Berita

Peta sebaran Covid-19 di Lampung/Net

Publika

Lampung Diantara Pandemi Dan Pertumbuhan Ekonomi

KAMIS, 06 AGUSTUS 2020 | 07:19 WIB

AGUSTUS  ini, Lampung sudah enam bulan mengalami dampak pandemi Covid-19. Enam bulan yang penuh dengan kekhawatiran dan pesimisme baik pada penanganan penyebaran pandemi maupun pada upaya meminimalisir dampak sosial-ekonominya.

Rilis data rasio swab test Kementerian Kesehatan minggu lalu, seperti menyibak kabut pertanyaan yang selama ini menggelayuti benak penulis tentang rendahnya angka penderita yang terkonfirmasi secara resmi melalui swab test di Lampung. Sementara, provinsi-provinsi yang mengapitnya seperti Sumatera Selatan, Jawa Barat dan Banten jauh lebih tinggi.

Menurut rilis data Kemenkes, jangankan masuk dalam kelompok 12 provinsi yang rasio swab test nya sudah memenuhi standar minimal badan kesehatan dunia (WHO), mendekati 5% pun Lampung belum. Sangat jauh dibandingkan 12 provinsi lainnya, apalagi dibandingkan dengan DKI Jakarta. Pengujian masif dan pelacakan agresif yang sudah berkali-kali dicanangkan oleh Presiden Jokowi sejak bulan Mei lalu seperti tidak diindahkan oleh Gubernur Lampung.


Alih-alih melakukan pengujian masif dan pelacakan agresif seperti yang dilakukan oleh Gubernur Anies, Emil, Ganjar, Khofifah, Deru dll, Gubernur Arinal sepertinya belum tergerak untuk memanfaatkan dana APBD yang tersedia untuk itu. Padahal dana yang tersedia berlimpah, hasil dari refocusing dan realokasi APBD Provinsi sesuai instruksi Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri beberapa bulan yang lalu.

Sesaat publik di Lampung sempat merasa ikut bangga ketika mendengar berita Pemprov Lampung mendapatkan penghargaan dari Kementerian Dalam Negeri untuk desain penanganan pandemi di masa New Normal. Belakangan penghargaan itu terasa hambar karena ternyata hanya sekedar kompetisi membuat video dan tak lama kemudian pemerintah pusat sendiri menyatakan penggunaan diksi “New Normal” tidak tepat dan direvisi.

Dari pernyataan-pernyataan Gubernur Anies, Gubernur Deru dan gubernur-gubernur lainnya tentang pengujian massif dan pelacakan agresif, tampak jelas mereka memilih jalan itu demi mendapatkan peta yang lebih jelas agar lebih mampu mengantisipasi dan mengisolasi penyebaran pandemi di wilayah mereka. Walaupun konsekuensinya secara eksponensial angka penderita yang terkonfirmasi terus bertambah. Mereka semua menghindari kenyamanan sesaat dan kegembiraan semu yang ditampilkan oleh data rendahnya angka penderita terkonfirmasi.

Penulis dan mungkin juga publik di Lampung masih berharap dan menunggu ada penjelasan detail dari Gubernur terkait rendahnya rasio swab test ini. Apakah itu sebuah pilihan sadar untuk menghindari ketidakmampuan penanganan penderita terkonfirmasi yang akan melonjak drastis jika pengujian massif dan pelacakan agresif dilakukan? Atau karena ketiadaan anggaran? Atau karena ada pertimbangan lainnya? Keputusan yang menjadi pilihan Gubernur sendiri atau memang sudah menjadi kesepakatan bersama beliau bersama DPRD dan Forkopimda lainnya?

Jika di daerah-daerah lain kita bisa membaca betapa rewel dan kritisnya DPRD setempat mencermati dan mengomentari langkah-langkah eksekutif menangani pandemi, sikap yang sama tidak kita saksikan di Lampung. Anggota parlemen seperti enggan dan malas bahkan untuk sekedar berkomentar.

Padahal mereka tentu mengetahui secara persis bahwa refocusing dan realokasi APBD telah mengorbankan begitu banyak hajat publik terkait pembangunan infrastruktur fisik terutama jalan, jembatan, fasilitas pendidikan dasar dan fasilitas kesehatan yang kondisinya sudah membutuhkan perbaikan dan peningkatan.

Di sisi lain, BPS Lampung baru saja merilis data baru terkait angka pertumbuhan ekonomi Lampung selama Quarter (kwartal) II tahun 2020 untuk kurun waktu April-Juni, melengkapi rilis soal Nilai Tukar Petani (NTP) dan neraca perdagangan yang dirilis setiap bulannya. Ada optimisme yang tumbuh walaupun baru seperti seberkas cahaya dalam kegelapan, perlahan angka-angka statistik ekonomi sudah mulai beranjak naik.

