Berita

Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES)/Net

Publika

Melawan Oligarki Yang Membajak Demokrasi Kita Hari ini: Tugas Kesejarahan LP3ES

Refleksi HUT LP3ES ke-49
RABU, 19 AGUSTUS 2020 | 19:20 WIB

HARI ini LP3ES merayakan ulang tahunnya yang ke-49 alias hampir separuh abad. Lembaga yang telah melahirkan banyak intelektual yang menerangi langit Indonesia, menteri hingga presiden ini telah hampir separuh abad mewarnai Indonesia.

Ya, Presiden Abdurrahman Wahid adalah salah satu aktivis dan intelektual yang pernah berkiprah di LP3ES. Lalu ada banyak menteri. Mereka antara lain: Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo, Ketua Dewan Pembina LP3ES pertama yang menjadi Menteri Perdagangan dan kemudian Menristek. Kemudian ada Emil Salim Ketua Dewan Pembina LP3ES kedua yang menjadi Menteri KLH.

Pada salah satu Kabinet Pembangunan, tercatat pula nama Dorodjatun Kuntjorodjakti yang menjadi Menko Ekuin. Ia pernah pula menjadi Ketua Dewan Pembina LP3ES.


Pada level staf LP3ES, tercatat sejumlah nama yang pernah menduduki kursi menteri. Yang pertama adalah Manuel Kaisiepo yang menjadi Menteri Daerah Tertinggal di era Presiden Megawati. Ia putra Papua dari Pulau Biak. Ayahnya pernah menjadi Gubernur Papua yang waktu itu masih bernama Provinsi Irian Jaya. Di LP3ES ia menjadi redaktur Majalah Prisma.

Lalu ada pula mantan staf LP3ES lain yang pernah menjadi menteri. Mereka adalah Adrinof Chaniago (mantan Menteri Perencanaan Pembangunan/Ketua Bappenas), Ferry Mursyidan Baldan (Menteri Pertanahan dan Agraria) dan Rizal Ramli (Menko Kemaritiman).

Lembaga ini dipenuhi tokoh-tokoh pemikir yang sangat berpengaruh di Indonesia: Ismid Hadad, M Dawam Rahardjo, Daniel Dhakidae, Aswab Mahasin, Amir Karamoy. Lalu ada pula: Soedjatmoko, Taufik Abdullah, Nono Anwar Makarim, S. B. Judono, Dorodjatun Kuntjara-Jakti, Arief Budiman, Adnan Bujung Nasution, Harlan Bekti, Jusuf Jonodipuro, Sjahrir, Abdullah Sjarwani, Manuel Kaisiepo, Rustam Ibrahim, Imam Ahmad, Ison Basuni dan lain-lain.

Belakangan, saya juga “melihat” Ignas Kleden, Abdurrahman Wahid, Ong Hok Ham, Farhan Bulkin, Ismed Natsir dan Djohan Effendi serta Vedi Hadiz.

Dia yang tidak tahu sejarah adalah laksana selembar daun yang tidak menyadari bahwa dia hanyalah bagian dari sebatang ranting pada sebuah dahan dari sebuah pohon.

Ungkapan ini tampaknya yang menjadi landasan pemikiran mengapa pada perayaan hari ulang tahun ke-49 ini, LP3ES menghadirkan pendiri LP3ES, Ismid Hadad dan tokoh senior yang juga merupakan intelektual terkemuka Indonesia, Fachry Ali. Keduanya memberikan orasi tentang sejarah kelahiran LP3ES pada 1971, konteks ekonomi politik yang melatarbelakangi kelahirannya, mengisahkan perjalanan peran think tank ini selama Orde Baru dan mencoba merumuskan peran yang tepat untuk hari ini.

Fachry memulai orasinya dengan satu pertanyaan menarik: siapakah tokoh-tokoh yang menghidupi, atau dalam istilah Fachry Ali disebut sebagai konstituen, LP3ES? Mereka adalah metropolitan super sctructur yaitu sekelompok anak muda yang terpelajar, menguasai bahasa asing, mobile dan ingin memberi jarak pada masa lalu.

