga terakhir, China meluncurkan satelit Beidou-3 pada Juni 2020.

Totalnya, satelit Beidou yang dimiliki China saat ini berjumlah 35 atau paling banyak di antara yang lain. GPS selama ini memiliki 31 satelit, Glonass memiliki 24 satelit, dan Galileo memiliki 22 satelit.

Pesatnya teknologi Beidou sesuai dengan visi China yang akan membangun dunia manufaktur dan inovasi yang tidak bergantung pada Barat.

Dengan Beidou, china dapat membentuk kemitraan dan aliansi serta standar kontrol untuk teknologi informasi, perangkat seluler, 5G, mobil dan pesawat tanpa awak, hingga internet dalam skala yang lebih besar.

Lebih akurat dari GPS

Dengan probe ke-55 yang beroperasi sejak 2018, Beidou telah meningkatkan akurasi pemosisiannya secara signifikan. Margin kesalahannya telah dikurangi menjadi 10 cm, sementara GPD memiliki akurasi sekitar 30 cm.

Pemerintah China sudah memerintahkan pemasangan terminal Beidou pada semua transportasi dan kapal untuk meningkatkan pelacakan. Termasuk juga berbagai fasilitas.

Gratis untuk semua

Slogan Beidou selama ini adalah "Melayani Dunia dan Bermanfaat bagi Umat Manusia". Dengan slogan tersebut, China memberikan keleluasaan bagi negara-negara untuk menggunakan Beidou, khususnya dalam hal internet dan 5G.

Beijing juga telah mempromosikan penggunaan Beidou di kawasan Asia Pasifik dan di negara-negara yang terlibat dalam Belt and Road Initiative (BRI). Saat ini, China sudah menandatangani kerjasama penggunaan Beidou dengan 154 negara.

Lebih murah

Lebih dari 75 persen smartphone yang mengajukan akses internet di pasar China pada kuartal pertama tahun 2020 mendukung BDS. Harga chip BeiDou buatan China turun menjadi 0,85 dolar AS.

Saat ini, lebih dari 6,5 juta kendaraan yang beroperasi, 40.000 kendaraan pos dan kurir, sekitar 80.000 bus di 36 kota pusat, lebih dari 3.200 fasilitas navigasi sungai pedalaman dan lebih dari 2.900 fasilitas navigasi laut menggunakan sistem Beidou di China. Jumlah mesin pertanian yang menggunakan sistem penggerak otomatis berdasarkan Beidou telah mencapai 20.000.

Kemandirian militer

Salah satu alasan utama China dalam membangun sistem navigasi Beidou adalah untuk membangun kemandirian militer, tidak bergantung pada AS.

Sekarang, China dapat mengarahkan rudal dan bomnya ke target yang telah ditentukan, tanpa takut AS akan mematikan GPS untuk target militer tetap. Untuk target bergerak, China dapat membawa misilnya mendekati target, kemudian pencari terminal dapat memberikan panduan aktif untuk penargetan yang tepat.

Kemampuan ini memperkuat kemampuan pertahanan China dalam hal-hal seperti Laut China Selatan, Taiwan, atau Hong Kong. Ini juga membatasi opsi kontra-intervensi AS. Ini meningkatkan kemampuan China untuk merespons, dan karena itu pencegahannya, jika AS atau sekutu mencoba untuk campur tangan.

Ini karena BeiDou independen yang dikombinasikan dengan 5G berarti penggunaan yang nyaman dari sistem komando militer waktu nyata, sistem kontrol, dan sistem senjata otomatis yang sensitif terhadap perusakan.

Belajar dari kesalahan GPS

Hal yang membuat Beidou dapat melampaui GPS adalah karena China belajar dari kesalahan AS.

“Beidou jelas dirancang beberapa dekade setelah GPS, jadi ia mendapat manfaat dari belajar dari pengalaman GPS. Ini memiliki beberapa sinyal yang memiliki bandwidth lebih tinggi, memberikan akurasi yang lebih baik. Ia memiliki lebih sedikit bidang orbit untuk satelit, membuat pemeliharaan konstelasi lebih mudah," ujar Direktur Pusat Penelitian Teknik Luar Angkasa Australia, Andrew Dempster, mengutip Reuters.

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Serentak di Tiga Lokasi, KPK Periksa Pegawai Kemenag dan Bos Travel

Jumat, 17 April 2026 | 14:16

Waspadai Phishing dan Malware, BNI Tekankan Keamanan BNIdirect

Jumat, 17 April 2026 | 14:15

Bitcoin Stabil di Level 74.900 Dolar AS

Jumat, 17 April 2026 | 14:11

Ekonomi Jatim Tumbuh 5,33 Persen di 2025, Didongkrak Sektor Manufaktur

Jumat, 17 April 2026 | 14:05

KPK Periksa Direktur Kepatuhan Bank Papua dalam Kasus Korupsi Dana Operasional Papua

Jumat, 17 April 2026 | 14:01

Rekrutmen Manajer Kopdes Tak Boleh Ada Titipan

Jumat, 17 April 2026 | 13:50

Kasus Chat Cabul Mahasiswa Merebak di IPB, DPR Minta Kampus Bertindak Tegas

Jumat, 17 April 2026 | 13:41

Penahanan Harga BBM Non-Subsidi Dikhawatirkan Ganggu Kesehatan Fiskal

Jumat, 17 April 2026 | 13:39

PPIH Ujung Tombak Keberhasilan Penyelenggaraan Haji

Jumat, 17 April 2026 | 13:31

KPK Temukan Dapur MBG Tak Layak, Kasus Keracunan Jadi Alarm Serius

Jumat, 17 April 2026 | 13:22

Selengkapnya