NTP Lampung per Juli berada di angka 92,99. Walaupun masih di bawah angka rata-rata nasional yang sebesar 100,09 setidaknya sudah mulai tumbuh, kita berharap peningkatan itu dirasakan langsung juga oleh para petani Lampung. Bahwa masih jauh dari kondisi ideal seperti tahun-tahun sebelumnya paling tidak sudah mulai membaik.

Kita harus bersyukur angka pertumbuhan ekonomi Lampung di kwartal II ini sebesar (minus) -3,57% tidak lagi berada di bawah rata-rata nasional sebesar (minus) -5,32% walaupun masih berada di bawah rata-rata Sumatera sebesar (minus) -3,01%.

Di Sumatera posisi Lampung sudah sedikit membaik dari peringkat ke-8 pada kwartal I (Januari-Maret) naik ke peringkat 7 pada kwartal II (April-Juni). Semoga pada kwartal III (Juli-September) angka pertumbuhan dapat dientaskan dari zona negatif agar tidak mengalami konstraksi dan resesi. Jangan terlalu ambisius dulu ingin buru-buru kembali ke posisi terhormat menjadi juara dan runner up di Sumatera seperti tahun-tahun sebelumnya.

Penulis meyakini bahwa penanganan pandemi dan pemulihan ekonomi adalah dua hal yang berkaitan erat satu sama lain. Sepintas dua hal itu seperti trade off yang memaksa pemangku kebijakan memilih salah satu di antara keduanya dengan mengorbankan pilihan lainnya. Tetapi tentu selalu ada jalan tengah yang bisa ditempuh, memulihkan kondisi sosial ekonomi tanpa harus meresikokan kesehatan dan keselamatan publik. Jangan sampai kita terus menghindari pengujian massif dan pelacakan agresif sementara pertumbuhan ekonomi juga tidak kunjung tumbuh dan meledak secara eksponensial.

Ikhtiar itu sudah barang tentu bukanlah pekerjaan yang mudah tetapi juga bukan berarti mustahil. Diperlukan kualitas kepemimpinan yang mampu membangun solidaritas dan menumbuhkan optimisme baru mulai dari lembaga pemerintah, dunia usaha, lembaga sosial kemasyarakatan sampai ke unit terkecil di tingkat keluarga.

Kepercayaan (trust) dan harapan (hope) hanya bisa ditularkan oleh pemimpin daerah jika bersedia membuang jauh arogansi personal dan menekan ego kelembagaan yang melekat pada jabatan yang diemban. Pendekatan yang lebih egaliter dan ramah akan jauh lebih efektif dalam kondisi prihatin seperti yang kita alami saat ini ketimbang terus menerus mengumbar amarah dan mengambil posisi defensif setiap membaca kritik dan pendapat publik. Wallahu’alam.

Nizwar Affandi
Penulis adalah Pengamat Pembangunan Daerah

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Pakar HTN Sambut Baik Putusan MK Perkuat Kedudukan Hasil Audit BPK

Selasa, 21 April 2026 | 18:18

Refly Harun soal Info P21 Kasus Ijazah Jokowi: Itu Ngarang!

Selasa, 21 April 2026 | 18:17

Efek Domino MBG, Pendapatan Petani Naik 60 Persen

Selasa, 21 April 2026 | 18:13

Hadiah Hari Kartini: Pengesahan UU PPRT Lindungi Pahlawan Domestik

Selasa, 21 April 2026 | 18:04

Staf PBNU Mangkir dari Panggilan, KPK Siap Jadwal Ulang

Selasa, 21 April 2026 | 17:52

RUU PPRT Disahkan DPR Bukti Perempuan Hadir di Parlemen

Selasa, 21 April 2026 | 17:43

Peringati Hari Kartini, KPP: Perempuan Harus Aktif dari Suara ke Aksi

Selasa, 21 April 2026 | 17:42

Huawei Rilis Pura 90 Series, Ini Spesifikasi, Fitur Kamera, dan Harganya

Selasa, 21 April 2026 | 17:16

Staf Orang Kepercayaan Maidi Dicecar KPK soal Penampungan Dana CSR

Selasa, 21 April 2026 | 17:13

13 WNI Jadi Korban Kebakaran 1.000 Rumah Apung di Malaysia

Selasa, 21 April 2026 | 17:10

Selengkapnya