Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Mengejawantahkan Empan Papan Secara Empan Papan

KAMIS, 06 AGUSTUS 2020 | 09:08 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

DARI sekian banyak falsafah atau pedoman hidup Jawa yang saya warisi dari orangtua saya adalah empan papan yang terkesan sederhana namun mengandung keluasan dan kedalaman makna luar biasa paripurna.

Tafsir Makna


Satu di antara sekian banyak tafsir atas makna empan papan adalah “menempatkan diri sesuai tempat atau situasi dan kondisi yang tepat”.


Pada hakikatnya empan papan merupakan suatu bentuk pedoman membawa diri  dalam kehidupan sosial mulai dari rumah tangga, ekonomi, marketing, pendidikan, politik sampai agama.

Di dalam wilayah pemikiran Barat, empan papan lebih berfungsi sebagai das Sollen ketimbang das Sein.

Secara andaikatamologis, empan papan mampu memiliki peran dan fungsi sangat penting dalam ilmu sejarah (what if) maupun dalam mitologi yang lebih kerap menampilkan keteladanan buruk sebagai dystopia ketimbang utopia.

Contoh

Misalnya dalam Mahabharata, andaikata Kurawa mau dan mampu bersikap empan papan, maka tidak ada malapetaka Bharatayudha.

Andaikata Yudistira mau dan mampu bersikap empan papan, sehingga tidak lupa daratan ketika berjudi melawan Sengkuni sampai tega mempertaruhkan empat saudara bahkan istrinya, maka Drupadi tidak perlu bersumpah akan kramas dengan darah Dursasana yang kemudian diwujudkan oleh Bima.

Andaikata Rahwana versi India mau dan mampu bersikap empan papan untuk tidak menculik Shita, maka Rama dan laskar wanaranya tidak perlu menyerbu Alengkadiraja.

Andaikata Loki mau dan mampu bersikap empan papan demi menahan diri untuk tidak merebut tahta Asgard dari Odin yang ingin mewariskannya ke Thor, maka prahara Ragnarok tidak akan terjadi.

Andaikata Paris empan papan tidak memilih Venus sebagai dewi tercantik, maka Perang Troja tidak akan terjadi menumpaskan bangsa Troya.

Andaikata Adolf Hitler mau dan mampu bersikap empan papan untuk tidak melampiaskan angkara murka memperluas Lebensraum  dan membersihkan ras Arya, maka tidak ada Perang Dunia II yang membinasakan jutaan umat manusia.

Andaikata Josef Stalin mau dan mampu bersikap empan papan demi menahan diri mengumbar kerakusan kekuasaan dirinya sendiri, maka Russia tidak perlu mengalami masa kegelapan dalam lembaran sejarah dunia.

Andaikata Mao Zedong empan papan, maka tidak terjadi Revolusi Kebudayaan yang menyengsarakan bahkan membinasakan entah berapa warga Republik Rakyat China yang sampai kini belum diketahui kebenaran jumlahnya.

Indonesia


Sebenarnya andaikatamologi empan papan dapat dilanjutkan sampai ke Indonesia masa kini. Namun demi tidak melukai perasaan pihak-pihak tertentu mau pun demi keselamatan diri saya sendiri, lebih bijak apabila saya bersikap empan papan, yaitu â€œmenempatkan diri sesuai dengan tempat atau situasi dan kondisi yang tepat”.

Maka lebih bijak bagi kepentingan bersama, secara ojo dumeh dan jihad-al-nafs  saya menahan diri untuk  tidak gegabah secara terbuka mengungkap praktek pengabaian makna adiluhur yang terkandung di dalam falsafah empan papan sebagai pedoman hidup yang arif bijaksana.

Bagi yang tetap ingin mengetahui bahwa pengabaian empan papan terjadi atau tidak terjadi di Tanah Air Udara tercinta ini maka silakan cermati apa yang sedang terjadi di panggung politik kekuasaan di sekeliling diri kita masing-masing.

Namun sebelum mengungkapkan hasil pengamatan masing-masing sebaiknya kita semua berupaya menghayati kemudian mematuhi sebuah makna komunikasi antar manusia yang terkandung di dalam empan mapan yaitu tidak semua yang benar perlu diungkapkan namun apabila memang dianggap perlu diungkapkan sebaiknya secara benar.

Penulis adalah pembelajar pemikiran Jawa

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Kasus OTT Pemalang: Anggota Polri yang Bertugas di KPK Jadi Tersangka

Kamis, 30 Juli 2026 | 10:29

UPDATE

Kejagung Pede Hadapi Febrie di Sidang Praperadilan

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 02:27

Gebrakan PAM Jaya Tekan Kebocoran Air Diapresiasi

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 02:19

FEB UNJ Dukung Pariwisata Berkelanjutan di Bali Lewat Pengabdian Masyarakat

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 02:01

Danantara Investasi Rp44 Triliun di JBS Group

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 02:01

Anggota PWI Jakbar Laporkan Oknum Polisi ke Propam Polda Metro, Ini Sebabnya

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 01:47

Bawaslu Campus Connect Jadi Solusi Tantangan Digital di Pemilu

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 01:28

Publik Curiga UGM Melindungi Dugaan Ijazah Palsu Jokowi

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 01:17

Febrie Adriansyah Siap Buka-bukaan di Sidang Praperadilan

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 01:02

Gedung Bapenda DKI Kebakaran

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 00:32

Pemerintah Diultimatum 15 Hari Terbitkan PP Cukai MBDK

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 00:13

Selengkapnya