LP3ES berisi orang-orang muda yang jengah dengan otoriterisme Sukarno dan kebijakannya yang menyebabkan inflasi ekonomi. Sekelompok anak muda ini adalah juga unsur-unsur dari Masyumi dan PSI yang waktu itu diberangus oleh Sukarno. Maka pada mulanya, suasana kebatinan yang melatarbelakangi kelahiran LP3ES adalah perlawanan dan kritik terhadap rezim kekuasaan pada masa itu.

Lebih lanjut Fachry juga menyebut tokoh-tokoh LP3ES sebagai modernizing intellectual yaitu kelompok intelektual yang mau melakukan modernisasi dan melakukan pembangunan. Di sini ada Sumitro, Widjojo Nitisastro dan Emil Salim yang memberikan fondasi bagi kelahiran Orde Baru.

Pada mulanya LP3ES memang mesra dengan Orde Baru. Intelektual LP3ES memberikan blue print bagi ideologi pembangunan Orde Baru. Ide-ide pembangunan ini terefleksi dari topik-topik Prisma, jurnal terbitan LP3ES, yang menjadi kiblat intelektual Indonesia.

Namun seiring waktu, ternyata Orde Baru terbukti berubah menjadi otoriter terutama pada tahun 1980-an dan mulai memberangus kelompok kritis, media dan menggusur kaum miskin demi pembangunan. Sejak saat itu LP3ES berbalik mengambil posisi kritis kepada Orde Baru. Hal ini lagi-lagi terefleksi pada terbitan Prisma pada waktu itu yang mulai menyorot topik-topik yang membela kaum terpinggirkan.

Berangkat dari semua masa lalu itu, maka spirit LP3ES sejak awal adalah: melawan otoriterisme, mewujudkan demokrasi, menciptakan kesejahteraan ekonomi. Itu adalah ruh yang menghidupi LP3ES dulu dan harus tetap di jaga hari ini.

Dalam konteks politik dewasa ini, bagi Fachry Ali, musuh besarnya adalah melawan oligarki yaitu kelompok yang menjadi kelas kapitalis dan penguasa pada masa Orde Baru sebagai kapitalis bentukan negara (state induced capitalism). Merekalah yang telah membajak demokrasi dan bertanggung jawab bagi bobroknya peradaban politik kita hari ini. Ini adalah tugas kesejarahan yang jauh lebih berat yang menjadi tantangan bagi generasi muda LP3ES hari ini.

Ismid Hadad yang datang belakangan memberikan narasinya yang melengkapi Fachry. Jika Fachry bertutur lebih sebagai pengamat, maka Ismid bertutur sepenuhnya sebagai “insider” yang melahirkan dan menjadi legenda hidup Lembaga ini dan masih berada di LP3ES hingga hari ini.

Dia menuturkan bahwa ide mendirikan organisasi LP3ES adalah lebih karena pemikiran sebagai aktivis. Bukan pemikiran filsuf. Karena masa Sukarno tidak ada kebebasan. Ekonomi memburuk. Sukarno diktator. Ismid dan kawan-kawannya menginginkan perubahan.

Melengkapi Fachry, Ismid kembali menerangkan peran LP3ES dalam pembangunan pada masa awal Orde Baru yang melahirkan istilah “Mafia Berkeley”.

Demikian intisari orasi Fachry Ali dan Ismid Hadad yang bisa dibaca sebagai pengantar makalah Fachry Ali yang panjang.

Wijayanto
Direktur Center for Media and Democracy LP3ES

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Menhan Sjafrie-Dubes Maroko Bahas Penguatan Kerja Sama Pertahanan Indonesia

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:11

Kompensasi Uang Bau TPST Bantar Gebang Molor

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:01

DJP: Sistem Sudah Siap Pungut Pajak Pedagang Online Mulai 1 Juli

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:25

GMNI Dorong Efisiensi APBN Berorientasi Kesejahteraan

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:12

CBA Ancam Laporkan KPK ke Dewas soal Suap Impor Bea Cukai

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:00

Der Panzer Rontok, Bangsa yang Pernah Hampir Punah Justru Melaju

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:34

Erling Haaland Bawa Norwegia Tantang Brasil

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:22

Ini Alasan Upacara Hari Bhayangkara Digelar di Satlat Brimob Polri Cikeas

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:00

Sanksi Partai Tak Bisa Gantikan Proses Hukum Kasus Dokter Icha

Rabu, 01 Juli 2026 | 01:41

Selengkapnya