Berita

Lebah/Net

Publika

KAMI "Sting Like A Bee"

JUMAT, 21 AGUSTUS 2020 | 09:33 WIB

KAMI sudah dideklarasikan 18 Agustus 2020. Dipimpin Presidium Prof. Dr. Din Syamsuddin, Jenderal Purn TNI Gatot Nurmantyo dan Prof. Dr. Rohmat Wahhab didukung oleh tokoh-tokoh nasional dan internasional.

Kekuatan moral politik pun terbentuk. Baru hadir sudah mampu menggoncangkan kekuasaan. Bagai tersengat, kepanikan pun terjadi. KAMI diserang sana sini secara tidak cerdas. Padahal KAMI baru saja menyatakan sebagai gerakan moral.

Aneh juga ada ketakutan politik berlebihan. Duta Besar Palestina yang hadir untuk ikut upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI habis "diteror" oleh politisi yang gusar dan cari muka.


Media buzzer rupiah diduga membuat meme provokatif. Memojokkan KAMI entah atas suruhan istana atau baru tahap proposal proyek. Yang jelas ada pihak-pihak yang kebakaran jenggot.

Berhimpunnya orang-orang yang memiliki pengaruh dan berjuang dengan sandaran moral menjadi sebuah terapi kejut. Maklumat kritis yang dibacakan mungkin dinilai "menggigit" meskipun sebenarnya baru sebatas sengatan lebah saja "sting like a bee".

Tujuan penyengatan adalah pengobatan agar sehat atau pulih kembali.

Deklarator tak ada niat "membunuh" dengan hanya sengatan lebah. Justru hal ini sebagai upaya untuk penyelamatan. Menolong orang yang dizalimi dan menolong orang zalim. Yang kedua tentu dengan cara menghentikan kezaliman.

Demikian ungkapan Prof. Din Syamsuddin dalam deklarasi yang lalu.

Agama memuji lebah. Qur'an menyatakan lebah menerima wahyu (QS. An Nahl 68). Sebuah hadits menyebut bahwa lebah itu makan yang baik, mengeluarkan yang baik, hinggap di ranting, tidak membuat patah dan rusak (HR. Ahmad).

Input bagus dan output baik. Ketika lebah menyengat maka semangatnya adalah altruisme. Ia akan mati  setelah menyengat. Menjadi martir demi penyelamatan kehidupan bersama.

Mohammad Ali petinju yang digelari "sting like a bee" memiliki pukulan pukulan yang menyengat. Jab dan hook yang efektif. Membuat sadar bahwa lawan sebenarnya pecundang.

Pertahanan "rope a dope" telah membuat juara bertahan George Foreman merasa lelah dan sulit untuk menjatuhkan Ali. Akhirnya Muhammad Ali memenangkan pertandingan dengan Knock Out.

Maklumat KAMI seperti sengatan lebah. Serangan balik membabi buta terjadi baik kepada personal deklarator maupun terhadap substansi tuntutan dilakukan. KAMI cukup cerdas untuk tidak melayani argumen sampah dan "bullying" kepanikan.

Menjalankan terus agenda yang dicanangkan sebagai fokus dari gerakan. Taktik "rope a dope" cukup efektif menghadapi serangan  yang tak bermutu.

KAMI yang oleh penulis nyinyir disindir sebagai "superheroes" akan mampu menjadi "superheroes" yang sebenarnya jika jati dirinya sebagai gerakan moral tetap solid dan bersemangat. Kaum cendikia yang tergabung di dalamnya merupakan pasukan dari kekuatan moral dari koalisi tersebut.

Menghadapi pertarungan yang tidak dapat dihindarkan maka optimalisasi potensi mesti dilakukan. Belajar dari Muhammad Ali, KAMI akan sukses menunaikan misi jika bekerja dengan pola "float like a butterfly, sting like a bee" dan menerapkan pertahanan kokoh "rope a dope".

Tapi seperti keyakinan Ali meski kerap menyebut dirinya dalam rangka psywar "the greatest", tetap saja menanamkan dan mengumandangkan "Allahu Akbar". Allah yang Besar dan Maha Penolong.

KAMI tidak ada apa-apa tanpa pertolongan Allah. Inilah yang membuatnya membesar dan menguat serta memenangkan pertarungan antara kebenaran lawan kezaliman, oligarki lawan demokrasi, kejujuran lawan kepalsuan. Tidak takut terhadap provokasi dan adu domba. Tetap menyengat dalam rangka menyelamatkan ."Sting like a bee".

M. Rizal Fadillah
Pemerhati politik dan kebangsaan.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Menhan Sjafrie-Dubes Maroko Bahas Penguatan Kerja Sama Pertahanan Indonesia

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:11

Kompensasi Uang Bau TPST Bantar Gebang Molor

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:01

DJP: Sistem Sudah Siap Pungut Pajak Pedagang Online Mulai 1 Juli

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:25

GMNI Dorong Efisiensi APBN Berorientasi Kesejahteraan

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:12

CBA Ancam Laporkan KPK ke Dewas soal Suap Impor Bea Cukai

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:00

Der Panzer Rontok, Bangsa yang Pernah Hampir Punah Justru Melaju

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:34

Erling Haaland Bawa Norwegia Tantang Brasil

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:22

Ini Alasan Upacara Hari Bhayangkara Digelar di Satlat Brimob Polri Cikeas

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:00

Sanksi Partai Tak Bisa Gantikan Proses Hukum Kasus Dokter Icha

Rabu, 01 Juli 2026 | 01:41

Selengkapnya