Berita

Pembeli makanan beku/Net

Dunia

Penemuan Virus Corona Dalam Makanan Beku Makin Marak, Ahli: Jangan Dikesampingkan

JUMAT, 14 AGUSTUS 2020 | 10:23 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) selama ini meremehkan risiko penularan virus corona dalam rantai makanan. Namun, para ahli menyebut, penemuan virus corona dalam makanan tidak boleh dikesampingkan.

Baru-baru ini, dua kota di China menemukan jejak virus corona dalam kargo makanan beku impor.

Otoritas Kota Shenzhen pada Kamis (13/80 mengungkap, permukaan daging sayap ayam beku yang diimpor dari Brasil telah terkontaminasi dengan SARS-CoV-2, atau virus corona baru.


Otoritas Shenzhen mengidentifikasi daging sayap ayam tersebut berasal dari pabrik milik Aurora, eksportir unggas dan babi terbesar ketiga di Brasil, mengutip CNA.

Pihak Aurora sendiri mengatakan belum mendapatkan pemberitahuan secara resmi dari otoritas China mengenai adanya dugaan kontaminasi. Namun perusahaan menegaskan akan mengambil semua tindakan untuk mencegah penyebaran virus.

Pihak berwenang di Shenzhen sendiri saat ini tengah melacak dan menguji semua orang yang mungkin sudah melakukan kontak dengan produk makanan yang terkontaminasi tersebut. Hasilnya semua negatif.

“Sulit untuk mengatakan pada tahap mana ayam beku itu terinfeksi,” kata seorang pejabat eksportir daging Brasil yang berbasis di China.

Selain itu, kota di bagian barat laut, Xian, juga melaporkan adanya virus corona pada sampel kemasan luar dari udang beku yang diimpor dari Ekuador.

Komisi kesehatan provinsi Shaanxi, tempat kota Xian berada, mengatakan pihak berwenang sedang menguji orang-orang dan lingkungan sekitarnya yang terkait dengan produk udang yang terkontaminasi, yang dijual di pasar lokal.

Sejak pertengahan Juni, China telah menangguhkan beberapa impor daging dari beberapa tempat seusai menyaring semua wadah daging dan makanan laut yang masuk ke pelabuhan utama dalam beberapa bulan terakhir.

Tujuh pabrik pengolahan daging Argentina untuk sementara tidak mengekspor ke China karena mereka telah mendaftarkan kasus Covid-19 di antara karyawan mereka.

China sendiri menjadi sangat sensitif dengan pencegahan untuk mengurangi risiko infeksi dari daging dan makanan laut impor lantaran wabah di sana dikaitkan dengan pasar makanan.

Bukan hanya di China, penyelidikan mengenai penyebaran virus corona lewat makanan juga dilakukan di Selandia Baru. Di mana negara tersebut baru mendapatkan kasus pertamanya setelah tiga bulan melaporkan nol kasus Covid-19.

Infeksi di Selandia Baru kali ini melibatkan empat anggota keluarga. Salah satu di antaranya bekerja di perusahaan impor makanan beku.

Kondisi ini membuat kekhawatiran akan kemungkinan penyebaran virus corona melalui rantai makanan semakin tinggi. Terlebih, virus tersebut dpaat bertahan selama dua tahun pada suhu minus 20 derajat Celcius.  

Menanggapi situasi tersebut, Kepala Laboratorium Mikrobiologi di Pusat Pengkajian Risiko Keamanan Pangan Nasional China, Li Fengqin mengatakan, kemungkinan makanan beku yang terkontaminasi yang menyebabkan infeksi baru tidak dapat dikesampingkan.

Pasar makanan laut Wuhan menjadi sumber wabah pertama di China. Selain, pasar Xinfadi, pasar makanan yang luas di Beijing, yang terkait dengan sekelompok infeksi pada Juni.

Kendati begitu, Kepala Program Darurat WHO, Mike Ryan justru berkata sebaliknya.

“Orang tidak boleh takut akan makanan, kemasan makanan, atau pengiriman makanan,” ujarnya mengesampingkan risiko penularan dari rantai makanan.

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Serentak di Tiga Lokasi, KPK Periksa Pegawai Kemenag dan Bos Travel

Jumat, 17 April 2026 | 14:16

Waspadai Phishing dan Malware, BNI Tekankan Keamanan BNIdirect

Jumat, 17 April 2026 | 14:15

Bitcoin Stabil di Level 74.900 Dolar AS

Jumat, 17 April 2026 | 14:11

Ekonomi Jatim Tumbuh 5,33 Persen di 2025, Didongkrak Sektor Manufaktur

Jumat, 17 April 2026 | 14:05

KPK Periksa Direktur Kepatuhan Bank Papua dalam Kasus Korupsi Dana Operasional Papua

Jumat, 17 April 2026 | 14:01

Rekrutmen Manajer Kopdes Tak Boleh Ada Titipan

Jumat, 17 April 2026 | 13:50

Kasus Chat Cabul Mahasiswa Merebak di IPB, DPR Minta Kampus Bertindak Tegas

Jumat, 17 April 2026 | 13:41

Penahanan Harga BBM Non-Subsidi Dikhawatirkan Ganggu Kesehatan Fiskal

Jumat, 17 April 2026 | 13:39

PPIH Ujung Tombak Keberhasilan Penyelenggaraan Haji

Jumat, 17 April 2026 | 13:31

KPK Temukan Dapur MBG Tak Layak, Kasus Keracunan Jadi Alarm Serius

Jumat, 17 April 2026 | 13:22

Selengkapnya