Berita

Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, Robert O'Brien/Net

Dunia

Penasihat Gedung Putih: China Berupaya Retas Situs Pemilu AS Demi Gulingkan Trump

SENIN, 10 AGUSTUS 2020 | 08:37 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

China semakin aktif menargetkan infrastruktur pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) yang akan diselenggarakan pada 3 November 2020.

Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, Robert O'Brien pada Minggu (9/8) mengatakan, para peretas yang memiliki keterkaitan dengan pemerintah China sudah melakukan upaya infiltrasi terhadap sistem pemilu AS.

Pernyataan O'Brien tersebut cukup mengejutkan lantaran melebihi laporan dari Kantor Direktur Intelijen Nasional (ODNI) yang dirilis pada Jumat (7/8). Di sana hanya dijelaskan, China berusaha untuk memperluas pengaruhnya dalam pemilu AS, tanpa secara khusus mengaitkan dengan upaya peretasan.


"Mereka ingin presiden kalah," ujar O'Brien dalam suatu wawancara, mengutip South China Morning Post.

"Mereka telah terlibat dalam serangan dan penipuan dunia maya, hal-hal semacam itu, sehubungan dengan infrastruktur pemilu kami, sehubungan dengan situs web dan semacamnya," tambahnya.

O'Brien mengungkap, para peretas mencoba menyusup ke situs web milik kantor Departemen Luar Negeri di seluruh negeri yang bertanggung jawab untuk menyelenggarakan pemilihan di tingkat lokal dan mengumpulkan data mengenai orang Amerika.

"Ini adalah masalah yang nyata dan bukan hanya Rusia," kata O'Brien.

"Akan ada konsekuensi berat bagi negara mana pun yang mencoba untuk ikut campur dalam pemilu yang bebas dan adil," tekannya.

Hingga saat ini, baik Dewan Keamanan Nasional maupun ODNI enggan memberikan komentar atau mengklarifikasi komentar O'Brien.

Sementara itu, China telah berulang kali menolak klaim AS terkait campur tangan Beijing dalam pemilu dan upaya peretasan.

"Pemilihan presiden AS adalah urusan internal, kami tidak tertarik untuk ikut campur di dalamnya," ujar jurubicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang pada April.

Dari berbagai tinjauan badan intelijen AS, campur tangan asing kerap muncul dalam pemilihan. Pada 2016, Rusia diduga melakukan intervensi untuk meningkatkan peluang kemenangan Presiden Donald Trump dan melemahkan saingannya, Hilary Clinton.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

AKPI Perkuat Profesionalisme dan Integritas Profesi

Senin, 13 April 2026 | 19:51

KNPI: Pemuda Harus Jadi Penyejuk di Tengah Isu Pemakzulan

Senin, 13 April 2026 | 19:50

14 Kajati Diganti, Termasuk Sumut dan Jatim

Senin, 13 April 2026 | 19:31

Cara Buat SKCK Online lewat SuperApps Presisi Polri, Mudah dan Praktis!

Senin, 13 April 2026 | 19:17

Bersiap Long Weekend, Ini Daftar 10 Tanggal Merah di Bulan Mei 2026

Senin, 13 April 2026 | 19:16

Viral Dokumen Kerja Sama Udara RI-AS, Okta Kumala: Kedaulatan Negara Prioritas

Senin, 13 April 2026 | 19:14

Daftar Hari Libur Nasional Mei 2026, Ada 3 Long Weekend

Senin, 13 April 2026 | 19:07

Ajudan Gubernur Riau Terima Fee Proyek Rp1,4 Miliar

Senin, 13 April 2026 | 19:02

4 Penyakit yang Harus Diwaspadai saaat Musim Pancaroba

Senin, 13 April 2026 | 18:57

Ongen Sentil Pengkritik Prabowo: Jangan Sok Paling ‘98’

Senin, 13 April 2026 | 18:52

Selengkapnya